Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Apakah Linguistik Dapat Dikatakan Sebagai Ilmu?

Thursday, December 14, 2023 | December 14, 2023 WIB Last Updated 2023-12-14T11:21:59Z


Oleh : Safinatunnajah 


Menurut Ralph Ross dan Enesrst van Den Haag (Harsojo, 1977), ciri-ciri ilmu adalah memiliki sifat rasional, empiris, umum (dapat digunakan oleh siapapun), serta akumulatif (dapat dijadikan sebagai objek penelitian berikutnya) (landasan pendidikan, tim penyusunmata kkuliah landasan Pendidikan). Sebelum menggali lebih jauh mengenai apakah linguistik dapat dikatakan sebagai ilmu atau tidak, ada baiknya kita mengetahui definisi dari linguistik itu sendiri.  Dalam buku linguistik umum karya seorang ahli bahasa , yaitu Abdul Chaer, Linguistik adalah ilmu yang mengkaji bahasa. 


Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa linguistik tidak dapat dikatakan sebagai ilmu karena alasan linguistik lebih bersifat pada interpretatif daripada bersifat empiris atau eksperimental. Akan tetapi hal tersebut terbantahkan oleh argumen yang dikemukakan oleh banyak ahli, salah satunya oleh Abdul Chaer dalam bukunya yang berjudul linguistik umum. Didalam buku tersebut disebutkan bahwa linguistik dan ilmu ilmu lain telah mengalami 3 tahapan yang akhirnya menjadikan ia sebagai ilmu, yaitu :


1. Tahap Spekulasi

Pada tahap ini kesimpulan ditarik tidak secara empiris atau hanya berspekulasi. Artinya jika ditanya sebab dari suatu peristiwa,hal tersebut tidak dapat dijawab, karena hanya berspekulasi . Misal bumi itu datar, jika ditanya mengapa bumi itu datar, hal tersebut tidak dapat dijawab dengan bukti yang empiris (pengujian yang dilakukan secara ilmiah, salah satunya melalui observasi) , ia hanya bisa menjawab dengan jawaban yang spekulatif (berdasarrkan perkiraan saja, tidak melalui observasi, dan pembuktuian ilmiah)  


2. Tahap observasi dan Klarifikasi

Pada tahap ini, para ahli baru mengumpulkan fakta-faktanya, dan menggolongkan fakta-fakta yang didapat, belum merumuskan teori mengenai fakta-fakta yang dikumpulkan. Dahulu bahasa-bahasa di Nusantara baru didaftarkan, diteliti ciri-cirinya, kemudian dikelompokkan bedasarkan kesamaannya. Tahapan ini masih belum disebut sebagai ilmiah, karena teori belum dirumuskan 


3. Tahap perumusan teori 

Setelah dilakukan observasi dan klarifikasi, berikutnya dilakukan perumusan materi. Mulailah perumusan masalah berdasarkan data empiris yang telah dkikumpulkan, kemudian dirumuskan pula hipootesis-hipotesis untuk menjawab masalah yang dirumuskan tadi, serta berupaya Menyusun tes untuk menguji hipotesis terhadap fakta yang telah dikumpulkan. 


Linguistik yang berkembang ini, sudah mengalami 3 fase tersebut, artinya ia dapat dikatakan sebagai aktivitas ilmiah. Selain itu, keempirisan suatu ilmu dalam mengambil kesimpulan, merupakan ciri dari keilmiaahan, sederhananya ia mengambil kesimpulan yang empiris (yang nyata ada) yang wujudnya dapat diobservasi. Sebagai contoh, seorang pakar bahasa melakukan observasi terhadap verba atau kata kerja. Ia mendapat fakta bahwa verba terletak di akhir kalimat pada bahasa Jepang, Turki, dan sejumlah bahasa di Irian Jaya. Dari fakta empiris tersebut, ia menyimpulkan bahwa verba berada diakhir kalimat. Kesimpulan tersebut tidaklah salah, namun jika terdapat fakta baru yang ditemukan, maka kesimpulan sebelumnya harus diubah.Dengan demikian kesimpulan ini berlaku sampai ditemukannya kesimpulan baru yang dapat mengubah kesimpulan sebelumnya.


Selain argumen tersebut, dalam buku yang sama disebutkan bahwa linguistik sangat mementingkan data empiris saat melaksanakan penelitian. Akan tetapi bidang semantik seringkali kurang atau bahkan tidak mengambil data yang empiris saat melaksanakan penilitiannya, hal tersebut dikarenakan ia menjadikan makna sebagai objek nya. Meski begitu, dibuku ini belum ditemukan argumen yang mengubah pernyataan “linguistik adalah ilmu” dikarenakan salah satu cabang ilmunya, yaitu semantik yang seringkali kurang atau bahkan tidak menggunakan data empiris untuk penelitiannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lingistik masih dapat diaktakan sebagai ilmu, meskipun salah satu cabangnya, yaitu semantik, kurang atau bahkan tidak mengambil data empiris sat penelitiannya

×
Berita Terbaru Update