Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maulid : Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi SAW

Wednesday, September 02, 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T01:03:09Z

Oleh. Dhiella Az-Zahra

Sambut Rabiul awal 1448 Hijriah, Kementerian Agama ( Kemenag ) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini digelar melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H.

Salah satu agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.

"Rabiul awal adalah momentum untuk memperbanyak selawat dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Tetapi cinta tidak cukup berhenti pada lantunan selawat. Cinta harus berlanjut menjadi keteladanan dengan menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan: kasih sayang, persaudaraan, kepedulian, dan kecintaan kepada tanah air,” ujar Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi di Jakarta. (nasional.sindonews.com/23-8-2026)

Setiap tahun umat Islam merayakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan berbagai acara diantaranya pembacaan shalawat, tabligh akbar, bahkan pawai, namun substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional. Hanya sekedar ritual tahunan yang biasa dilakukan tanpa menunjukkan perubahan yang berarti.

Sedangkan pembahasan ittiba' kepada Nabi Muhammad SAW pada momentum Maulid masih dibatasi pada keteladanan akhlak, belum menyentuh kesadaran umat dalam mengubah sistem jahiliyah yaitu penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan kepada Allah SAW.

Arah dan Metode Perjuangan
Tuntutan perubahan sebenarnya telah muncul di kalangan umat Islam, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Nabi Muhammad SAW. Sehingga wajar belum tercapai.

Peringatan Maulid saat ini hanya sebatas kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Sejatinya, bentuk cinta kepada Rasulullah harusnya melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau emban.
 
Akhirnya umat kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik, melalui demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai prioritas hidup. Sistem demokrasi kapitalisme, untuk mempertahankan eksistensinya, akan selalu berusaha menghalangi suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem.

Makna Ittiba' yang Sebenarnya
Mengembalikan makna ittiba' sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi, bukan sekedar ritual peringatan kelahiran Nabi seperti yang tercantum dalam QS. Ali Imran : 31 yang artinya "Katakanlah (Muhammad) : Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Alah Maha Pengampun dan Maha Penyayang".

Dengan adanya penerapan sistem Kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim sehingga mewajibkan umat Islam memperjuangkan penerapan syariat kaffah melalui kepemimpinan Islam (Khilafah) sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah di Makkah.

Metode perjuangan dakwah Rasulullah ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah): tastqif, tafa'ul ma'al ummah, dan istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.




×
Berita Terbaru Update