Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Meneladani Semangat Juang dan Jiwa Kepemimpinan Rasulullah saw.

Tuesday, September 01, 2026 | September 01, 2026 WIB Last Updated 2026-09-01T12:48:10Z





Penulis : Zahra 
Pengajar dan Aktivis Dakwah

Di dunia ini Kelahiran Rasulullah Muhammad ﷺ seharusnya tidak sekadar diperingati sebagai seremonial saja. Mengingat momen kelahiran beliau hakikatnya merupakan buncahan rasa syukur umat Muhammad karena datangnya cahaya yang menjadi petunjuk. Di samping itu juga sebagai wujud cinta pada risalah yang dibawanya dimana telah dijanjikan Allah untuk dimenangkan di muka bumi ini. Sebagaimana firman-Nya: 

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ 

"Dialah Tuhan yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun kaum musyrik tidak suka." (QS. At-Taubah [9]: 33)

Mencintai Rasulullah ﷺ merupakan kewajiban. Bahkan mencintai beliau merupakan kesempurnaan iman bagi umat Muslim. Tetapi kecintaan pada beliau tidak hanya pengakuan emosional saja, tetapi harus diwujudkan dengan cara menjadikan ajaran beliau sebagai landasan hidup. Lebih jauh juga butuh dibuktikan dengan menaati sunah-sunah beliau dan membela kehormatannya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 13 yang artinya: 

"Katakanlah (Muhammad), "Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian serta mengampuni dosa-dosa kalian."."

Bahkan yang paling utama adalah kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya di atas kecintaan pada keluarga, harta, serta semua kenikmatan di dunia ini. Dalam hal ini Rasulullah ﷺ pun bersabda: 

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

"Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah yang menegaskan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah suatu jalan menuju kesempurnaan iman, juga jalan untuk mendapat cinta dan ampunan dari Allah Swt., serta jalan seorang Mukmin dapat berkumpul dengan beliau di akhirat kelak. 

Meneladani Rasulullah adalah Kewajiban

Bagi umat Muslim, Rasulullah ﷺ merupakan teladan yang sempurna dalam berkehidupan dan memperjuangkan tegaknya ajaran Islam. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt., dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 21, "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik untuk kalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah."

Masa kerasulan yang berjalan selama lebih dari dua puluh tiga tahun, Nabi Muhammad ﷺ sama sekali tidak memperjuangkan kepentingan pribadi beliau, keluarga, suku, juga kelompoknya. Rasulullah ﷺ mementingkan perjuangan dalam mendakwahkan risalah tauhid supaya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bahkan saat kaum Quraisy menawarkan kekuasaan, harta, serta wanita agar Rasulullah ﷺ berhenti berdakwah, beliau menolak semua itu dengan keteguhan yang sangat luar biasa. Bahkan ditegaskan oleh beliau melalui pamannya, Abu Thalib kepada mereka:

يَا عَمِّ، وَاللهِ، لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِي يَمِيْنِى وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِى عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا اْلأَمْرَ - حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ أَوْ أَهْلِكُ فِيْهِ - مَا تَرَكْتُهُ

"Demi Allah! Andai mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, niscaya aku tidak akan meninggalkan dakwah ini hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya." (Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiiq al-Makhtuum, 1/69)

Hal ini menjadi tanda integritas beliau yang tidak pernah mengesampingkan prinsip demi kepentingan duniawi, jabatan, dan materi. Allah Swt. juga mengingatkan beliau supaya tidak mengikuti keinginan kaum kafir dan munafik. Hal ini difirmankan Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 48.

Keteladanan Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwasanya berjuang dalam menegakkan kebenaran Islam menuntut keistiqamahan, keberanian, juga kemurnian niat karena Allah Swt. Keteguhan prinsip Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kesabaran dan keyakinan penuh pada pertolongan Allah Swt. dalam menjalani dakwah. 

Bahkan, dalam menjalani dakwah, Rasulullah saw. mengalami pemboikotan, penyiksaan, caci-maki, juga pengusiran dari tanah kelahirannya, serta berbagai peperangan. Tetapi, beliau sama sekali tidak kehilangan harapan terhadap janji Allah Swt. 

Keteladanan Rasulullah saw. dalam Memimpin Negara

Rasulullah ﷺ sebagai kepala Negara di Madinah membangun kepemimpinan di atas prinsip ketundukan penuh terhadap wahyu Allah Swt. Status sosial tidak dipandang dalam menegakkan keadilan, pejabat diangkat berdasarkan integritas, juga ketakwaan dan kompetensi.

Dalam menerapkan keadilan, Rasulullah saw. tidak membeda-bedakan umat-Nya antara yang miskin dengan si kaya, keluarga dekat ataupun orang lain. Ketika ada permintaan keringanan hukuman untuk seorang wanita dari kalangan bangsawan Quraisy yang melakukan pencurian, beliau bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ فَاطِمَةُ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

"Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad melakukan demikian (mencuri), niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR. Al-Bukhari dan  Muslim)

Kepemimpinan Rasulullah saw. menjadi teladan bahwasanya pemerintahan yang baik dibangun di atas keunggulan syariat Islam yang mengutamakan profesionalisme dan ketakwaan. Ini semua upaya mewujudkan kemaslahatan masyarakat, kehidupan islami, juga memuaskan dari berbagai bentuk penjajahan ideologi kufur. 

Meneladani Rasulullah saw., Secara Keseluruhan

Dampak dari pemikiran sekularisme yang merebak dewasa ini, menjadikan umat memisahkan agama dari urusan publik. Sebagian kaum Muslim hanya memandang Rasulullah saw. sebagai teladan dalam aspek ibadah ritual dan akhlak pribadi saja. Itulah akibat dari pemikiran sekularisme.

Padahal secara hakiki Beliau saw. berjuang sebagai pemimpin masyarakat, kepala negara, hakim, panglima, serta negarawan. Hal ini demikian kurang mendapatkan perhatian di kalangan umat. 

Padahal Al-Qur'an memerintahkan kaum Muslimin untuk manjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan yang menyeluruh, bukan sekadar dalam satu aspek kehidupan saja. Keteladanan ini mencakup seluruh aspek kehidupan yang dijalani oleh beliau sebagai hamba Allah Swt., pendidikan, dai, pemimpin negara, pemimpin masyarakat, juga pemerintahan di Madinah. 

Rasulullah ﷺ bukan hanya mengajarkan ibadah ritual saja seperti shalat, puasa, dan akhlak mulia semata. Beliau juga membangun masyarakat yang adil, menegakkan hukum Islam, menjaga keamanan dan kesejahteraan masyarakat, mengangkat pejabat yang amanah, juga membuat perjanjian dengan berbagai kelompok. Kita berharap diri kita dan umat Islam di seluruh penjuru dunia mencintai dan meneladani semua hal tersebut secara utuh tanpa dipilah. Wallahu a'lam bi ash-shawab.
×
Berita Terbaru Update