Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perayaan Tanpa Perubahan: Mengembalikan Ruh Perjuangan Rasulullah pada Momentum Maulid

Monday, September 07, 2026 | September 07, 2026 WIB Last Updated 2026-09-07T06:38:50Z





Oleh Nani Sumarni
Aktivis Dakwah

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sarana evaluasi diri bagi umat Islam agar tidak sekadar mengenang kelahiran dan sejarah perjalanan beliau secara seremonial belaka. Setiap kali bulan Rabiul Awwal menyapa, jutaan pasang mata dan hati umat Islam terikat dalam memori indah pengorbanan sesosok manusia mulia. Namun, di tengah perayaan yang megah, patutlah kita bertanya pada diri sendiri: apakah kehadiran perayaan ini telah sejalan dengan misi agung yang dibawa oleh baginda Nabi, ataukah sekadar menjadi rutinitas kalender yang kehilangan taji perubahan?

Sebagaimana dikutip dari halaman rri.co.id pada 22 Agustus 2026, bahwasannya bukti cinta sejati kepada Rasulullah harus diwujudkan melalui pengamalan akhlak beliau dalam kehidupan nyata.

Sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, sikap amanah, kesabaran, serta kepedulian sosial dinilai tetap sangat relevan untuk menghadapi tantangan zaman, termasuk dalam bertutur kata dan bijak bermedia sosial di era digital. Perayaan Maulid diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku konkret pada tingkat individu, keluarga, maupun masyarakat luas.

Setiap tahun, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW senantiasa disambut meriah oleh umat Islam melalui pembacaan shalawat, pembacaan kitab sirah, tabligh akbar, hingga pawai budaya.

Namun, jika dicermati lebih dalam, gempita perayaan ini kerap berhenti pada aspek ritual formalitas dan luapan emosional semata. Maulid tereduksi sekadar menjadi ekspresi rasa cinta tanpa konsekuensi ideologis, padahal mencintai Rasulullah secara sah menuntut keterikatan penuh pada risalah, syariat, dan garis perjuangan politik yang beliau wariskan.

​Reduksi makna ini makin nampak dari penyampaian narasi ittiba’ (meneladani Nabi) yang terus dibatasi pada dimensi akhlak individu dan kesalehan personal—seperti ramah, jujur, dan bersabar.

Narasi tersebut menyentuh esensi utama misi kenabian: membongkar tatanan sistem jahiliyah yang menghamba pada hawa nafsu dan menggantinya dengan sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah SWT.

Tanpa disadari, umat hari ini masih terkungkung dalam sistem jahiliyah modern. Penghambaan kepada selain Allah berlangsung secara sistemik melalui cengkeraman ideologi Kapitalisme, Demokrasi, dan Liberalisme yang menempatkan hukum buatan manusia dan materi di atas syariat Ilahi. 

Sistem Kapitalisme ini pun, secara aktif meredam setiap potensi kebangkitan ideologis umat. Meskipun dorongan untuk berubah mulai menguat di tengah masyarakat, arah dan metode yang ditempuh sering kali menyimpang jauh dari garis perjuangan yang dicontohkan Rasulullah.

​Oleh karena itu, momentum Maulid Nabi harus dijadikan pijakan untuk mengembalikan hakikat ittiba’ pada makna yang sebenarnya, yaitu ketundukan total terhadap syariat serta metodologi (thariqah) perjuangan beliau (QS. Ali 'Imran [3]: 31).

Penerapan sistem sekuler yang merusak di negeri-negeri Muslim mewajibkan umat untuk memperjuangkan kembali penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam bingkai kepemimpinan Islam (Khilafah), meneladani rekam jejak dakwah Rasulullah saat menegakkan Negara Islam pertama di Madinah.

​Perubahan sistemik ini tidak boleh dilakukan secara acak, melainkan wajib mengikuti tiga tahapan (marhalah) dakwah yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW :

Pertama, ​Tatsqif (Pembinaan dan Kaderisasi): Membina individu-individu Muslim dengan aqidah dan pemikiran Islam yang ampuh guna membentuk kader-kader dakwah yang tangguh dan berkesadaran ideologis.

Pada periode awal dakwah di Mekkah, Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat di rumah Al-Arqam. Di sana, beliau mengajarkan ayat-ayat Al-Qur'an, menanamkan akidah Islam yang kuat, dan memahamkan hakikat penghambaan hanya kepada Allah.

Dari proses pembinaan rutin ini, lahir kader-kader awal (Assabiqunal Awwalun) seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Mus'ab bin Umair. Mereka dibentuk hingga memiliki kepribadian Islam yang tangguh, siap mengorbankan harta dan jiwa, serta tidak goyah oleh siksaan kaum Quraisy.

Kedua, ​Tafa'ul ma'al Ummah (Interaksi dengan Umat): Mengedukasi, membongkar pemikiran kufur, serta membangun kesadaran umum (wa'yu 'am) di tengah masyarakat agar umat secara sukarela menginginkan syariat Islam diterapkan. 

Keberhasilan Rasulullah SAW mengubah masyarakat Arab yang tadinya terpecah belah, gemar berperang antar-suku, dan menyembah berhala, menjadi bangsa yang bersatu di bawah akidah Islam, berakhlak mulia, serta memimpin peradaban dunia.

Ketiga, ​Istilamul Hukmi (Penerimaan Kekuasaan): Meraih kekuasaan secara resmi dan damai melalui penyerahan mandat (nushrah) dari para pemilik kekuatan (ahlul quwwah), 

sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW berhasil meraih kekuasaan secara damai melalui penyerahan mandat (nushrah) dari kaum Anshar di Madinah. Beliau kemudian menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi tertulis pertama di dunia yang mengatur masyarakat heterogen dengan adil.

​Hanya dengan mengadopsi metode dakwah Rasulullah secara utuh dan presisi, kehidupan Islam dapat kembali ditegakkan, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmatan lil 'alamin (QS. Al-Anbiya [21]: 107).

Dan pada akhirnya, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW tidak boleh berhenti sebagai sekadar selebrasi tahunan tanpa perubahan; ia harus menjelma menjadi titik balik untuk mengembalikan ruh perjuangan Rasulullah secara utuh melalui ketundukan total pada syariat dan penerapan metode dakwah beliau dalam mewujudkan kehidupan Islam yang hakiki.

Wallahualam bissawab
×
Berita Terbaru Update