Oleh Rukmini
Pegiat Litetasi
Nusantaranews.net, Setiap Rabiul Awal tiba, masjid-masjid ramai. Shalawat menggema, tabligh akbar digelar, pawai bersahut-sahutan. Umat Islam seakan berlomba menampakkan cinta kepada Rasulullah saw.
Namun setelah itu? Langit kembali kelabu. Sistem jahiliyah tetap berjalan. Hukum Allah masih dikesampingkan. Umat masih terjajah oleh demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme.
Maulid yang Tereduksi
Tidak bisa dipungkiri, setiap tahun umat Islam merayakan Maulid dengan meriah. Pembacaan shalawat, tabligh akbar, bahkan pawai di jalanan menjadi pemandangan biasa. Namun, substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional saja.
Pembahasan tentang ittiba' kepada Nabi saw. pada momentum Maulid juga masih dibatasi pada keteladanan akhlak: jujur, amanah, penyayang. Padahal keteladanan akhlak adalah bagian kecil dari risalah yang beliau bawa.
Padahal yang paling urgen belum disentuh: kesadaran untuk mengubah sistem jahiliyah. Sistem yang menjadikan manusia menghamba kepada dunia dan hawa nafsu, menuju sistem Islam yang menjadikan penghambaan hanya kepada Allah SWT semata.
Padahal tuntutan perubahan itu sendiri sebenarnya sudah muncul di kalangan umat Islam. Rakyat sudah lelah dengan kemiskinan, ketidakadilan, dan kemaksiatan yang dilegalkan negara. Namun, arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah Saw. Kita tahu tujuannya, tapi tidak tahu jalannya. rri.co.id, Sabtu (22/08/2026)
Cinta Tanpa Konsekuensi Ideologis
Inilah masalah utamanya. Maulid telah tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Kita menangis saat mendengar sirah Nabi Saw, tapi tidak menangis saat melihat hukum Allah dicampakkan. Kita bershalawat ribuan kali, tapi tidak mau memperjuangkan syariat yang beliau perjuangkan.
Padahal cinta kepada Rasulullah saw. harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 31: "Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Ittiba’ artinya mengikuti. Mengikuti akhlaknya, iya. Mengikuti ibadahnya, iya. Tapi juga mengikuti perjuangannya: bagaimana beliau menegakkan Daulah Islam di Madinah.
Umat hari ini kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik. Ia tidak hanya terjadi di level individu. Ia dilembagakan oleh negara melalui demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme.
Demokrasi menjadikan suara manusia sebagai sumber hukum, bukan wahyu. Kapitalisme menjadikan materi dan keuntungan sebagai orientasi hidup. Liberalisme menjadikan kebebasan individu tanpa batas sebagai nilai tertinggi. Ketiganya menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi hidup, bukan rida Allah.
Lebih bahaya lagi, sistem kapitalis-sekuler ini tidak akan tinggal diam. Demi mempertahankan eksistensinya, ia akan terus berusaha menghalangi suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem. Ia akan melabeli, memojokkan, bahkan menekan siapa saja yang menyuarakan penerapan syariat secara kaffah. Karena ia tahu, jika Islam tegak, maka sistem batilnya akan runtuh.
Kembali kepada Metode Perjuangan Nabi saw.
Jika kita benar-benar ingin meneladani Nabi saw. di bulan Maulid ini, maka kita harus mengembalikan makna ittiba' yang sesungguhnya. Ittiba’ bukan sekadar ritual. Ittiba’ adalah keterikatan pada syariat dan pada metode perjuangan Nabi saw.
Bagaimana metode itu? Sejarah mencatat, Rasulullah saw. tidak langsung mengambil kekuasaan di Makkah. Beliau menempuh tiga tahapan dakwah yang sistematis:
Pertama: Marhalah Tatsqif - Pembinaan dan Pencerahan.
Di tahap ini, Nabi saw. membangun individu-individu yang memiliki kesadaran Islam. Beliau mengajarkan akidah, tsaqafah Islam, dan membentuk keyakinan bahwa hanya syariat Allah yang layak diterapkan. Tanpa individu yang sadar, tidak mungkin ada perubahan. Ini ibarat mencetak kader-kader yang siap berjuang.
Kedua: Marhalah Tafa’ul Ma’al Ummah - Berinteraksi dengan Umat.
Setelah memiliki basis kader, Nabi saw. mulai berinteraksi dengan umat. Beliau mengkritik sistem jahiliyah Quraisy, membongkar kebatilannya, dan menawarkan Islam sebagai solusi. Beliau tidak hanya ceramah, tapi juga membangun opini umum bahwa sistem yang ada harus diganti. Di tahap ini, umat mulai terbelah: ada yang menerima, ada yang menolak.
Ketiga: Marhalah Istilamul Hukmi - Penerimaan Kekuasaan.
Ini adalah tahap puncak. Ketika opini umum sudah terbentuk dan dukungan umat sudah ada, maka dilanjutkan dengan penerimaan kekuasaan dari ahlun nusrah. Di Madinah, kekuasaan itu diberikan oleh kaum Anshar. Dengan kekuasaan itulah syariat diterapkan secara menyeluruh. Negara berdiri, hukum Allah ditegakkan, dan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana dalam QS. Al-Anbiya ayat:107 "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
Tiga tahapan ini adalah metode yang dicontohkan Rasulullah saw. Ia bukan metode revolusi berdarah, bukan pula metode demokrasi yang menukar hukum Allah dengan suara terbanyak. Ia adalah metode dakwah politik: membangun kesadaran, membangun opini, lalu mengambil kekuasaan untuk menerapkan syariat.
Karena itu, di tengah sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan di negeri-negeri Muslim saat ini, kewajiban umat Islam adalah memperjuangkan penerapan syariat kaffah melalui kepemimpinan Islam, yaitu khilafah. Bukan dengan cara tambal-sulam, bukan dengan cara masuk ke dalam sistem batil, tetapi dengan metode Rasulullah saw.
Wahai umat Islam, Maulid bukan hanya tentang mengenang. Maulid adalah tentang meneladani.
Jika kita mengaku cinta kepada Nabi saw., maka buktikan dengan mengikuti metode perjuangan beliau. Jangan berhenti di shalawat. Jangan berhenti di majelis. Lanjutkan pada perjuangan untuk mengubah sistem jahiliyah menjadi sistem Islam.
Karena Islam tidak akan tegak hanya dengan doa. Islam tegak dengan dakwah dan perjuangan. Islam tegak ketika ada negara yang menjaganya. Dan Islam akan benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam ketika syariatnya diterapkan secara kaffah di bawah naungan khilafah.
Itulah Maulid yang sesungguhnya. Momentum untuk kembali kepada metode Nabi saw.
Wallahu a'lam bish-shawab.
