Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hentikan Penderitaan Palestina dengan Persatuan Umat

Sunday, October 25, 2026 | October 25, 2026 WIB Last Updated 2026-10-25T12:43:06Z





Oom Rohmawati 
Pegiat Literasi 

Entah sampai kapan kita harus menyaksikan penderitaan penduduk Palestina. Berita terbaru dari Kementerian Pendidikan Palestina, pada Rabu, 7 Oktober 2026 menyampaikan selama tiga tahun berlangsungnya konflik di jalur Gaza dan tepi Barat, sebanyak 20.748 pelajar Palestina dan 1.058 tenaga pendidikan serta administrasi tewas. Menurut catatan yang dilansir Anadolu Agency, ribuan pelajar dan tenaga pendidikan mengalami luka serta ditahan. Selain itu, puluhan institusi pendidikan dilaporkan rusak atau hancur akibat serangan.
Di Jalur Gaza, sebanyak 19.189 pelajar sekolah dan 1.386 mahasiswa tercatat tewas, 28.586 pelajar sekolah dan 3.082 mahasiswa lainnya mengalami luka-luka. Dari kalangan tenaga pendidikan, sebanyak 805 tenaga pendidikan dan administrasi sekolah serta 246 tenaga universitas meninggal dunia. Adapun 3.298 tenaga sekolah dan 1.493 tenaga universitas lainnya dilaporkan terluka. (Ntvnews.id, 8/10/2026)

Serangan brutal yang terus menerus dilakukan Zionis Israel bukan serangan melawan militer, tetapi untuk tujuan genosida dan perampasan wilayah Palestina. Karena, polanya menyasar warga sipil secara sistematis. Konflik tersebut tidak hanya menelan puluhan ribu korban jiwa, tetapi juga menghancurkan sebagian besar rumah, melumpuhkan perekonomian, memperburuk kelaparan, serta mengganggu layanan kesehatan dan pendidikan. Bagi mereka yang bertahan hidup, perang meninggalkan kehilangan yang jauh lebih besar dari sekadar luka fisik, tapi duka atas kematian orang-orang tercinta.

Dari setiap fase serangan selalu diikuti perluasan permukiman, penyitaan tanah, dan pemindahan paksa penduduk. Gaza pun diratakan agar tidak bisa dihuni, sementara di Tepi Barat terus dicaplok. Hal ini makin memperjelas bahwa kejahatan perang yang dilakukan Zionis Israel tujuannya bukan perang mengalahkan lawan tempur, melainkan memusnahkan keberadaan rakyat Palestina di atas tanahnya sendiri. Bahkan pelajar dan sekolah yang seharusnya dilindungi justru menjadi sasaran serangan.  Dalam logika penjajah, tanah orang lain dianggap tanah kosong yang harus direbut. Cara berperang mereka tidak mengenal batas kemanusiaan dan keadilan tetapi lebih ke arah mendominasi. Gencatan senjata hanya dijadikan taktik dan formalitas semata. Inilah yang menjadi paradigma perang negara kafir yaitu penjajahan. Selama paradigma penjajahan ini masih ada, perdamaian tidak akan pernah lahir dari pihak penjajah.

Akibatnya selama tiga tahun setelah peristiwa Thufan al-Aqsha, warga Gaza harus berdiri teguh di atas timbunan reruntuhan. Dengan bermodalkan keimanan, ketakwaan, ketabahan, dan kesabaran  kepada Allah Swt. Mereka melawan penjajah. Di balik keberanian luar biasa para mujahidin dan rakyat Palestina, mereka pun harus menelan pengkhianatan yang dilakukan oleh para penguasa muslim.
Selama tiga tahun Gaza dibantai, dibom tanpa henti siang dan malam, dan penduduknya diusir dari tanah air mereka sendiri. Sementara umat Islam di dunia tampak tidak berdaya menghadapi kebiadaban Israel, padahal jumlah mereka besar yaitu 2,5 miliar lebih dibandingkan dengan entitas Zionis Israel yang hanya 10,3 juta orang. 

Sayangnya, para pemimpin negeri-negeri muslim di dunia selain menjadi penonton dan penghitung jumlah korban, sebagian dari mereka malah menjadi kaki tangan entitas Yahudi dalam kejahatan genosida tersebut. Ini kejahatan perang paling kejam sepanjang sejarah kemanusiaan.  Jika ada di antara para penguasa muslim yang bersuara, suara mereka tidak lebih dari tong kosong nyaring bunyinya, sebab yang mereka lakukan hanya pencitraan saja untuk membungkam rakyat agar tidak mengkritiknya. Bahkan di atas panggung suara mereka terdengar keras dan berapi-api. Sementara realitanya mereka tetap membiarkan rakyat Palestina dalam kondisi memprihatinkan kelaparan parah, kematian, dan kehancuran yang terus-menerus tanpa pembelaan. 

Para penguasa muslim seperti Arab misalnya, dengan sukarela mempertahankan batas-batas palsu Sykes-Picot yang diciptakan oleh kaum kafir penjajah. Hal yang sama dilakukan oleh para pemimpin muslim lainnya, mereka mempertahankan batas-batas negara masing-masing yang dibuat penjajah, dengan mengorbankan nyawa saudara-saudara di Palestina asalkan negaranya tetap aman.

Para penguasa muslim justru percaya dengan solusi yang ditawarkan oleh PBB dan Dewan Keamanan, atau Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Padahal, semua penyelesaian itu merupakan ilusi yang membutakan. Umat Islam harus menyadari bahwa mengharapkan keadilan dari Barat, institusi-institusi, maupun hukum internasional ibarat bunuh diri. Artinya, kebiadaban Zionis Israel tidak akan berakhir selama umat tidak bersatu.  Umat harus sadar bahwa sekat-sekat imajiner negara buatan penjajah berupa nasionalisme yang telah menjadikan mereka lemah dan tercerai-berai, inilah akar masalah Palestina.

Hingga saat ini perang di Palestina menyisakan kehancuran bagi wilayah dan mengorbankan manusia yang hidup di sana. Kondisinya sangat memprihatinkan. Untuk itu butuh solusi mendesak. Para pemimpin muslim sedunia harus menyerukan jihad (perang) dan membuka pintu-pintu perbatasannya dengan Palestina, seraya menggerakkan  kekuatan secara maksimal berupa pengiriman tentara yang mereka miliki. Sebagaimana seruan Allah Swt. dalam firman-Nya."Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada Muhajirin, mereka itu satu sama lain saling melindungi.... (QS al-Anfal [8]: 72) Inilah yang semestinya dilakukan para pemimpin muslim.

Namun hal ini tidak mungkin terwujud selama masih berada dalam naungan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Oleh karenanya, umat muslim sangat membutuhkan kekuatan global yang mampu membebaskan Palestina. Kekuatan besar itu adalah sistem Islam (Khilafah). Maka wajib bagi kaum muslim untuk memperjuangkan terwujud sebuah institusi khliaffah. Rasulullah saw bersabda: “Imam (khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum muslim berperang dan berlindung.” (HR Bukhari-Muslim) 

Khilafah yang akan menyatukan seluruh umat Islam dengan landasan akidah Islam. Sekaligus yang akan menyerukan dan memimpin langsung pasukan kaum muslim di seluruh dunia untuk membebaskan tanah Palestina dan menyelamatkan kaum muslim di mana pun. Inilah yang disebut jihad fii sabilillah berjuang di jalan Allah yang akan menghancurkan kekuatan kufur. 
Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah-Khalifah terdahulu seperti, Umar bin Khaththab ra. ketika mengirimkan tentara ke Syam untuk membebaskan Baitulmaqdis (Palestina) dari penguasa Romawi.

Di dalam jihad, Islam telah menetapkan ketentuan perang. Di antaranya melarang keras untuk menyakiti, membunuh yang tidak bersangkutan dengan peperangan seperti, anak-anak, perempuan, lansia, pemuka agama, selama mereka tidak ikut serta secara aktif dalam pertempuran. Juga fasilitas publik, bahkan pepohonan dan hewan. Instruksi ini dirangkum secara sistematis dalam pesan terkenal Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada pasukannya, yang menekankan bahwa perang dalam Islam harus dilakukan dengan keadilan dan pengendalian diri, bukan sebagai sarana penghancuran massal. Perlindungan terhadap nyawa dan martabat warga sipil adalah kewajiban hukum yang tetap berlaku meskipun dalam keadaan konflik bersenjata.

Demikianlah keagungan sistem Islam yang wajib bagi kaum muslimin perjuangkan, yang akan mempersatukan negeri-negeri Muslim dan yang mampu membebaskan saudara-saudara kita di Palestina.

Wallahualam bissawwab
×
Berita Terbaru Update