Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukti Kecintaan Kepada Rasulullah saw. dengan Meneladani Risalahnya

Wednesday, September 02, 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T06:42:30Z




Rosita
Pegiat Literasi

Gema Selawat Kebangsaan adalah salah satu agenda untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diadakan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis M. Hanafi, mengatakan bahwa Gema Selawat Kebangsaan dirancang sebagai ruang bersama untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan bermasyarakat. Ia juga menegaskan bahwa cinta tidak cukup pada lautan selawat, cinta harus berlanjut menjadi keteladanan dengan menghadirkan akhlak Rasulullah saw dalam kehidupan, seperti kasih sayang, persaudaraan, kepedulian, dan kecintaan kepada tanah air. (SindoNews, 23/08/2026)

Maulid Nabi adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad saw. Beliau dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah, Senin 12 rabiulawal pada pagi hari di permulaan tahun dari peristiwa gajah atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M. Setiap tahun Maulid Nabi diperingati oleh kaum muslim untuk meneguhkan rasa cinta kepada beliau, serta meneladani akhlak dan ajaran mulia dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sangat disayangkan jika keteladanan kita kepada Rasulullah saw. hanya dicukupkan sebatas akhlak, padahal beliau bukan hanya seorang pemimpin agama, melainkan juga seorang politisi ulung dan kepala negara yang tangguh.

Ketika kaum muslim cinta kepada Rasulullah saw. seharusnya hal itu mampu melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa. Bagaimana Rasulullah dalam membangun peradaban yang gemilang, menghilangkan kejahiliahan dengan menanamkan dan memperkuat akidah umat ketika di Makkah dan juga  mendirikan Daulah Islam di Madinah. Akan tetapi, sangat disayangkan umat saat ini kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah Swt. masih berlangsung secara sistemik, dengan keyakinan bahwa hukum buatan manusia (jahiliah) lebih baik daripada syariat Islam.

Sistem jahiliah yakni sekuler kapitalis yang memisahkan aturan agama dari kehidupan sangat bertentangan dengan aturan Islam. Para penjaga sistem kapitalis akan melakukan berbagai cara demi mempertahankan eksistensinya termasuk menghalangi umat Islam dari persatuan dan kebangkitan umat yakni dengan mengubur sejarah Islam secara dalam. Umat lupa bahwa Rasulullah saw. itu sebagai politikus yang ulung, sehingga meyakini bahwa Islam itu hanya sebatas agama ritual semata atau ibadah mahdhah saja. Inilah salah satu keberhasilan dari sistem sekuler kapitalis menjauhkan umat dari syariat-Nya.

Sistem sekuler kapitalis mengagungkan kebebasan baik dalam bertingkah laku dan berpikir. Padahal sebagai seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah saw. sudah menjadi kewajiban untuk terikat dengan hukum syarak dan beritibak kepada Rasulullah saw. dalam perjuangan beliau sebagaimana firman Allah taala: "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (TQS Ali-Imran ayat 31) 

Ayat di atas sangat jelas menyatakan bahwa cinta itu butuh pembuktian yang kuat. Bagaimana mungkin mengaku mencintai Allah setiap saat, sedangkan amal perbuatannya selalu bertentangan dengan firman-Nya dan juga bertentangan dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Pengakuan cinta seperti itu adalah palsu dan dusta. Rasulullah bersabda:
"Siapa melakukan perbuatan tidak berdasarkan perintah kami, maka perbuatan itu ditolak." (Riwayat al-Bukhari). 

Hadis ini memperjelas bahwa setiap amal perbuatan kita harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. bukan hanya dalam segi akhlak saja tetapi dalam berpolitik juga. Adapun metode perjuangan Rasulullah ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah): tatsqif, tafa'ul ma'al ummah, dan istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). Pertama, tahapan tatsqif atau pembinaan dan pengkaderan (marhalah at tatsqif), yang dilaksanakan untuk membentuk dan memperkuat akidah umat saat itu di Makkah. Kedua, tahapan tafa'ul ma'al ummah yakni berinteraksi dengan umat (marhalah tafa'ul ma'a al ummah), yang dilaksanakan agar umat turut memikul kewajiban dakwah Islam, hingga umat menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan. Ketiga, tahapan istilamul hukmi atau penerimaan kekuasaan  yang dilaksanakan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia, awal Rasulullah mendirikan Daulah Islam di Madinah dan akhirnya menyebar hingga ke penjuru dunia. 

Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka kita sebagai muslim wajib untuk meninggalkan sistem kapitalis sekuler dan menggantinya dengan sistem Islam, yakni dengan terus memperjuangkan penerapan syariat secara kafah melalui kepemimpinan yang satu, yaitu sistem pemerintahan Khilafah yang telah dicontohkan oleh Khulafaurasidin, Abasiah, Umaiyah, dan Usmaniyah.

Wallahualam bissawab.
×
Berita Terbaru Update