Oleh Amelia Ayu Permatasari S S.Psi
Aktivis Dakwah
Nusantaranews.net, Setiap tahun,
umat Islam menyambut Maulid Nabi Muhammad saw. dengan penuh suka cita. Shalawat
dilantunkan, tabligh akbar digelar, kisah perjalanan Rasulullah saw. disampaikan, bahkan di sejumlah daerah peringatan Maulid diwarnai pawai dan
berbagai kegiatan sosial. Semua itu menjadi ekspresi kecintaan umat kepada
manusia mulia yang membawa risalah Islam.
Namun, ada
pertanyaan penting yang layak direnungkan: apakah kecintaan kepada Rasulullah saw. cukup berhenti pada perayaan, shalawat, dan penghayatan emosional? Ataukah
Maulid semestinya menjadi momentum untuk kembali memahami risalah sekaligus
meneladan metode perjuangan beliau dalam mengubah kehidupan manusia?
Pertanyaan ini
penting karena pembahasan tentang ittiba’ kepada Rasulullah saw. pada
momentum Maulid sering kali terbatas pada keteladanan akhlak individual. Umat
diajak meneladan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan kelembutan
beliau. Semua itu tentu benar dan sangat penting. Akan tetapi, keteladanan
Rasulullah saw. tidak hanya berada pada wilayah akhlak personal. Beliau juga
merupakan pemimpin umat yang membawa perubahan mendasar dari masyarakat
jahiliah menuju kehidupan yang tunduk kepada Allah Swt.
Cinta yang Harus Melahirkan Ittiba’
Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika
kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni
dosa-dosamu.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)
Ayat tersebut
menunjukkan bahwa cinta tidak cukup diucapkan. Cinta kepada Rasulullah saw. harus dibuktikan dengan ittiba’, yakni mengikuti apa yang beliau bawa
dan contohkan.
Karena itu,
Maulid semestinya tidak berhenti sebagai ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi
terhadap kehidupan. Mencintai Rasulullah saw. berarti mencintai risalah yang
beliau bawa, meyakini kebenarannya, serta berusaha menjadikan Islam sebagai
pedoman kehidupan.
Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah secara individual. Beliau
membangun masyarakat yang menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan. Beliau
mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan, membebaskan manusia dari
berbagai bentuk penghambaan kepada sesama manusia, harta, kekuasaan, dan hawa
nafsu menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt.
Di sinilah
makna Maulid perlu diperluas. Umat perlu menyadari bahwa persoalan yang
dihadapi hari ini bukan semata-mata persoalan moral individu, melainkan juga
persoalan sistem kehidupan.
Ketika Penghambaan Berlangsung Secara Sistemik
Islam
mengajarkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Namun,
realitas kehidupan modern memperlihatkan bahwa orientasi manusia sering kali
ditentukan oleh kepentingan materi, keuntungan, kebebasan tanpa batas, dan
kesenangan duniawi.
Kapitalisme
menempatkan kepentingan materi dan keuntungan sebagai orientasi penting dalam
pengelolaan kehidupan. Liberalisme mengedepankan kebebasan individu sebagai
nilai yang dominan. Sementara demokrasi menempatkan kedaulatan manusia dalam
proses legislasi. Dalam perspektif Islam, kondisi semacam ini perlu dikritisi
karena hukum kehidupan semestinya dikembalikan kepada ketundukan kepada Allah
Swt.
Akibatnya,
berbagai persoalan umat tidak kunjung selesai hanya dengan perubahan individu.
Kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kerusakan moral, eksploitasi sumber daya alam,
hingga berbagai persoalan sosial memiliki keterkaitan dengan paradigma dan
sistem yang digunakan dalam mengatur masyarakat.
Maka, ketika
umat mulai menyuarakan perubahan, persoalan berikutnya adalah: perubahan menuju
apa dan dengan metode apa?
Tuntutan
perubahan tanpa arah yang jelas dapat berujung pada pergantian penguasa,
kebijakan, atau figur, sementara sistem dasarnya tetap sama. Padahal,
Rasulullah saw memberikan contoh bahwa perubahan masyarakat membutuhkan
pemikiran yang jelas sekaligus metode perjuangan yang terarah.
Meneladan Metode Perjuangan Rasulullah saw
Rasulullah saw. menghadapi masyarakat Makkah yang diliputi berbagai bentuk penyimpangan akidah
dan kehidupan. Beliau tidak melakukan perubahan secara instan. Dakwah beliau
berlangsung melalui proses pembinaan dan perjuangan yang sistematis.
Tahap pertama
adalah tatsqif, yakni pembinaan individu dengan pemikiran dan pemahaman
Islam. Rasulullah saw membina para sahabat dengan akidah Islam yang kokoh
sehingga lahir pribadi-pribadi yang memiliki kepribadian Islam dan siap
memperjuangkan risalah.
Tahap kedua
adalah tafa’ul ma’al ummah, yaitu berinteraksi dengan masyarakat. Islam
tidak berhenti menjadi pemahaman pribadi, tetapi disampaikan kepada masyarakat
sehingga terjadi kesadaran kolektif terhadap berbagai persoalan dan pentingnya
perubahan berdasarkan Islam.
Tahap ketiga
adalah istilamul hukmi, yakni penerimaan kekuasaan untuk menerapkan
Islam dalam kehidupan. Rasulullah saw kemudian memperoleh dukungan dari
masyarakat Madinah dan membangun pemerintahan Islam di sana. Dengan kekuasaan
tersebut, Islam tidak hanya menjadi ajaran individual, tetapi diterapkan dalam
berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Metode tersebut
menunjukkan bahwa perjuangan Rasulullah saw. bukanlah perjuangan yang
berorientasi pada kekerasan ataupun sekadar pergantian figur. Ia merupakan
perjuangan dakwah dan perubahan masyarakat yang berangkat dari akidah,
pembinaan umat, interaksi dengan masyarakat, hingga penerapan Islam dalam
kehidupan.
Maulid sebagai Momentum Kebangkitan
Karena itu,
Maulid Nabi saw. semestinya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali
kesadaran umat terhadap risalah beliau secara utuh. Shalawat dan kecintaan
kepada Rasulullah saw. tentu merupakan kebaikan, tetapi jangan sampai berhenti
sebagai seremoni tahunan.
Umat perlu
bertanya lebih jauh: sudahkah kita mengikuti risalah beliau? Sudahkah kita
memahami bagaimana beliau membina umat? Sudahkah kita menjadikan Islam sebagai
solusi kehidupan, bukan sekadar ajaran ritual?
Jika cinta
kepada Rasulullah saw benar-benar hidup dalam diri umat, cinta itu semestinya
mendorong kesungguhan untuk mengikuti sunnah dan metode perjuangan beliau dalam
konteks yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Islam hadir bukan
hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga membawa
rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus engkau
(Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya
[21]: 107)
Maka, Maulid
bukan sekadar tentang mengenang kelahiran seorang Nabi. Ia adalah momentum
untuk mengenang risalah, memahami perjuangan, dan meneguhkan komitmen mengikuti
jalan yang beliau contohkan.
Sudah saatnya Maulid tidak hanya
menggugah air mata dan memperbanyak shalawat, tetapi juga menggugah kesadaran
umat. Sebab, kecintaan sejati kepada Rasulullah saw. bukan hanya ketika nama
beliau disebut, melainkan ketika risalahnya diikuti dan perjuangannya dijadikan
teladan. Dengan demikian, Maulid dapat menjadi momentum bagi umat untuk kembali
menjadikan Islam sebagai jalan kehidupan dan menghadirkan rahmat bagi seluruh
alam.
