Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Houthi Memukul, Saudi Babak Belur, Dibalik Eskalasi yang Mengguncang Istana Riyadh

Tuesday, October 27, 2026 | October 27, 2026 WIB Last Updated 2026-10-27T00:53:07Z



Oleh. Titien Khadijah
Muslimah Peduli Umat

Nusantaranews.net, masih basah luka akibat berbagai peperangan di dunia IsIam, kini kaum muslimin menyaksikan pertumpahan darah di antara mereka, serangan kelompok Houthi di bandara internasional King Khalid Riyadh Arab Saudi, betapa menyedihkan jika kaum Muslim saling mengarahkan senjatanya, sementara mereka membiarkan musuh-musuh IsIam melakukan penindasan terhadap saudara-saudara mereka di tempat lain seperti di Palestina.

Eskalasi Oktober 2026 ini adalah yang terparah sejak gencatan senjata 2022. Dalam dua pekan terakhir, Houthi melancarkan lebih dari 20 serangan terkoordinasi ke jantung Arab Saudi King Khalid Internasional Airport di Riyadh lumpuh total setelah dihantam rudal balistik dan drone, 13 - 17 orang tewas dan lebih 300 orang terluka, terminal bandara hancur dan bandara ditutup sampai sampai tanggal 17 Oktober. Ini serangan paling mematikan di wilayah Arab Saudi dalam satu dekade terakhir.

Tidak hanya bandara, Houthi memperluas target ke urat nadi ekonomi Arab Saudi, markas besar Aramco di Dhahran, kilang Aramco di Riyadh, ladang Syaybah hingga bandara Abha, Jazan dan Najran menjadi sasaran serangan di Syaybah, bahkan menewaskan  dua pekerja asing. Houthi secara terbuka menyatakan bandara dan fasilitas minyak adalah target militer yang sah.

Saudi babak belur di depan dunia, Amerika Serikat sampai memerintahkan pemulangan staf non-esensial dari kedutaannya  di Arab Saudi pada 21 Oktober 2026, karena ancaman drone dan rudal Future Investment Initiative (FII) ajang kebanggaan MBS untuk menarik investor yang seharusnya digelar 26 Oktober di Riyadh, terpaksa ditunda hingga 2027, karena CEO bank-bank besar seperti HP Morgan dan Citi grup takut terbang ke Arab Saudi.

Koalisi Arab Saudi mengakui kewalahan menghadapi serangan Houthi, juru bicara Koalisi Turki Al-Maliki menyebut Houthi kini memiliki teknologi canggih-rudal balistik, drone kamikaze, cruise Missale, hingga perahu cepat bermuatan bom yang didapat dengan bantuan aktor regional. Koalisi mengklaim menghancurkan 127 gudang senjata Houthi, tapi faktanya intersepsi terus bocor.

Arab Saudi panik cari bantuan, Inggris mengerahkan jet tempur typhoon untuk misi pertahanan udara di atas kota-kota Arab Saudi. Perancis mengirim aset pertahanan, lebih dari100 penasehat Amerika Serikat dikerahkan untuk bantuan intelegent. Pakistan sudah menempatkan pasukan, Mesir menggelar sidang darurat Parlemen untuk mengirim bantuan, plus Turki, Pakistan dan Saudi mengaktifkan fakta pertahanan bersama Mekkah joint Defense Agreement. Ironi Arab Saudi dengan tingkat belanja militer terbesar ketiga di dunia ini, untuk menghadapi gempuran kaum Houthi harus minta bantuan sana-sini.

Houthi tidak mundur selangkah pun, setelah Koalisi mengklaim mencegat drone di atas Madinah. Juru bicara militer Houthi Yahya Shar-E justru membantah dan menegaskan, peringatan mereka tetap berlaku: ruang udara dan bandara Arab Saudi tidak aman, kecuali "Mekkah dan Madinah". Mereka berjanji akan terus memukul selama Arab Saudi mendukung ofensif pemerintah Yaman di pesisir Laut Merah.

Analisis Dibalik Eskalasi

Mengapa Houthi yang dianggap milisi gunung bisa memukul negara G20 babak belur? Karena perang ini asimetris, Arab Saudi mengandalkan sistem pertahanan mahal ratusan miliar yang dirancang untuk jet tempur, bukan untuk kawanan drone murah seharga 10 ribu dolar yang terbang rendah dan bergerombol, inilah kejatuhannya strategi keamanan yang bergantung pada teknologi Barat.

Eskalasi ini bukan berdiri sendiri tapi efek domino perang besar Amerika Serikat - Israel vs Iran sejak Februari 2026. Houthi adalah bagian dari Axis of Resistance, ketika Yaman kembali memanas setelah pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan ofensif besar, Houthi membalas serangan langsung ke jantung Arab Saudi untuk membuka front baru dan menaikkan harga minyak sebagai tekanan politik global.

Secara kalkulasi militer, sebenarnya kekuatan perang  Saudi mengungguli Houthi, kerajaan minyak rajin membeli senjata-terbaru dari sekutunya Amerika Serikat. Namun, mengapa pasukan perang Arah Saudi tidak bisa mengimbangi atau bahkan melumpuhkan serangan Houthi? Ada dua alasan untuk itu, pertama militer Saudi tidak punya mentalitas berperang yang militan seperti pasukan Houthi, hal ini diungkapkan pakar Universitas Princeton, Benar Haykel, *Arab Saudi harus membangun militer yang bersedia berperang dan penduduk yang bersedia mati untuk mempertahankan apa yang mereka miliki.*

Hal ini karena kerajaan sengaja menempatkan militer mereka dalam struktur yang lemah, kekuatan militer Kerajaan Arab Saudi sengaja dibatasi dan terfragmentasi untuk mencegah kudeta, fenomena yang umum terjadi di kawasan tersebut. Rey Takeyh, pakar Timur Tengah mencatat bahwa monarki Saudi tetap bertahan karena mereka menjaga militer tetap lemah secara struktural.

Kedua, Amerika Serikat yang menjadi andalan Arab Saudi sebagai penjaga keamanan kawasan, justru menolak ikut campur dalam konflik Saudi-Houthi. Situasi di Teluk semakin karut marut, negara-negara imprealis, terutama Amerika Serikat bermain cantik menciptakan instabilitas di kawasan tersebut, menciptakan sesama umat muslim saling menumpahkan darah.

Hentikan paradigma Nation-state yang menjadikan Yaman dan Saudi sebagai musuh abadi. Permusuhan ini lahir dari sekat nasionalisme dan perebutan pengaruh, bukan dari Islam. Selama umat terpecah dalam 57 negara bangsa yang masing-masing loyal pada sponsor asingnya, maka Yaman akan terus menjadi ladang perang proksi Iran vs Amerika Serikat-Arab Saudi. Solusinya adalah persatuan politik hakiki di bawah kepemimpinan islam yang satu.

Para penguasa dunia Islam seperti boneka yang tidak berpikir makar kaum imprealis. Mereka juga tidak belajar dari pengalaman sesama para penghianat, bahwa kesetiaan mereka bisa dikhianati kapan saja oleh Barat, seperti yang terjadi dalam krisis Teluk saat ini. Bagaimana Amerika Serikat menggunakan froksi yang mereka punya, baik Saudi maupun Houthi untuk menjaga kepentingan mereka.

Solusi tuntas hanya  dengan penerapan syariat Islam secara kafah. Sejarah telah mengukir di saat kejayaan Islam menguasai dua pertiga dunia, mampu menghentikan perang saudara, menyatukan suku-suku Yaman dan Hijaz dalam satu komando, dan melindungi darah kaum Muslimin. Sudah saatnya dunia Islam bersatu di bawah naungan daulah, membangun kekuatan sendiri untuk menyelamatkan dunia IsIam, lalu dengan kekuatan itu merontokkan dominasi Barat dan sekutunya mereka. Tenggelamlah kebatilan dan terbitlah kebenaran, janji Allah itu pasti.

Wallahualam bissawab.
×
Berita Terbaru Update