Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Perceraian Menjadi Pilihan

Wednesday, September 02, 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T01:09:44Z

Oleh. Irma Sari Rahayu

Cerai. Sebuah kata yang sangat dihindari oleh setiap pasangan suami istri. Kehidupan berumah tangga yang harmonis, sakinah, mawadah, dan penuh rahmah tentulah yang diinginkan. Namun, saat biduk rumah tangga mulai diterapkan badai, perceraian kerap menjadi pilihan, baik terpaksa maupun suka rela. 

Di Bekasi, sebanyak 3.317 perkara perceraian diterima oleh Pengadilan Agama (PA) Bekasi. Dari angka tersebut, 2.544 perkara merupakan gugat cerai istri, sedangkan 773 perkara merupakan cerai talak dari suami. Alasan terbanyak kasus perceraian adalah adanya perselisihan dan pertengkaran, sedangkan motif selanjutnya adalah masalah ekonomi. (Radarbekasi.id, 24-8-2026) 

Sakinah yang Terkoyak

Setiap pasangan yang baru menikah pasti mendambakan rumah tangga yang sakinah. Tenang, harmonis, dan bahagia. Seiring perjalanan waktu, prahara dapat menerpa tanpa memandang waktu. Awalnya kecil, tetapi jika tidak tuntas lama kelamaan bisa semakin membesar dan memicu perselisihan. 

Kondisi inilah yang diungkap oleh pihak Pengadilan Agama Bekasi. Perselisihan yang menjadi alasan dominan perceraian yaitu sebanyak 2.042 kasus, tentu tak terjadi secara tiba-tiba. Perselisihan tersebut bisa jadi sudah berlangsung lama yang didasari berbagai persoalan. Mulai dari faktor ekonomi, perselingkuhan, atau alasan lainnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data di tahun 2023 bahwa perselisihan dan pertengkaran mendominasi penyebab perceraian sebanyak 251.258 kasus. 

Kehidupan serba materialistik saat ini menuntut seseorang mengejar materi untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, kondisi ekonomi negara yang semakin tidak menentu kerap menimbulkan gejolak pendapatan keluarga. Biaya hidup semakin meningkat, sedangkan pekerjaan sulit didapat. Tak jarang istri pun ikut berjibaku mencari nafkah. Kondisi lelah fisik dan psikis akibat pekerjaan ditambah permasalahan keluarga membuat emosi menjadi tidak stabil. Perkara kecil muncul langsung memantik perselisihan. 

Cerai Sebagai Jalan Keluar

Tak seindah pernikahan impian. Mungkin kalimat ini tepat untuk menggambarkan betapa mudahnya pasangan suami istri saat ini memutuskan tali pernikahan. Berapa banyak pasangan muda yang mendambakan romansa pernikahan bak cerita drama Korea atau China. Belum lagi standard penghasilan ala TikTok ikut memengaruhi benak pasangan muda dalam merangkai pernikahan impian. Mereka tidak menyiapkan mental untuk menghadapi kenyataan yang tak seindah ekspektasi. Alhasil rasa frustasi melanda.

Perselisihan yang tak kunjung usia akhirnya menyisakan bara yang sulit padam. Maka perceraian pun dipilih sebagai jalan keluar. Dengan dalih menempuh jalan terbaik, kata cerai seakan semakin mudah untuk diucapkan. Hal ini membuktikan betapa rapuhnya fondasi keluarga muslim saat ini. Masing- masing pasangan kadang tidak memahami posisi, hak, dan kewajiban sebagai suami dan istri. Pemahaman agama yang seadanya tak mampu meredam gejolak emosi yang memilih untuk segera diledakkan, alih-alih dikendalikan. Belum lagi jika ada pihak ketiga yang ikut memperkeruh suasana. 

Inilah realita keluarga muslim saat ini. Kehidupan sekuler kapitalistik menggerus fondasi keluarga hingga rapuh. Pernikahan terkadang tak lagi bernilai ibadah, tetapi hanya sekadar perubahan status saja. Pasangan pengantin pun kerap minim edukasi tentang peran dan tanggung jawab sebagai suami istri dan orang tua. Juga minim dalam kematangan mengelola emosi saat masalah datang. 

Pernikahan Sakinah Sesuai Syariat

Allah Swt. berfirman dalam surah Ar Rum ayat 21 yang artinya: “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan diantaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”

Dalam ayat itu dengan gamblang menjelaskan Allah menciptakan pasangan agar ada rasa tenteram saat bersama. Ketika rasa tenteram itu ada, Allah sempurnakan dengan perasaan cinta dan kasih sayang. Pernikahan yang didasari ketaatan kepada-Nya meniscayakan ketenteraman tersebut tercipta. Memang, tak akan ada biduk rumah tangga yang kosong dari ujian. Namun pasangan yang telah siap secara mental dan bekal agama yang kuat akan mampu melewatinya. 

Setiap ujian akan dihadapi bersama dengan sabar. Suami dan istri saling bahu-membahu menyelesaikan masalah demi masalah dengan landasan iman. Mereka meyakini bahwa setiap ujian yang menerpa adalah bentuk kasih sayang Allah yang jika mereka bersabar akan diganjar pahala. Meskipun perceraian adalah perkara mubah jika sudah tidak tercipta sakinah, tetapi tentu sudah melalui pertimbangan matang yang tidak dilandasi emosi sesaat. 

Maka penting untuk dimiliki oleh calon pasangan pengantin agar mereka menyiapkan bekal pengetahuan yang cukup. Ketaatan kepada syariat Allah adalah fondasi dasar dalam mengarungi biduk rumah tangga agar tercapai sakinah, mawaddah dan rahmah. 

Wallahua'lam. 


×
Berita Terbaru Update