Oleh Ummu Shabira
Muslimah Bdg.
Menurut survei data global, yang dilansir di berbagai media sosial menunjukkan bahwa Generasi Z dan Milenial ( Deloitte Gen Z) yang awalnya sekitar 30 persen merasa hidupnya tidak aman dan cemas secara finansial, kemudian jumlahnya naik menjadi 40 persen. Di tengah himpitan biaya hidup yang tinggi, seperti mahalnya biaya kebutuhan dasar dan hunian, sementara pekerjaan yang didapat dengan gaji bulanan yang stagnan, mereka tidak bisa memiliki tabungan. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran akan masa depan yang tidak pasti. Apalagi dengan krisis global dan inflasi yang masih terjadi, membuat masa depan mereka sulit diprediksi.
Dampaknya, generasi muda memilih untuk hidup hemat ( frugal living), demi rasa aman karena stres dengan masalah finansial yang akan mengganggu pikiran dan mengakibatkan sulit tidur. Mereka pun memilih untuk menunda pernikahan dan menunda untuk punya anak, atau bahkan ada juga yang memilih child free.
Namun demikian, walaupun menghadapi masalah finansial, Gen- Z masih tinggi dalam pembelanjaan untuk healing, self-reward dan gaya hidup hedonis lainnya, apalagi dibombardir oleh budaya konsumtif yang berseliweran di dunia nyata dan dunia maya, justru terus semakin meningkat.
Itulah gambaran kehidupan masyarakat dalam sistem Kapitalisme, yang telah memperparah himpitan finansial Gen Z dengan gaya hidup sekuler- liberal (pemisahan agama dari kehidupan) yang mengarah pada budaya hidup hedonis, karena dilandaskan pada tolak ukur kebahagiaan hidup hanya pada kepuasan jasmani ( materi ) semata.Kesalahan mendasar dari generasi kita, Kesalahan dalam memaknai tujuan hidup yang hakiki akibat pola pikir sekular, menjadikan mereka terombang-ambing dalam menjalani kehidupan.
Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT, tentu harus memahami bahwa keberadaan dia di dunia adalah untuk menjalankan ibadah (ketaatan) kepada Allah, semata untuk meraih keridhoan - Nya. Allah SWT, berfirman:
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia ,melainkan agar mereka beribadah kepada kepada- Ku." ( TQS.Adz-Dzariat - 56)
Dalam ayat di atas, menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan sekedar untuk mengejar materi, popularitas, dan kesenangan dunia saja.Kebahagiaan yang sebenarnya bukan dinilai apakah mampu membeli semua keinginan, melainkan dinilai dari ketaatan kepada Allah SWT.
Dengan paradigma ini, self-reward tidak lagi menjadi pusat kehidupan, healing juga bukan sekedar pelarian emosional. Kehidupan dunia dipahami hanya sebatas tempat menjalankan amanah sebagai hamba Allah bukan sebagai fasilitas untuk memuaskan keinginan. Negara akan memastikan hal ini, dengan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, sehingga mampu untuk memenuhi semua kebutuhan dasar dan primernya secara layak. Melalui skema pengelolaan harta kepemilikan umum (salah satunya SDA) oleh negara yang hasilnya untuk kemaslahatan rakyat, jaminan pemenuhan kebutuhan rakyat ini dapat dipenuhi, mulai dari pendidikan, pelayanan kesehatan, dan keamanan, secara gratis.
Negara pun akan menyediakan lapangan kerja seluas luasnya bagi setiap laki-laki yang yang sudah berkeluarga, terutama rakyat usia produktif (generasi muda). Melalui penyelenggaraan pendidikan yang bertujuan membentuk kepribadian Islam pada peserta didik, generasi muda hadir sebagai generasi pengisi dan pemimpin peradaban Islam, dengan misi untuk meninggikan kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Keberadaan teknologi modern, semisal dunia digital, hanyalah sarana untuk mempercepat misi tersebut, sehingga
generasi muda tidak menjadi korban teknologi, tapi sebagai pengendali teknologi yang berlandaskan kepada ketakwaan.
Hal tersebut diperkuat dengan ketakwaan masyarakat yang senantiasa menghidupkan amar makruf nahi mungkar (saling menasihati), sehingga mencegah maraknya kemaksiatan. Dan keberadaan negara sebagai penerap sistem Islam kaffah (yang komprehensif), selain sebagai pengurus ( Raa'in) juga sebagai penjaga rakyat dalam berbagai hal, mulai dari penjaga akidah, akal, kehormatan, kepemilikan, nyawa, dan sebagainya , sehingga akan mencegah rakyat, termasuk generasi muda, dari diperbudak oleh materi.
Wallahu'alam bisowwab
