Oleh Wika
Penulis Muslimah
Nusantaranews.net, Retorika lama mengenai "Solusi Dua Negara" (Two-State Solution) yang selama ini diagung-agungkan oleh dunia internasional kini telah resmi kehilangan sisa-sisa napas terakhirnya. Ilusi perdamaian tersebut semakin telanjang ketika Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, secara terbuka mengklaim bahwa seluruh wilayah administratif di Tepi Barat, tanpa terkecuali adalah sepenuhnya "milik Israel". Pernyataan provokatif ini secara terang-terangan merobek lembaran Kesepakatan Oslo II tahun 1995, yang selama puluhan tahun membagi Tepi Barat ke dalam tiga zona administratif: Area A yang dikendalikan penuh oleh Palestina, Area B di bawah kendali sipil Palestina dan keamanan Israel, hingga Area C yang mencakup sekitar 60 persen wilayah yang memang diduduki penuh oleh Tel Aviv. Dengan bersikeras menyatakan bahwa tidak ada lagi perbedaan antara Area A, B, dan C karena seluruh tanah tersebut adalah milik Zionis, Tel Aviv tidak hanya sekadar menentang hukum internasional, melainkan mengubur dalam-dalam narasi diplomasi damai. Realitas ini menegaskan bahwa solusi dua negara tidak pernah lebih dari sekadar ilusi semu untuk menutupi ambisi aneksasi mutlak di atas penderitaan bangsa Palestina.
Menguak Ambisi Hakiki Zionis dan Ilusi Solusi Dua Negara
Pernyataan provokatif petinggi zionis yang mengklaim seluruh wilayah Tepi Barat sebagai milik mereka bukanlah isapan jempol belaka. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa keinginan hakiki zionis Israel adalah menguasai seluruh tanah Palestina secara utuh, mencakup Tepi Barat, Gaza, hingga wilayah regional lainnya, demi ambisi ideologis pendirian "Israel Raya" (Greater Israel). Mereka tidak pernah berniat untuk membagi tanah tersebut atau hidup berdampingan secara damai. Allah SWT telah lama mengingatkan karakter watak kaum yang melampaui batas ini dalam Al-Qur'an:
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenar-benarnya)'. Dan ketahuilah jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al-Baqarah: 120)
Genosida dan penghancuran total di Gaza, perampasan paksa tanah serta pemukiman warga Palestina di Tepi Barat, pembakaran puluhan masjid, hingga penodaan dan pendudukan secara sistematis terhadap Kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan kejahatan luar biasa besar. Ini bukan sekadar konflik teritorial biasa, melainkan bentuk permusuhan nyata terhadap Islam dan umat Islam secara global. Tindakan biadab ini menegaskan bahwa eksistensi zionis Israel adalah ancaman eksistensial bagi kemanusiaan dan kesucian tempat ibadah umat Islam. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَٰجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُۥ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَآ ۚ أُولُوٰٓئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَآ إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha merusaknya? Mereka itu tidak pantas masuk ke dalamnya, kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksaan yang berat." (QS. Al-Baqarah: 114)
Selama ini, Amerika Serikat, negara-negara sekutunya, serta para penguasa negeri-negeri Muslim terus menggencarkan narasi "Solusi Dua Negara" (Two-State Solution). Padahal, solusi diplomasi ini hanyalah ilusi semu dan kebohongan politik untuk meninabobokan umat Islam, sementara di saat yang sama zionis terus merampas tanah Palestina tanpa henti. Lebih memprihatinkan lagi, masih ada sebagian pemimpin negeri Arab yang rela duduk berdampingan dan patuh bersalaman dengan para penjahat perang seperti Netanyahu. Sikap tunduk dan normalisasi hubungan ini merupakan bentuk pengkhianatan yang nyata terhadap darah para syuhada dan perjuangan suci pembebasan tanah Palestina. Allah SWT dengan tegas memperingatkan agar umat Islam tidak menjadikan musuh-musuh Allah sebagai pemimpin atau sandaran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَضَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Ma'idah: 51)
Mengingat kejahatan zionis Israel yang sudah melampaui batas kemanusiaan dan agama, persoalan Palestina tidak akan pernah selesai melalui meja perundingan damai, resolusi PBB yang mandul, ataupun ilusi solusi dua negara. Penjajahan brutal ini wajib dilawan dengan kekuatan penuh melalui penerapan syariat jihad fii sabilillah.
Namun, jihad melawan entitas penjajah yang kuat secara militer dan didukung kekuatan global tidak akan bisa berjalan maksimal dan sempurna tanpa adanya persatuan umat Islam secara global di bawah satu komando kepemimpinan umum, yakni seorang khalifah. Perjuangan untuk menegakkan kembali institusi khilafah menjadi sangat urgen dan fardhu, karena hanya dengan kepemimpinan Islam yang satu (khilafah), seluruh potensi, sumber daya, dan militer negeri-negeri Muslim dapat digerakkan secara serentak untuk memobilisasi jihad fii sabilillah guna meruntuhkan zionisme dan membebaskan bumi Palestina secara total.
Wallahu a'lam bish-shawab
