Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Zionis Penjarakan 370 Anak Palestina, Penguasa Muslim Membisu

Sunday, September 13, 2026 | September 13, 2026 WIB Last Updated 2026-09-12T20:40:55Z


Zahrah (Aktivis Dakwah)

Derita pilu anak-anak Palestina dalam penjara masih berlanjut hingga hari ini. Ketika anak-anak di penjuru lain sedang menikmati masa kanak-kanak yang bahagia bersama orang tua, keluarga, dan teman, anak-anak Palestina justru harus merasakan sesak dan dinginnya penjara, sunyi dalam keterasingan. Mereka harus merasakan semua itu, padahal usia mereka masih sangat kecil untuk merasakan pedihnya siksaan oleh tentara Zionis.

Berdasarkan laporan khusus yang dirilis Pusat Pembela Tahanan Palestina (Palestinian Center for Prisoners Defense), 370 anak-anak Palestina mendekam di sel-sel Israel, terutama di Penjara Megiddo dan Ofer. Selain itu, berdasarkan catatan lembaga hak asasi manusia, terdapat 180 anak yang dikenai penahanan administratif (administrative detention). Ratusan anak ditahan tanpa kepastian. Mereka tidak tahu atas dasar apa mereka ditahan dan kapan akan diizinkan pulang. Hal ini masih menjadi misteri. Berapa banyak anak yang ditangkap dan dipenjarakan di kamp-kamp militer Israel? Bisa jadi lebih banyak, mengingat penahanan ini sudah lama dilakukan dan terus berlangsung hingga saat ini (Spirit of Aqsa, 28/08/2026).

Penangkapan dan penahanan anak di bawah umur oleh Zionis merupakan bagian dari kebijakan sistematis Zionis untuk menghilangkan semangat jihad anak-anak Palestina dan menghancurkan masa depan mereka. Dengan menjauhkan anak-anak Palestina dari orang tua mereka, merusak fisik dan mental mereka, serta menghancurkan mimpi-mimpi mereka, Zionis mampu menekan dan mengintimidasi perlawanan rakyat Palestina serta mencegah bibit-bibit pejuang itu tumbuh.

Mirisnya, dari semua kekejaman dan kebengisan yang dipertontonkan Zionis Israel, kaum Muslimin tidak bisa melakukan apa-apa. Respons penguasa-penguasa Muslim yang diam seribu bahasa terhadap derita Palestina semakin menunjukkan ketidakberpihakan mereka terhadap kemerdekaan rakyat Palestina. Diamnya penguasa-penguasa Muslim tak ubahnya seperti setan bisu: diam saat kemungkaran terjadi di depan mata, diam saat darah anak-anak Palestina terus mengalir, serta diam saat tangisan dan teriakan meminta pertolongan tak pernah berhenti.

Terus berlangsungnya genosida yang dilakukan Zionis terhadap rakyat Palestina hingga hari ini menunjukkan ketidakmampuan dan kelemahan kaum Muslimin terhadap Zionis dan pendukungnya. Hal ini juga membuka tabir betapa tidak bergunanya PBB dan BoP sebagai lembaga perdamaian dunia. Kedua organisasi itu hanya menjadi alat pengalih perhatian kaum Muslimin agar tidak bersatu menolong rakyat Palestina, agar kaum Muslimin terus berharap kepada mereka. Padahal, sejatinya merekalah penyebab genosida rakyat Palestina.

Bisu dan tulinya penguasa-penguasa Muslim juga menunjukkan ketakutan akan hilangnya kekuasaan karena keberpihakan mereka terhadap Zionis dan Amerika. Penguasa-penguasa Muslim hari ini berlindung di bawah tuannya, yakni Amerika. Padahal, jika penguasa Muslim berani menyatukan pandangan dan bersatu dalam satu kepemimpinan, maka sesungguhnya kekuatan kaum Muslimin cukup besar untuk melawan negara-negara kafir, termasuk Israel dan Amerika. Akan tetapi, penyakit wahn itu masih begitu kuat bercokol dalam benak para penguasa Muslim.

Oleh karena itu, umat Islam harus sadar bahwa kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina tidak boleh dibiarkan. Segala bentuk intimidasi dan ancaman Zionis tidak boleh menyurutkan perjuangan pembebasan Palestina. Selain itu, kaum Muslimin harus berhenti berharap pada PBB dan BoP, termasuk kepada para penguasa Muslim. Selama kaum Muslimin masih tersekat-sekat dalam batas-batas nasionalisme, selama itu pula Palestina akan terus terjajah.

Kaum Muslimin mampu menolong rakyat Palestina jika kaum Muslimin bersatu dalam satu kepemimpinan dan satu komando, yakni komando sang khalifah. Khalifahlah yang akan mengutus tentara-tentara kaum Muslimin untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis Israel dan Amerika. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Palestina. Sejarah yang sama akan terulang jika persatuan umat telah terwujud dan khilafah tegak di tengah-tengah kaum Muslimin. Sebab, persatuan umat dan perjuangan pembebasan Palestina merupakan bagian penting dari cita-cita yang diangkat dalam tulisan ini.
Wallahu a'lam bish-shawab.
×
Berita Terbaru Update