Oleh Wanti Ummu Abror
Pendidik Generasi
Rabiulawal merupakan salah satu bulan yang sangat dinanti oleh umat Islam, karena momen ini menjadi momen untuk mengenang kembali lahirnya Rasulullah saw. Seluruh lapisan masyarakat antusias untuk menyambutnya, dari rakyat biasa sampai tingkat negara. Dalam peringatan ini, Kementerian Agama (Kemenag) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk bersalawat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. (SindoNews Minggu, 23/8/2026)
Setiap tahun umat Islam merayakan peringatan Maulid Nabi dengan penuh sukacita. Berbagai acara digelar untuk memeriahkannya sebagai tanda cinta mereka kepada manusia mulia, teladan bagi umatnya. Mulai dari pembacaan salawat, tablig akbar, bahkan pawai. Namun sayangnya substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional semata.
Pembahasan ittiba' kepada Nabi pada momentum Maulid masih dibatasi pada keteladanan akhlak beliau sebagai pribadi, sahabat, dan kepala rumah tangga yang ideal. Namun sayang, belum menyentuh kesadaran umat untuk mengubah sistem jahiliah (penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu) menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah sebagaimana yang telah dilakukan oleh beliau.
Kesadaran umat tentang konsep perubahan sebenarnya telah muncul, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw. Akhirnya momen Maulid tereduksi menjadi sekadar ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Padahal, cinta kepada Rasulullah harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa.
Umat kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik melalui demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Kondisi umat saat ini lemah dan terjajah oleh kaum kafir secara politik, ekonomi, budaya, pemikiran, hingga fisik.
Penerapan sistem kapitalis yang mengakibatkan keterpurukan, kesengsaraan, hingga rendahnya peradaban umat saat ini tentunya tidak akan selesai dengan ajakan untuk berselawat saja, tetapi harus ada upaya nyata untuk ittiba’ kepada Rasul dalam menjalankan sistem yang berlandaskan Islam secara kafah.
Namun, sistem kapitalisme, demi mempertahankan eksistensinya akan terus berusaha menghalangi suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan kepada sistem yang sahih. Hal itu mengharuskan kaum muslimin untuk terus berjuang secara serius dan terarah mengikuti metode dakwah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. Beliau telah memberikan teladan tentang tata cara perubahan dari zaman jahiliah (sistem rusak) menuju sistem Islam. Yaitu dengan metode dakwah di periode Makkah dan Madinah yang meliputi tiga tahapan: di antaranya tasqif atau pembinaan dan pengkaderan, berinteraksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah wal kifah), pp tahap penerimaan kekuasaan (istilamul hukmi).
Tahapan pertama dimulai sejak turunnya firman Allah Swt. dalam surah (Al-Mudatsir: 1-2), Rasul mulai mendakwahi orang per orang untuk memeluk Islam hingga terkumpul sekelompok orang yang kemudian dibina di rumah Arqom bin Abil Arqom. Kemudian bertambah melalui pengkaderan tersebut 40 orang sahabat.
Lalu dakwah berlanjut kepada tahapan kedua yaitu berinteraksi di tengah-tengah umat dengan turunnya ayat yang memerintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan di tengah umat. Hingga mendapat dukungan dari suku Auz dan Khajraj di Madinah dan akhirnya memberikan kekuasaan kepada Rasulullah untuk dipimpin dengan sistem Islam (istilamul hukmi).
Oleh karena itu, harapan hanya bisa bertumpu pada kelompok Islam ideologis, yang mengikuti metode dakwah Rasul. Ia adalah kelompok Islam yang berfungsi sebagai penjaga syariat dan pelopor kebangkitan umat, bukan hanya sekadar organisasi keagamaan atau sosial, melainkan entitas yang menjadikan Islam sebagai asas perjuangan dan tujuan perubahan. Allah Swt. berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran: 104)
Ayat ini adalah landasan bagi kelompok Islam ideologis, yang terorganisir memiliki visi perubahan, serta konsisten menyeru umat kepada Islam secara kafah dan mencegah dari segala bentuk kemungkaran. Sementara bentuk kemungkaran terbesar saat ini bersifat struktural yang dilakukan oleh para penguasa, karena mengabaikan penerapan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Jamaah dakwah ini mempunyai kriteria jelas yakni, berasaskan akidah Islam, bergerak secara kolektif (berjamaah), dakwahnya bersifat politis yaitu menyeru penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Ia bergerak tanpa kekerasan, berorientasi pada perubahan pemikiran (fikriyah) dan sistemis serta tidak menjadikan kepentingan pragmatis sebagai tujuan.
Metode dakwah yang dijalankannya adalah dengan meneladani dakwah Rasulullah saw., yakni dakwah fikriyyah dan siyasiyyah; membina pemahaman yang lurus di tengah umat, mengoreksi pemikiran yang rusak, termasuk kebijakan dzalim penguasa hingga terbentuk opini umum bahwa hanya ideologi Islam yang layak untuk diterapkan.
Kelompok seperti ini juga yang dulu pernah didirikan oleh teladan kita Rasulullah saw. di Makkah, di nitengah sistem jahiliyyah yang mengatur masyarakat. Selain itu, kelompok dakwah ini tidak menjadikan perbaikan pada moral individu saja, tetapi penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang tercermin dalam institusi penerap syariat Islam secara kafah. Oleh karena itu, momen maulid ini seharusnya dapat meningkatkan pemahaman kita tentang makna ittiba’ kepada Nabi yang sebenarnya adalah dengan meneladaninya dalam pengaturan seluruh aspek kehidupan dan bersama-sama memperjuangkan sistem kehidupan Islam sesuai denganapa yang beliau wariskan.
Wallahualam Bissawwab
.jpg)