Penulis: Nanih Nurjanah
Komunitas Muslimah Coblong
Nusantaranews.net, RRI Pro 1 Jakarta menggelar siaran pada Jumat, 21 Agustus 2026, dengan mengangkat tema “Momentum Bulan Maulid sebagai Bulan Peningkatan Kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam”. Program tersebut menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Tanah Abang, Muhamad Iqbal Akmaludin, S.Hum., sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar agenda seremonial untuk mengingat kelahiran Rasulullah SAW, melainkan kesempatan emas untuk meningkatkan kecintaan kepada beliau dengan mengenal dan meneladani akhlaknya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak mulia Rasulullah—seperti kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama—dinilai tetap sangat relevan diterapkan di tengah masyarakat modern saat ini. Terlebih lagi, derasnya arus informasi dan komunikasi digital kerap menghadirkan berbagai tantangan dalam menjaga tutur kata serta perilaku. Namun, di balik semaraknya perayaan Maulid yang diisi dengan pembacaan shalawat, tabligh akbar, hingga pawai, substansi peringatan tersebut kerap berhenti sebatas aspek ritual dan emosional semata. Padahal, kelahiran beliau sejajarnya merupakan wujud kesyukuran atas datangnya cahaya petunjuk yang membawa misi kemenangan bagi peradaban, sebagaimana firman Allah SWT dalam TQS at-Taubah ayat 33:
"Dialah Tuhan Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun kaum musyrik tidak suka."
Selama ini, pembahasan mengenai ittiba' (mengikuti) Nabi ﷺ pada momentum Maulid sering kali dibatasi hanya pada ranah keteladanan akhlak pribadi, dan belum menyentuh kesadaran untuk mengubah sistem yang tidak sejalan dengan Islam. Padahal, keteladanan Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran menuntut keistiqamahan, keberanian, dan kemurnian niat semata-mata karena Allah SWT. Di medan dakwah, beliau menghadapi berbagai tantangan berat mulai dari caci-maki, pemboikotan, penyiksaan, hingga pengusiran. Meskipun demikian, beliau tidak pernah kehilangan harapan karena senantiasa berpegang teguh pada janji Allah SWT, sebagaimana diperintahkan dalam TQS al-Ahqaf ayat 35: "Karena itu bersabarlah kamu (Muhammad) seperti para rasul sebelumnya yang mempunyai keteguhan hati..."
Dampak dari pemikiran sekularisme hari ini adalah kecenderungan memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik. Akibatnya, sebagian umat Islam hanya memandang Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam ibadah ritual dan akhlak pribadi, sementara kepemimpinan beliau sebagai kepala negara, hakim, panglima, dan negarawan kerap terabaikan. Padahal, Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan shalat dan puasa, tetapi juga membangun masyarakat yang berkeadilan, menegakkan hukum syarak, memimpin musyawarah, serta menjaga keamanan dan kesejahteraan umat secara menyeluruh.
Sudah saatnya umat Islam mengembalikan makna ittiba' sebagai bentuk keterikatan utuh pada syariat dan metode perjuangan Nabi ﷺ, bukan sekadar berhenti pada ritual tahunan. Penerapan sistem kapitalisme-sekuler hari ini telah menjauhkan umat dari aturan Islam yang kaffah. Karena itu, meneladani Rasulullah secara sempurna menuntut umat untuk memperjuangkan tegaknya aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk melalui penerapan metode dakwah yang dicontohkan beliau secara bertahap demi menghadirkan kembali rahmat bagi seluruh alam.