Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maulid Bukan Sekadar Seremoni: Meneladan Metode Perjuangan Rasulullah saw.

Wednesday, September 02, 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T06:42:52Z



Oleh Amelia Ayu Permatasari S S.Psi

Aktivis Dakwah

 

Nusantaranews.net, Setiap tahun, umat Islam menyambut Maulid Nabi Muhammad saw. dengan penuh suka cita. Shalawat dilantunkan, tabligh akbar digelar, kisah perjalanan Rasulullah saw. disampaikan, bahkan di sejumlah daerah peringatan Maulid diwarnai pawai dan berbagai kegiatan sosial. Semua itu menjadi ekspresi kecintaan umat kepada manusia mulia yang membawa risalah Islam.

Namun, ada pertanyaan penting yang layak direnungkan: apakah kecintaan kepada Rasulullah saw. cukup berhenti pada perayaan, shalawat, dan penghayatan emosional? Ataukah Maulid semestinya menjadi momentum untuk kembali memahami risalah sekaligus meneladan metode perjuangan beliau dalam mengubah kehidupan manusia?

Pertanyaan ini penting karena pembahasan tentang ittiba’ kepada Rasulullah saw. pada momentum Maulid sering kali terbatas pada keteladanan akhlak individual. Umat diajak meneladan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan kelembutan beliau. Semua itu tentu benar dan sangat penting. Akan tetapi, keteladanan Rasulullah saw. tidak hanya berada pada wilayah akhlak personal. Beliau juga merupakan pemimpin umat yang membawa perubahan mendasar dari masyarakat jahiliah menuju kehidupan yang tunduk kepada Allah Swt.

Cinta yang Harus Melahirkan Ittiba’

Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa cinta tidak cukup diucapkan. Cinta kepada Rasulullah saw. harus dibuktikan dengan ittiba’, yakni mengikuti apa yang beliau bawa dan contohkan.

Karena itu, Maulid semestinya tidak berhenti sebagai ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi terhadap kehidupan. Mencintai Rasulullah saw. berarti mencintai risalah yang beliau bawa, meyakini kebenarannya, serta berusaha menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan.

Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah secara individual. Beliau membangun masyarakat yang menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan. Beliau mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan, membebaskan manusia dari berbagai bentuk penghambaan kepada sesama manusia, harta, kekuasaan, dan hawa nafsu menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt.

Di sinilah makna Maulid perlu diperluas. Umat perlu menyadari bahwa persoalan yang dihadapi hari ini bukan semata-mata persoalan moral individu, melainkan juga persoalan sistem kehidupan.

Ketika Penghambaan Berlangsung Secara Sistemik

Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Namun, realitas kehidupan modern memperlihatkan bahwa orientasi manusia sering kali ditentukan oleh kepentingan materi, keuntungan, kebebasan tanpa batas, dan kesenangan duniawi.

Kapitalisme menempatkan kepentingan materi dan keuntungan sebagai orientasi penting dalam pengelolaan kehidupan. Liberalisme mengedepankan kebebasan individu sebagai nilai yang dominan. Sementara demokrasi menempatkan kedaulatan manusia dalam proses legislasi. Dalam perspektif Islam, kondisi semacam ini perlu dikritisi karena hukum kehidupan semestinya dikembalikan kepada ketundukan kepada Allah Swt.

Akibatnya, berbagai persoalan umat tidak kunjung selesai hanya dengan perubahan individu. Kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kerusakan moral, eksploitasi sumber daya alam, hingga berbagai persoalan sosial memiliki keterkaitan dengan paradigma dan sistem yang digunakan dalam mengatur masyarakat.

Maka, ketika umat mulai menyuarakan perubahan, persoalan berikutnya adalah: perubahan menuju apa dan dengan metode apa?

Tuntutan perubahan tanpa arah yang jelas dapat berujung pada pergantian penguasa, kebijakan, atau figur, sementara sistem dasarnya tetap sama. Padahal, Rasulullah saw memberikan contoh bahwa perubahan masyarakat membutuhkan pemikiran yang jelas sekaligus metode perjuangan yang terarah.

Meneladan Metode Perjuangan Rasulullah saw

Rasulullah saw. menghadapi masyarakat Makkah yang diliputi berbagai bentuk penyimpangan akidah dan kehidupan. Beliau tidak melakukan perubahan secara instan. Dakwah beliau berlangsung melalui proses pembinaan dan perjuangan yang sistematis.

Tahap pertama adalah tatsqif, yakni pembinaan individu dengan pemikiran dan pemahaman Islam. Rasulullah saw membina para sahabat dengan akidah Islam yang kokoh sehingga lahir pribadi-pribadi yang memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan risalah.

Tahap kedua adalah tafa’ul ma’al ummah, yaitu berinteraksi dengan masyarakat. Islam tidak berhenti menjadi pemahaman pribadi, tetapi disampaikan kepada masyarakat sehingga terjadi kesadaran kolektif terhadap berbagai persoalan dan pentingnya perubahan berdasarkan Islam.

Tahap ketiga adalah istilamul hukmi, yakni penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan. Rasulullah saw kemudian memperoleh dukungan dari masyarakat Madinah dan membangun pemerintahan Islam di sana. Dengan kekuasaan tersebut, Islam tidak hanya menjadi ajaran individual, tetapi diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Metode tersebut menunjukkan bahwa perjuangan Rasulullah saw. bukanlah perjuangan yang berorientasi pada kekerasan ataupun sekadar pergantian figur. Ia merupakan perjuangan dakwah dan perubahan masyarakat yang berangkat dari akidah, pembinaan umat, interaksi dengan masyarakat, hingga penerapan Islam dalam kehidupan.

Maulid sebagai Momentum Kebangkitan

Karena itu, Maulid Nabi saw. semestinya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran umat terhadap risalah beliau secara utuh. Shalawat dan kecintaan kepada Rasulullah saw. tentu merupakan kebaikan, tetapi jangan sampai berhenti sebagai seremoni tahunan.

Umat perlu bertanya lebih jauh: sudahkah kita mengikuti risalah beliau? Sudahkah kita memahami bagaimana beliau membina umat? Sudahkah kita menjadikan Islam sebagai solusi kehidupan, bukan sekadar ajaran ritual?

Jika cinta kepada Rasulullah saw benar-benar hidup dalam diri umat, cinta itu semestinya mendorong kesungguhan untuk mengikuti sunnah dan metode perjuangan beliau dalam konteks yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Islam hadir bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga membawa rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107)

Maka, Maulid bukan sekadar tentang mengenang kelahiran seorang Nabi. Ia adalah momentum untuk mengenang risalah, memahami perjuangan, dan meneguhkan komitmen mengikuti jalan yang beliau contohkan.

Sudah saatnya Maulid tidak hanya menggugah air mata dan memperbanyak shalawat, tetapi juga menggugah kesadaran umat. Sebab, kecintaan sejati kepada Rasulullah saw. bukan hanya ketika nama beliau disebut, melainkan ketika risalahnya diikuti dan perjuangannya dijadikan teladan. Dengan demikian, Maulid dapat menjadi momentum bagi umat untuk kembali menjadikan Islam sebagai jalan kehidupan dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.

 


×
Berita Terbaru Update