Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bangunan SD Rusak, Tapi Kenapa yang Dibangun KOPDES?

Wednesday, September 09, 2026 | September 09, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T04:31:18Z

Oleh. Tesya Ridal, S.T.

Nusantaranews.net, KOPDES atau koperasi desa sudah terlihat berdiri kokoh di tempat-tempat terpencil. Namun, ironisnya, yang saya saksikan, bangunan-bangunan tersebut sering kali terlihat tertutup tanpa aktivitas. Hanya bangunan baru ala KOPDES Merah Putih yang terlihat dari luar. Sebaliknya, bangunan SD yang merupakan kebutuhan generasi penerus justru kondisinya memprihatinkan.

Dikutip dari Kompas.com, 24 Agustus 2026, dengan judul “Bangunan SDN 1 Parung Banteng Purwakarta Rusak, Orang Tua Khawatir Keselamatan Anak", bahwa kondisi bangunan SDN 1 Parung Banteng yang berada di Kampung Cigorowek, Desa Parung Banteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi perhatian orang tua murid. Sejumlah bagian bangunan terlihat mengalami kerusakan.

Kondisi ini tentu miris. Pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi. Belum lagi, bangunan sekolah yang rusak jelas dapat membahayakan keselamatan murid dan para guru yang beraktivitas di dalamnya. Di tengah kondisi tersebut, budaya korupsi yang menyengsarakan rakyat seolah dibiarkan begitu saja. Seolah negeri ini telah "nyaman" dengan berbagai kerusakan yang terjadi, tanpa mengetahui bagaimana cara memperbaikinya.

Sistem kapitalis-sekuler saat ini tidak akan mampu menciptakan keadilan yang hakiki.
Sebab, landasan yang digunakan adalah sekularisme, yaitu memisahkan agama  (read: Islam) dari kehidupan. Akibatnya, kebijakan-kebijakan yang lahir pun tidak berlandaskan aturan Islam.

Di dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan rakyat yang wajib disediakan oleh negara. Keamanan dan keselamatan para siswa yang menuntut ilmu pun menjadi sesuatu yang diperhatikan oleh khalifah atau pemimpin negara Islam.

Jika bangunan sekolah roboh dan membahayakan rakyat, seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah. Kesadaran dan rasa takut kepada Allah inilah yang tidak menjadi landasan dalam sistem sekuler dan kapitalis.

Dalam sistem Islam, keselamatan masyarakat merupakan sesuatu yang sangat utama. Seorang pemimpin akan takut jika rakyatnya terzalimi selama masa kepemimpinannya. Bahkan, keselamatan hewan pun menjadi perhatian karena Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Ketika menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khaththab pernah bertutur:

“Seandainya seekor keledai terperosok di sungai di kota Baghdad, niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawaban dan ditanya, ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?"

Begitulah sedikit gambaran tentang bagaimana sistem Islam dalam naungan khilafah menempatkan tanggung jawab seorang pemimpin. Para pemimpin lahir dari akidah Islam dan keimanan kepada hari akhir, sehingga memiliki rasa takut kepada Allah dalam menjalankan amanah. Rasa takut tersebut  mendorong seorang pemimpin untuk tidak melakukan korupsi, tidak membebani rakyat dengan pajak, dan tidak membiarkan anak-anak menuntut ilmu di bangunan sekolah yang membahayakan keselamatan mereka.

Wallahu a'lam bish-shawab.
×
Berita Terbaru Update