Oleh : Nita Karlina
Indonesia dengan kepemimpinan yang baru sedang melaksanakan program terbarunya yaitu makan bergizi gratis. Namun, setahun berjalan program tersebut menuai banyak kesalahan dan menimbulkan banyak korban.
Sebagaimana yang di lansir oleh CNN Indonesia,03/09/2026. Jumlah korban dugaan keracunan massal usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini mencapai 664 orang.
Tak hanya itu, Sebanyak 752 murid dan 25 guru SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa mengeluhkan diare, hingga toilet sekolah tak mampu menampung antrean. (Kompas.com,
03/09/2026)
Data terbaru yang sangat menyayat hati yaitu terdapat siswi berusia 16 tahun berinisial FP dilaporkan mengalami gangguan ingatan hingga tidak lagi mengenali guru dan teman-teman sekelasnya usai menyantap makanan dari program MBG, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (kompas.com,09/09/2026)
Kasus-kasus tersebut terjadi bukan pada tahun ini saja, mulai dari berjalannya program tersebut sudah mulai terdapat korban, hingga kini jumlah korban bukan berkurang melainkan terus bertambah dan makin parah. Pemerintah menilai ini adalah kesalahan SOP pada dapur ketika menyiapkan hidangan.
Kritik tajam pun datang dari berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat bahkan pengamat ekonomi indonesia. Banyak dari mereka menginginkan program tersebut di hentikan saja. Mereka mengatakan program tersebut tak layak dengan kondisi indonesia saat ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. Rakyat butuh lapangan pekerjaan bukan makanan gratis, rakyat butuh pendidikan gratis bukan makanan gratis.
Tak hanya itu, program tersebut menelan biaya yang sangat besar hingga harus memangkas anggaran di berbagai bidang mulai dari anggaran pendidikan, anggaran kesehatan dan lainnya. Mereka menilai program tersebut jauh dari visi indonesia yang ingin memajukan generasi bangsa. Namun, lihatlah fakta yang begitu menyayat hati tiap hari kita di suguhkan dengan berita keracunan yang tak kunjung reda.
Keracunan massal MBG tidak bisa ditimpakan pada kelalaian SOP saja. Namun ini cerminan kegagalan sistemis yang berpangkal pada mindset bisnis yg dipakai pemerintah demokrasi kapitalisme dalam mengurusi MBG ini. Program MBG sesungguhnya hanya program yang di buat menjadi mangsa baru bagi para koruptor di negeri kita. Lihatlah fakta yang sangat mengejutkan ketika mantan kepala BGN di tangkap dengan tuduhan korupsi senilai satu miliar per hari, angka yang sangat fantastis dan peristiwa korupsi di negeri kita ibarat rumput yang tumbuh subur dan selalu bertunas baru.
Namun inilah sistem kapitalisme, ketika terdapat manfaat bagi pemegangnya maka cara apapun akan di lakukan tanpa melihat kesejahteraan rakyatnya. Bahkan lebih parahnya hampir semua instansi pemerintahan saat ini memiliki dapur masing-masing dan bukan hanya satu, dua atau tiga, bahkan lebih dari itu di seluruh indonesia. Maka berapa banyak pun kritik yang berdatangan pemerintah seakan cuek dan tak mau mendengarkan.
Problem lain adalah lemahnya pengawasan negara terhadap program MBG. Semestinya tindak tegas pemilik dapur yang tidak mengawasi bawahannya ketika menyediakan makanan dengan tidak steril, ini bertujuan agar pemilik dapur lain takut ketika dapur mereka memiliki masalah yang sama. Dengan ini dapat mengurangi peristiwa keracunan tersebut.
Namun, inilah bisnis kapitalisme, mereka tak lagi melihat rakyat sebagai prioritas. Keuntunganlah yang membuat mereka buta akan peristiwa di luaran sana. Cuek terhadap rakyat, tak mau mendengar kritik dari rakyat, bahkan pemimpin kita mengatakan program ini akan terus berlanjut karena lebih banyak yang merasakan manfaatnya dari pada yang keracunan. Astagfirullah, apakah harus menunggu korban berjatuhan semua baru program ini di hentikan? Tanpa memperbaiki sistem pengaturan di dalamnya dan menindak tegas para pelaku kejahatan.
Dalam pandangan Islam, negara sepenuhnya berperan sebagai pelayan dan pengurus rakyat sehingga harus bersih dari tujuan-tujuan bisnis. Pandangan ini harus ada pada semua level pemerintahan dari pusat sampai kepada unit pelaksana teknis. Dari mindset ini akan lahir tanggung jawab penuh dalam pengurusan kebutuhan rakyat.
Dengan di landasi takut kepada Allah seseorang akan senantiasa terjaga dan menerima jika mereka di tegur karena kesalahannya.
Kejadian serupa sering kita dapati ketika kepempimpinan Islam yang memimpin dunia. Dari kisah Umar bin khattab yang seketika memikul sendiri gandum untuk rakyatnya yang kelaparan, karena ketika berjalan mengawasi rakyatnya, ia melihat seorang ibu yang merebus batu untuk mendiamkan anaknya yang menangis karena kelaparan. Dengan seketika ketakutan akan tanggung jawab di hadapan Allah menjadikan ia tunduk dengan begitu rendahnya.
Kemudian kisah gubernur amr bin ash yang ingin memperluas masjid namun ada gubuk tua di sebelahnya milik seorang yahudi. Amr pun memaksa yahudi tersebut untuk menyerahkan tanahnya. Ketika merasa terzolimi yahudi itu pun melapor kepada Khalifah Umar pada saat itu, lalu Umar memberikan sepotong tulang dan ia membuat garis lurus pada tulang tersebut dan meminta yahudi itu untuk memberikannya kepada amr. Sempat kecewa terhadap Kholifah pada saat itu, namun ketika ia memberikannya kepada gubernur amr, seketika itu panas dingin di badannya mulai bergetar tubuhnya, dan ia langsung meminta maaf kepada yahudi tersebut dan memberikan kembali tanahnya. Tak di sangka pesan sepotong tulang itu sebenarnya adalah menyuruhnya untuk kembali kejalan yang lurus atau engkau akan mendapat azab yang pedih. Seketika itu orang yahudi ini pun langsung memeluk Islam sebab keadilan yang luar biasa di dalamnya.
Begitulah seharusnya gambaran seorang pemimpin, kesejahteraan rakyat adalah hal utama baginya. Jauh dari kepentingan dirinya bahkan keluarganya. Terlebih dari keuntungan yang berbau bisnis. Pengawasan yang ketat dan tindakan tegas bagi siapa saja pejabat yang melanggarnya. Menerima kritik, dan senantiasa tunduk kepada sang pencipta. Akan menjadikan negara yang sejahtera dan sangat meminimalisir tindak kejahatan.
Dalam Islam terdapat qodhi hisbah. Qodhi hisbah (atau qadhi muhtasib) adalah hakim khusus dalam sistem peradilan Islam yang bertugas mengawasi ketertiban umum, moralitas, dan pasar berdasarkan prinsip amar ma'ruf nahi mungkar. Qodhi hisbah memimpin lembaga wilayah al-hisbah untuk menyelesaikan pelanggaran hukum syara yang sifatnya terbuka atau publik, tanpa harus menunggu adanya pengaduan atau tuntutan dari pihak korban.
Pengawasan pasar seperti memeriksa takaran, timbangan, keaslian barang dagangan, serta mencegah praktik kecurangan, penipuan, dan monopoli di pasar. Menjaga fasilitas umum dari kerusakan, menindak pelanggaran norma kesopanan di ruang publik, dan memastikan jalanan tidak terhalang oleh bangunan liar. Maka, jika ada program pemerintahan harus dalam pengawasan yang ketat. Mekanisme penyediaan makanan akan dikelola semudah dan seefisien mungkin. Disertai pula aspek pengawasan yang juga harus berjalan optimal, diantaranya Khilafah memfungsikan qadhi hisbah. Program MBG akan dengan mudah di jalankan jika sistem Islam yang di terapkan di indonesia. Wallahualam bishowwab.
