Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maulid dan Esensi Ittiba’ kepada Nabi

Saturday, September 05, 2026 | September 05, 2026 WIB Last Updated 2026-09-06T04:54:41Z




Oleh: Sartinah
(Pegiat Literasi)

Kelahiran Nabi Muhammad saw. menjadi cahaya dan berkah bagi kaum Muslim. Lantaran kelahiran dan kehadiran beliau, banyak manusia yang mendapat petunjuk hidup melalui risalah yang dibawanya. Hingga kini, kelahirannya masih terus diperingati setiap tahun oleh kaum Muslim melalui pembacaan selawat, tablig akbar, hingga pawai.

Pada tahun ini, pemerintah menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. dalam sebuah kegiatan Blissful Mawlid 1448 H. Salah satu agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, yaitu sebuah gerakan nasional yang mengajak masyarakat untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. Pada momen tersebut, Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi mengatakan bahwa acara tersebut dirancang untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. (Sindonews.com, 23-8-2026)

Sayangnya, Maulid yang selalu diperingati setiap tahun tersebut masih terbatas pada aspek ritual dan emosional. Pembahasan tentang ittiba’ (mengikuti atau meneladani) Rasulullah saw. dalam peringatan Maulid masih terbatas pada keteladanan akhlak beliau, belum sampai pada kesadaran mengubah sistem jahiliah menuju sistem Islam (menegakkan penghambaan hanya kepada Allah Swt.). Sistem jahiliah yang dimaksud adalah adanya penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu.

Meski begitu, suara-suara umat yang menuntut perubahan pada kehidupan Islam tetap ada. Sebagian kaum Muslim sejatinya sudah bersuara dan menghendaki perubahan. Sayangnya, arah perubahan dan metode yang disuarakan masih jauh dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. sehingga belum menghasilkan perubahan sesungguhnya.

Ekspresi Cinta tanpa Konsekuensi Ideologis

Ekspresi cinta kepada Rasulullah saw. haruslah melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang dibawa oleh beliau. Rasa cinta tersebut tidak boleh hanya sebatas aspek emosional, kultural, ataupun seremonial, misalnya hanya cukup dengan membaca selawat, menghadiri peringatan Maulid Nabi saw., mengagumi pribadinya, dan sebagainya. 

Mencintai Rasulullah saw. harus melahirkan konsekuensi ideologis. Konsekuensi tersebut akan membawa dampak pada cara berpikir, landasan hidup, pilihan politik, dan kepatuhan terhadap risalah dan perjuangan yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Makna inilah yang tereduksi dalam peringatan Maulid. Banyak Muslim yang mengaku mencintai Rasulullah saw., tetapi hanya terfokus pada romantisme, yakni mengagumi beliau hanya sebagai tokoh historis yang hebat, pahlawan kemanusiaan yang terkenal, atau seorang figur yang damai. Sementara sisi politisnya diabaikan.

Mirisnya lagi, sebagian Muslim merasa cukup mencintai Rasulullah saw. hanya dengan menghadiri peringatan Maulid. Sementara dalam kehidupan sehari-harinya justru mengabaikan atau menolak syariat yang beliau ajarkan, bahkan menentangnya. Cinta kepada Rasulullah saw. sering kali terkalahkan oleh cinta kepada dunia, bahkan sudah menjadi hamba dunia dengan memperturutkan hawa nafsunya.

Sadar atau tidak, umat ini masih belum memiliki kesadaran untuk menghamba kepada Allah Swt. semata dan mengikuti sunah Nabi saw. dalam seluruh aspek kehidupan. Pola pikir dan pola sikap sebagian besar umat Islam justru tidak tunduk kepada Allah Swt. dan syariat yang diturunkan. Penghambaan kepada selain Allah bahkan tidak hanya terjadi dalam skala individu, tetapi sudah terjadi secara sistemis, yakni melalui demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme. 

Di bawah naungan sistem demokrasi kapitalisme, umat mengikuti dan menerapkan aturan yang berasal dari luar Islam, baik dalam urusan politik, ekonomi, agama, sosial kemasyarakatan, dan sebagainya. Akibatnya, umat menjadi makin jauh dari Islam dan syariatnya. 

Mirisnya lagi, sistem demokrasi kapitalisme tidak memberi ruang bagi umat Islam untuk menyuarakan pendapatnya. Suara-suara kritis umat yang menghendaki perubahan sistem bahkan terus dihalangi dan dibungkam. Inilah salah satu cara yang dilakukan sistem sekuler untuk mempertahankan eksistensinya. Di tengah kehidupan yang jauh dari tuntunan wahyu, umat sudah seharusnya bangkit.

Mengembalikan Makna Ittiba” Hakiki

Ittiba’ kepada Nabi saw. harus dikembalikan pada makna sesungguhnya. Artinya, ittiba’ harus dimaknai sebagai keterikatan kepada syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan metode perjuangan yang dicontohkannya. Pasalnya, Rasulullah saw. selain sebagai individu yang memiliki akhlak dan ibadah luar biasa, beliau juga seorang kepala negara, hakim, dan panglima perang yang berhasil membangun peradaban yang luar biasa di bawah naungan Islam. 

Beliau berhasil membangun negara yang menerapkan syariat Islam secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan dan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia. Karena itu, mengikuti seluruh risalah yang dibawanya dan meneladani perjuangannya adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Allah Swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 31, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di tengah penerapan sistem kapitalisme sekuler saat ini, ittiba’ kepada Rasulullah saw. dan metode perjuangannya tidak lagi dilakukan secara sempurna. Ittiba’ kapada Rasulullah saw. hanya tersisa dalam aspek ibadah dan akhlak. Kondisi ini mengharuskan umat Islam memperjuangkan kembali penerapan syariat Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.

Namun, penerapan syariat Islam secara kafah tidak bisa dilakukan oleh individu maupun kelompok. Penerapan syariat secara totalitas hanya bisa dilakukan oleh sebuah institusi kepemimpinan yang berlandaskan syariat Islam, yakni Khilafah. Hal ini pula yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. ketika mendakwahkan Islam di Makkah. Rasulullah saw. membangun kesadaran umat dengan Islam dan menerapkan syariatnya dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara.

Dalam perjuangan menyadarkan umat dan menegakkan kehidupan Islam, Rasulullah saw. menempuh tiga tahapan dakwah, yakni tatsqif (pembinaan dan pengaderan), tafa’ul maal ummah (berinteraksi dengan umat), dan istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). 

Tahap pertama (tatskif) dilakukan untuk membentuk akidah dan kepribadian Islam secara individu melalui halakah-halakah kecil. Tahap kedua (tafa’ul maal umah) merupakan dakwah terang-terangan di tengah masyarakat dengan membongkar pemikiran rusak dan menawarkan Islam sebagai solusi. Sementara tahap ketiga (istilamul hukmi) merupakan tahap penerapan Islam secara totalitas. Tahap ini tercapai jika sudah ada thalabun nusrah (mencari dukungan tokoh politik/militer).

Dengan mengikuti metode yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. tersebut, kebangkitan berpikir umat akan terjadi dan kehidupan Islam akan tegak kembali sebagaimana yang pernah terjadi pada masa lalu. Di bawah naungan Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kafah, Islam benar-benar akan hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. 
Wallahu alam bissawab.
×
Berita Terbaru Update