Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

NTT Kota Layak Anak ?

Tuesday, September 27, 2022 | September 27, 2022 WIB Last Updated 2022-09-27T06:32:45Z

By : Nilasari

Anak pada hakikatnya ibarat sebuah kertas putih yang belum di kenai tinta. Warna putih bersih ibarat bayi abru lahir yang belum ternodai oleh dosa. Kertas putih bersih yang menunggu pemiliknya warna, warna apa yang di tuangkan tergantung pada pemiliknya. Demikian juga halnya bagi seorang anak tidak terwarna dan terwarnanya karakter potret hidup mereka itu tergantung orang tua, lingkungan dan negara.   

Namun mirisnya, fakta yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat menampakan potret yang sangat menyedihkan yang menimpa anak usia dini ibarat sebuah potret yang tidak sudah di abaikan oleh pemiliknya nampak buram lagi suram. Diantaranya; Pelecehan seksual, akses bebas situs pornografi oleh anak, anarkisme, kenakalan dan bentuk kerusakan moral pada anak lainnya. Hal yang ironi ini membutuhkan perhatian berbagai kalangan seperti; keluarga, instansi pendidikan hingga negara. Penetapan kota layak anak bagi negara contohnya.

Disdikbud-ProvNTT, Kupang – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P dan K) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Linus Lusi, S.Pd., M.Pd mengatakan, pada 2020, angka putus sekolah dan mengulang di SMA dan SMK masih tinggi. Untuk tingakatan SMA pada angka 1.518 siswa, dan di SMK sebanyak 1.059 siswa.

“Karena itu, saya minta agar para konselor di sekolah mengambil peran dan fungsi secara tepat terhadap siswa,” ungkap Linus Lusi saat memimpin apel kinerja di Alun-alun I. H. Doko, Dinas P dan K NTT, Senin (16/8) pagi.

Fakta ini seolah menunjukkan bahwa kondisi kehidupan anak NTT masih memprihatinkan. Lantas bagaimana seharusnya mampu mewujudkan NTT sebagai kota layak anak?. Setidaknya ada beberapa pihak yang harus berperan yakni keluarga, sekolah, masyarakat hingga negara.

Peran Keluarga
Keluarga merupakan wadah pendidikan yang paling pertama bagi anak. Walapun non formal namun dapat mencetak generasi yang gemilang. Orang tua merupakan madrasah paling pertama bagi anak, di dalamnya ada Bapak kepala madrasah sebagai pengatur kurikulum dan ada Ibu yang menjalankan kurikulum yang sudah tersistematis. Mereka akan mewarisi karakter pada anak. Oleh karena itu perlu di tanamkannya nilai-nilai agama serta pembelajaran akhlak kepada anak agar terlahirnya generasi-generasi pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat islam bukan sekedar memenuhi keinginan anak lalu lepas tangan tanpa paham akan tujuan mendidik.

Namun mirisnya, dalam sistem kapitalis saat ini, posisi Ibu tidak sesuai pada tempat nya sebagai pendidik generasi masa depan dan menguatkan suami mereka dalam mengemban islam, ibu yang cerdas yang akan melahirkan generasi-generasi  pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat islam lantaran terhimpitnya kebutuhan hidup yang menjulang tinggi membuat mereka pun ikut terjun di dunia kerja. Bukan hanya hal demikian posisi ibu sebagai pendidik sekaligus pengurus rumah tangga teralihkan menjadi Ibu ganda menjadi ibu sekaligus ayah. Kewajiban seorang ayah mencari nafkah tergantikan oleh ibu akibat romantisme feminisme dengan liberalisme yang terlahir dari sistem kapitalisme sekulerisme hingga menimbulkan tingkat percerai semakin meningkat, hal demikian pun akan dampak pada anak.  

Peran Lingkungan 
Selain peran keluarga, peran masyarakat juga tak kalah penting bagi anak. Masyarakat yang bertakwa juga akan selalu mengontrol agar individu tidak melakukan menyimpangan. Sayang, dalam sistem kapitalis sekuler pemisahan agama dengan kehidupan merasuki generasi muda, mendorong mereka memiliki cara pandang yang murah terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan yakni hanya dalam konteks pemuasan nafsu sesaat. Belum lagi pelecehan seksual pada anak, meluasnya kriminalitas pada anak-anak serta wabah kekerasan terhadap anak. Nilai-nilai kebebasan ini terus mengikis mental tanggung jawab masyarakat terhadap fakta-fakta yang begitu ironi pada perempuan dan anak. Maka, untuk terciptanya lingkungan yang penuh dengan alternatif. Perlu adanya masyarakat sehat serta kualitas nutrisinya pemikiran-pemikiran yang sahih untuk membangun peradaban masyarakat yang memiliki sikap kolektif dalam menghadapi berbagai peristiwa dalam kehidupan. masyarakat harus menyadari obat dari wabah penyakit ini sesungguhnya hanya islam. Sejarah gemilang peradaban terbukti menjamin kesejahteraan dan kehormatan anak-anak sebagai generasi penerus kebangkitan islam. Tentunya bukan lewat sistem liberal saat ini yang memisahkan agama dari kehidupan. Yakin akan lahir generasi yang takwa? Di balik fakta yang di pertontonkan lewat sistem kapitalis sekuler saat ini. 

Peran Instansi Pendidikan
Wilayah provinsi nusa tenggara timur (NTT) belum layak di tetapkan sebagai kota layak anak. Terbukti. Data di atas menjelaskan hal demikian, ternyata masih banyak generasi muda yang mengalami putus sekolah, negara berperan penting dalam menjamin pendidikan bebas biaya bagi anak-anak. Selain itu untuk menghindarkan anak dari kerusakan moral, maka solusinya bukan dengan memperpanjang masa belajar anak di sekolah atau mengubah kurikulum secara terus menerus. Melainkan mengganti kurikulum yang berasal dari sistem sekularisme menjadi kurikulum yang berbasis Aqidah Islam yang membentuk watak dan kepribadian islam. Bagaimana mungkin mewujudkan generasi yang berwatak aqidah islam sedangkan kurikulum yang jalankan sekarang adalah sistem sekularisme yang memisahkan agama dengan kehidupan ala barat?. Dimana kurikulum pendidikan yang lahir dari sistem kapitalis sekuler saat ini hanya berfokus pada output, bagaimana generasi bisa menghasilkan cuan hingga memiliki akhlak dan watak sesuai aqidah islam di abaikan seakan hal itu tidak di perhitungkan. Nyatanya tidak mungkin.   
 
Peran Negara 
Oleh karena itu, Negara memiliki peran penuh karena negara sebagai pengurus sekaligus menjamin semua kebutuhan rakyat bukan sebaliknya menyusahkan rakyatnya hinga jauh dari kesejahteraan bagaikan panggang jauh dari api, agar peran ibu sebagai pendidik sekaligus pengurus rumah tangga tidak teralihkan menjadi ibu sekaligus ayah. Selain itu negara juga wajib memfasilitasi masyarakatnya dengan menyiapkan lapangan kerja yang luas. Selain itu, negara juga seharusnya menerapkan aturan islam secara sempurna (Kaffah) agar terciptanya masyarakat yang takwah mengikuti semua aturan dan menjauhi semua larangan dari Allah Swt. Tak cukup sampai disitu, negara juga akan menjamin pendidikan bebas biaya bagi anak-anak melalui sekolah dengan berbasis aqidah islam yang membentuk watak dan kepribadian islam, meyediakan guru yang sesuai dengan jurusannya memiliki ilmu yang berkualitas dan menjamin kesejahteraan bagi guru. Tentu saja semua hal ini tidak akan berjalan dengan baik semasih sistem yang di terapkan adalah sistem sekuler kapitalis, di balik banyaknya fakta-fakta yang sangat mencengakan, membuat rakyat menjerit kesengsaraan. Ini semua pertanda bahwa sistem sekuler saat ini gagal tidak mampu mensejahterakan rakyatnya.

Untuk mewujudkan masyarakat sehat dan berperadapan luhur sesuai dengan islam, Ibu cerdas, yang akan melahirkan serta mendidik generasi-generasi pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat islam dan pendidikan yang membentuk watak dan berkepribadian islam bagi anak tak akan mungkin terwujud selama sistem yang dijalankan seperti saat ini yaitu sistem sekuler buatan manusia ala barat yang memisahkan agama dari kehidupan bukan dari islam. Sistem islam hanya akan diterapkan ketika khilafah tertegak kembali di tengah-tengah umat. Bukan sekedar tercatat sebagai sejarah namun jadikan hal tersebut batu loncatan bahwa sistem islam pernah di terapkan di temgah-tengah umat bahkan dalam sistem islam mecetak generasi-generasi ilmuwan ternama yang berwatak sesuai dengan aqidah islam  seperti ibnu Firnas, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, AI-Jazari. Deretan para ilmuwan ini tidak asing bagi pecinta kisah sejarah. Hanya islam yang mencetak generasi gemilang tersebut, mereka tidak hanya berfokus pada satu bidang keilmuwan saja, tapi mereka juga mumpuni dalam bidang ilmu lainnya. Bahkan, bahkan banyak ilmuwan yang tercatat dalam sejarah pada masa kekhilafahan diusia yang masih tergolong anak-anak mampu menghafalkan Al-Quran. Bukan hanya itu, di masa kekhilafahan mencetak gegenrasi-generasi yang sudah berkontribusi banyak untuk agama islam seperti Muhammad Al-Fatih, Thariq Bin Ziyad, Salahuddin Al-Ayyubi dan para penakluk lainnya. Pastinya sederatan nama yang tercatat sejarah berhasilnya islam mewujudkan generasi-generasi cerdas terlahir dari Ibu hebat dan cerdas, Bukan Ibu terpaksa tega meninggalkan anaknya demi cuan akibat terhimpit banyaknya kebutuhan, Guru yang memiliki ilmu yang berkualitas sesuai dengan pakarnya, Bukan Guru yang takut dilengserkan lantaran takut ancaman KOMNAS perlindungan anak. Lebih hebatnya lagi dalam sistem islam, negara juga membebaskan biaya pendidikan bagi anak sampainya masuk kejenjang perguruan tinggi, negara juga dalam mendidik harus signifikan baik kecerdasan maupun akhlak sesuai dengan aqidah islam.
Sistem Islam lah yang mampu mencetak generasi-generasi yang membangkitkan peradaban yang gemilang. Tidak inginkah kita hidup sejahterah? dibawa naunga  sistem khilafah, bukan hanya melindungi hak anak tapi juga menjamin kesejahteraan bagi seluruh rakyat pada seluruh lini kehidupan, sungguh bukan hanya pada wilayah tertentu saja tapi di seluruh wilayah dapat dikatakan layak anak jika tunduk pada syariat islam. 
Wallahu A’lam Bish-Shawab.
×
Berita Terbaru Update