Oleh : Rifka Nurbaeti, S.Pd (Pegiat Literasi)
Dalam menyambut Rabiulawal 1448 Hijriah, Kementerian Agama ( Kemenag ) menghimbau dan mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. ini digelar melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H. Diantara agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, sebuah gerakan nasional yang mengajak masyarakat dalam rangka memperkuat kecintaan kepada Rasulullah Saw. (Dikutif dari nasional.sindonews.com)
Tentunya pada setiap tahunnya umat Islam merayakan Maulid dengan pembacaan selawat, tabligh akbar, bahkan pawai, namun substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional. Berkaitan dengan pembahasan ittiba' kepada Nabi Muhammad Saw. pada momentum Maulid masih dibatasi pada seputar keteladanan akhlak saja, belum menyentuh kesadaran mengubah sistem jahiliyah—penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu—menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah. Munculnya tuntutan perubahan sebenarnya telah ada di kalangan umat Islam, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
*Maulid Sekedar Ekspresi Kecintaan Tanpa Konsekuensi Ideologis*
Peringatan Maulid telah mengalami pengaburan makna hanya menjadi ekspresi emosional belaka tanpa konsekuensi ideologis dan politis. Mencintai Rasulullah dipersempit maknanya hanya pada pujian di lisan atau mengikuti keagungan akhlak beliau semata, sementara risalah hukum dan tatanan hidup yang beliau perjuangkan justru diabaikan. Padahal, cinta sejati wajib melahirkan konsekuensi untuk terikat secara totalitas terhadap seluruh hukum yang beliau bawa.
Di samping itu juga, hilangnya kesadaran sistemik di tengah umat. Umat tidak menyadari bahwa bentuk penghambaan kepada selain Allah (thaghut) sebenarnya masih berlangsung secara massif dan terstruktur. Kehidupan masyarakat hari ini didikte oleh ideologi sekuler melalui sistem Demokrasi, Kapitalisme, dan Liberalisme. Tatanan ini menjadikan materi, kebebasan tanpa batas, serta hawa nafsu manusia sebagai tolok ukur utama kehidupan. Hukum buatan manusia diagungkan, sementara aturan Sang Pencipta dicampakkan ke ranah privat.
Belum lagi diperparah dengan adanya hambatan struktural dari penguasa sistem global. Sistem Kapitalisme, demi mempertahankan eksistensinya dan penguasaannya atas sumber daya dunia, akan terus berusaha menghalangi, mengerdilkan, serta memadamkan setiap suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem secara mendasar. Narasi-narasi Islam kerap dikerdilkan agar tidak menyentuh tatanan politis dan pemerintahan. Melihat realitas ini, memperingati kelahiran Rasulullah harus ditransformasikan menjadi kesadaran kritis untuk membongkar tatanan jahiliyah modern dan mengembalikannya pada tatanan Islam.
*Mengembalikan Makna Ittiba dan Cinta Pada Rasulullah Saw*
Kecintaan kepada Nabi tidak boleh lagi dikerdilkan sebatas ritual tahunan. Ittiba' yang sejati adalah keterikatan mutlak pada seluruh syariat dan metode perjuangan beliau. Allah SWT telah menegaskan syarat kecintaan ini dalam Al-Qur'an surah Ali-Ímran ayat 31 yang artinya: _"Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu_." Meneladani Nabi berarti mengambil seluruh ajaran beliau, baik dalam aspek ibadah, akhlak, maupun tatanan muamalah dan tata negara.
Saat ini umat jauh sekali dari tuntunan Nabi Saw., umat masih menerima sistem buatan manusia yakni penerapan sistem Kapitalisme-sekuler dibandingkan dengan system Islam yang dibawa oleh Nabi Saw yang berasal dari Allah SWT. Padalah sistem sekuler-kapitalis sangat nyata terbukti merusak moral dan mengaburkan keadilan di negeri-negeri Muslim. Oleh karena itu, seluruh kaum Muslimin di dunia harus bergerak memperjuangkan penerapan syariat secara kaffah (menyeluruh). Perjuangan ini diwujudkan melalui institusi kepemimpinan Islam, sebuah tatanan politik yang dulu didirikan oleh Rasulullah di Madinah untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi.
Perubahan yang dirindukan tidak akan pernah tercapai jika menggunakan cara-cara atau metode yang keluar dari koridor syariat. Perjuangan Rasulullah dalam mengubah masyarakat Makkah yang jahiliyah menuju Madinah yang Islami ditempuh secara baku melalui tiga tahapan (marhalah) :
1. Tahap Pembinaan dan Kaderisasi (Marhalah At-Tatsqif): Membina individu-individu agar memiliki kepribadian Islam dan pemahaman ideologis yang lurus.
2. Tahap Interaksi dengan Umat (Marhalah At-Tafa'ul Ma'al Ummah) : Membangun kesadaran umum di tengah masyarakat, membongkar kebobrokan sistem jahiliyah, serta menyebarkan pemikiran Islam secara terbuka tanpa kekerasan.
3. Tahap Penerimaan Kekuasaan (Marhalah Istilam Al-Hukmi) : Menyerahkan kepemimpinan politik kepada Islam untuk menerapkan syariat secara menyeluruh.
Hanya dengan konsistensi meniti metode perjuangan Rasulullah inilah, tatanan kehidupan Islam akan kembali tegak. Peringatan Maulid tidak lagi sekadar menjadi romantisme sejarah, melainkan bahan bakar spiritual dan ideologis untuk menghadirkan Islam sebagai _rahmatan lil 'alamin_---rahmat bagi seluruh alam---sebagaimana janji Allah dalam QS. Al-Anbiya : 107 yang artinya: "_Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi seluruh alam_."
_Wallahuálam bisshawab_
.jpg)