Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Karhutla Meraja, Ibu Pertiwi Merana

Thursday, October 22, 2026 | October 22, 2026 WIB Last Updated 2026-10-22T01:56:38Z



Oleh Santika

Pejuang Syariah

 

Ibu pertiwi sedang merana, melihat negeri tercinta dilanda Karhutla. Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang terjadi sejak Bulan Mei 2026 di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Kalimantan dan Sulawesi, belum juga kunjung padam sampai sekarang.  

Karhutla bukan saja menimbulkan kerugian materi, bahkan juga menimbulkan dampak yang sangat membahayakan, mulai dari terganggunya aktifitas masyarakat karena buruknya kualitas udara, juga memunculkan resiko gangguan kesehatan, terutama bagi mereka yang sudah memiliki penyakit bawaan seperti asma.

Asap karhutla juga mengganggu kesehatan bayi-bayi dan lansia yang menjadi kelompok rentan terhadap dampak Karhutla. Bahkan ada beberapa orang yang sampai kehilangan nyawa, seperti kasus pengemudi ojek online (ojol) bernama Hardiansyah (41) yang merupakan warga Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas pada Jumat (2/10/2026). Istrinya menyebutkan almarhum memiliki riwayat asma yang kondisinya semakin menurun karena kabut asap semakin tebal. Sumber regional.kompas.com

Tercatat wilayah Kalimantan, palembang, dan Sulawesi memiliki indeks pencemaran udara yang sangat berbahaya. Kalimantan Tengah (palangka raya), Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 1.300 (dengan polutan utama PM2,5), Indeks bahaya. Di Pontianak (Kalimantan Barat), Indeks Standar Pencemaran (ISPU), sempat menembus level ekstrem hingga 1.368 akibat kabut asap tebal. Di Palembang (Sumatera Selatan dan sekitarnya) dilaporkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 282, dengan katagori tidak sehat, karena kabut asap kiriman Karhutla, sehingga mengganggu penerbangan di sejumlah bandara.

Karhutla Terjadi kembali

Bencana Karhutla bukan kali ini terjadi, setiap adanya Karhutla rakyatlah yang menanggung rugi. Bencana ini sebetulnya bukan karena faktor iklim atau cuaca seperti fenomena El Nino dan kemarau panjang tetapi  juga ada campur tangan manusia, yaitu adanya Pembukaan lahan gambut dengan cara membakar hutan dengan prinsip ekonomi. Dengan membakar lahan lebih efesiensi biaya.

Ironisnya, di tengah kebakaran hutan  beredar video amatir penanaman bibit sawit oleh berapa oknum yang tak dikenal. Ini adalah dampak dari industri sawit yang dipuji oleh negara sebagai tanaman ajaib yang menghasilkan keuntungan dengan pruduk turunan.   Lalu timbullah pertanyaan kenapa bencana ini acap kali terjadi? Padahal penyebabnya sudah diketahui. Dengan kata lain, akar permasalahan Karhutla adalah paradigma kekuasaan yang merajai  menjadi landasan tata kelola nengeri ini. Tidak ada keseriusan dalam penanganan Karhutla oleh para penguasa, di saat nafas rakyat tersengal-sengal, mereka sibuk menyelamatkan kursi politik dan kepentingan ekonominya.  Nyawa rakyat melayang akibat karhutla tidak lagi dilirik. Hanya uraian angka – angka, laporan demi laporan tanpa ada keseriusan penanganan. Berbeda tingkat keseriusannya jika mereka sedang  sibuk menyelamatkan kursi kekuasaan di negeri ironi ini.

Sistem kapitalis-sekuler yang digunakan untuk tata kelola hutan di negeri ini akhirnya membawa petaka, baik petaka jiwa maupun kemaslahatan. Dalam sistem ini penguasa bekerjasama dengan pengusaha hanya sebagai regulator, yang memiliki konsep segala akibat yang ditimbulkan oleh karhutla hanyalah kajian ulang dalam kertas-kertas laporan.  Ketika harus dibenturkan dengan kepentingan ekonomi demi banyaknya keuntungan para pemilik modal.

Maka pantaslah dalam sistem kapitalis-sekular hanya muncul angka-angka dampak karhutla, bukan muncul solusi nyata yang dapat menyelamatkan negeri dan nyawa manusia. Hal ini masih diperparah lagi dengan tidak adanya sanksi hukum yang tegas terhadap para pelaku pembakaran hutan, sehingga membuat para pelaku tidak jera.

Dalam sistem yang diterapkan saat ini, konsep yang digunakan para penguasa bukan lagi tentang halal dan haram, tetapi sebuah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga para penguasa bukan melayani urusan rakyat, tetapi memikirkan bagaimana melayani para pemilik modal yang dapat menguntungkan pundi-pundi harta pribadinya.

 

Bagaimana Konsep dalam Islam?

Berbeda dengan konsep dalam sistem Islam. Islam sebagai sebuah ideologi memiliki konsep yang jelas dalam berbagai permasalahan kehidupan. Termasuk permasalahan karhutla dan permasalahan kesehatan yang menjadi dampaknya. Kesehatan adalah kebutuhan dasar  bagi setiap rakyat, dimana rakyat memiliki hak pelayanan kesehatan apalagi dalam kondisi darurat Karhutla.

Dalam Sistem Islam penguasa adalah Ra’in dan Junnah bagi rakyatnya sebagaimnaa sabda Nabi saw.:

 كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»"

Setiap kalian adalah pemimpin (ra’in), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sehingga setiap pemimpin itu akan memaksimalkan tugas dan kewajibannya sebagai seorang penguasa. Ditambah lagi dengan ketegasan seorang penguasa terhadap sangsi dan hukuman bagi para pelanggar, termasuk pelanggaran dalam masalah hutan.

Dalam Islam kepemilikan dibagi menjadi tiga:

1. Kepemilikan pribadi (Al milkiyah – Al Fardiyah), seperti: rumah tinggal dan kendaraan. Semua individu bebas memilikinya sesuai dengan ketentuan syariat.

2. Kepemilikan Umum (Al Milkiyah Al Ammah), seperti: air, padang rumput (hutan) dan api (barang tambang dan migas). Kepemilikan umum ini merupakan milik rakyat dan harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat. Haram hukumnya dimilki oleh individu atau pengusaha.

3. Kepemilikan negara (Al Milkiyah Al Dawlah), yaitu terdiri atas: lahan negara dari hasil jizyah, kharaz atau pendapatan dari aset-aset negara. Maka atas dasar kepemilikan inilah maka hutan seharusnya dikelola oleh rakyat dan negara secara bersama demi kepentingan rakyatnya. Bukan seperti sekarang yang menjadi milik para penguasa atau pengusaha, sehingga keuntungannya hanya untuk individu atau pribadi semata.

Maka pantaslah kalau Karhutla dari tahun ke tahun tetap menjadi PR yang tak kunjung usai. Maka saat ini selayaknya kita mengembalikan pengelolaan SDA di negeri ini dengan kembali ke dalam sistem Islam yang telah jelas dan nyata mampu menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan.

Wallahualam bissawab.

 

 


×
Berita Terbaru Update