Oleh Tinie Andriyani
Pegiat Literasi
Nusantaranews.net, Setiap kali bulan Rabiul Awwal tiba, gegap gempita sambutan umat Islam menyelimuti berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai macam acara keagamaan digelar, mulai dari pembacaan shalawat massal, tabligh akbar dengan penceramah ternama, hingga pawai budaya yang melibatkan ribuan peserta. Momentum ini sejatinya merefleksikan rasa cinta yang mendalam dari umat Islam kepada Nabi Muhammad saw. Kendati demikian, jika ditelaah secara lebih mendalam, ada sebuah pertanyaan fundamental yang patut direnungkan bersama; apakah kecintaan yang diekspresikan setiap tahun ini telah berkolerasi secara linier dengan kebangkitan umat, ataukah ia sekadar menjadi rutinitas seremonial ?
Kementerian Agama Republik Indonesia serta berbagai instansi keagamaan sering kali menyerukan agar peringatan Maulid Nabi dijadikan momentum untuk bersalawat demi negeri serta meneladani akhlak mulia beliau (sindonews.com, Minggu, 23/8/2026).
Akan tetapi, di balik semarak dan pesan moral yang disampaikan, umat Islam kerap terjebak dalam romantisme sejarah yang sempit. Semangat perubahan hakiki yang dibawa oleh Rasulullah saw. kerap tereduksi menjadi ritual tahunan semata, tanpa ada upaya serius untuk mengkaji dan menerapkan risalah politik, sosial, dan ekonomi yang beliau perjuangkan untuk mengubah peradaban manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
Antara Semarak Ritual dan Defisit Kesadaran Ideologis
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa setiap tahun umat Islam merayakan Maulid dengan pembacaan shalawat yang merdu, tabligh akbar yang khidmat, hingga pawai keliling kota. Sayangnya, substansi dari peringatan tersebut kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional belaka. Gelora cinta yang membuncah di dada umat saat melantunkan puji pujian kepada Nabi saw. sering kali surut sekadar menjadi pengalaman spiritual sesaat, tanpa meninggalkan jejak perubahan yang signifikan dalam cara pandang hidup dan tata sosial masyarakat.
Lebih jauh lagi, pembahasan mengenai konsep ittiba' (meneladani) kepada Nabi saw. pada momentum Maulid masih sangat dibatasi pada ranah akhlak personal, seperti kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati. Pembahasan ini belum menyentuh kesadaran yang lebih krusial, yaitu kebutuhan mendesak untuk mengubah sistem jahiliyah modern yang ditandai oleh penghambaan kepada materi dunia dan hawa nafsu menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan secara murni dan konsekuen hanya kepada Allah Ta'ala.
Di sisi lain, tuntutan akan adanya perubahan mendasar di tengah umat sebenarnya telah lama muncul dan dirasakan oleh berbagai kalangan. Umat Islam mendambakan keadilan, kesejahteraan, dan kemuliaan hidup. Namun, arah dan metode perjuangan yang ditempuh sebagian besar masih sangat jauh dari metode perjuangan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Banyak gerakan umat yang terjebak dalam jalur pragmatisme politik praktis sekuler, sehingga alih alih mengubah sistem, mereka justru terjerat dan melanggengkan sistem rusak itu sendiri.
Mereduksi Cinta Tanpa Konsekuensi Ideologis
Berdasarkan realitas tersebut, analisis mendalam menyimpulkan bahwa peringatan Maulid Nabi saat ini telah tereduksi menjadi ekspresi kecintaan yang hampa dari konsekuensi ideologis. Padahal, cinta kepada Rasulullah saw. tidak boleh hanya dimaknai sebagai perasaan emosional yang meluap luap. Cinta yang benar kepada beliau harus melahirkan keterikatan yang kokoh pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa, yakni menegakkan kalimat Allah di muka bumi dan membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia menuju perbudakan kepada Sang Pencipta.
Umat Islam saat ini tampak kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik di era modern ini. Melalui penerapan demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme, dunia dan hawa nafsu telah dinobatkan sebagai orientasi hidup utama. Sistem kapitalis menempatkan materi sebagai tolok ukur segala sesuatu, menjadikan hukum akal manusia dan hawa nafsu sebagai sumber hukum, bukan lagi syariat Allah. Akibatnya, umat Islam hidup di bawah aturan yang batil, tetapi kerap tidak menyadarinya karena telah terbiasa dan terdoktrin oleh nilai nilai sekuler.
Tidak mengherankan jika kapitalisme, demi mempertahankan eksistensinya dan cengkeraman hegemoninya di negeri negeri Muslim, akan terus berusaha menghalangi setiap suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem secara hakiki. Berbagai stigmatisasi negatif, mulai dari tuduhan radikalisme hingga intoleransi, dialamatkan kepada siapa saja yang menyerukan penerapan Islam kaffah, demi menjaga agar umat tetap terlelap dalam ilusi kebebasan semu ala demokrasi sekuler.
Menempuh Jalan Kebangkitan yang Hakiki
Untuk keluar dari keterpurukan ini, konstruksi berpikir umat Islam harus dikembalikan kepada pijakan Islam yang sahih, diantaranya;
Langkah pertama adalah mengembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan total pada syariat dan metode perjuangan Nabi swt, bukan sekadar ritual seremonial.
Allah swt. berfirman;
"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran [3]: 31).
Langkah kedua, penerapan sistem kapitalis sekuler di berbagai negeri Muslim mewajibkan umat Islam untuk secara sadar dan terorganisir memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) melalui kepemimpinan umum umat Islam, yakni khilafah, sebagaimana dakwah dan kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. tatkala menegakkan negara Islam pertama di Madinah Al Munawwarah.
Langkah ketiga, metode perjuangan Rasulullah saw. harus diteladani secara utuh, yang ditempuh melalui tahapan (marhalah) yang jelas, yaitu: tatsqif (pembinaan dan pengaderan untuk melahirkan kader ideologis), tafa'ul ma'al ummah (interaksi dengan umat dan penyadaran umum agar umat mengemban Islam bersama), dan istilamul hukmi (penyerahan kekuasaan dari umat kepada kepemimpinan Islam untuk menerapkan syariat). Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana janji Allah Ta'ala:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya [21]: 107).
Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. seharusnya tidak berhenti pada ruang ruang resepsi yang penuh sesak oleh orasi tanpa aksi. Ia harus menjadi titik balik bagi kebangkitan umat Islam global untuk bangkit dari tidur panjangnya. Kecintaan kepada Rasulullah saw. wajib dibuktikan dengan kesiapan menanggung beban dakwah, membongkar akar sistem jahiliyah modern, dan menegakkan hukum hukum Allah di muka bumi.
Hanya dengan cara inilah umat Islam akan kembali meraih kemuliaan dan martabatnya, serta mengantarkan dunia ke dalam naungan keadilan risalah Islam yang penuh berkah.
Wallahu a'lam bishawab.
