Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ittiba’ Nabi: Meneladani Nabi Secara Sistemik dan Bukan Parsial

Friday, September 11, 2026 | September 11, 2026 WIB Last Updated 2026-09-12T05:30:56Z




Oleh: Ummu Ghafiqi (Pengamat Kebijakan Sosial-Politik)

Setiap tahun umat Islam memperingati Maulid Nabi dengan pembacaan shalawat, tabligh akbar, hingga pawai, namun substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional. Sebagaimana pada tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia, dalam rangka merayakan Maulid Nabi, mengadakan kegiatan Blissful Mawlid 1448 H dengan salah satu agenda utamanya yaitu Gema Selawat Kebangsaan. Menurut Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, agenda Gema Selawat Kebangsaan diadakan untuk menghidupkan tradisi berselawat sekaligus meneladani akhlak Nabi Muhammad saw. dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa (nasional.sindonews.com).

Muchlis menyampaikan bahwa cinta kepada Rasulullah saw harus berlanjut menjadi keteladanan dengan menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan: kasih sayang, persaudaraan, kepedulian, dan kecintaan kepada tanah air. Dalam agenda yang lain, Penyuluh Agama Islam KUA Tanah Abang, Muhamad Iqbal Akmaludin, pada program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Jakarta (21/08/2026), mengatakan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada ucapan atau peringatan saja. Kecintaan itu perlu dibuktikan melalui perilaku dan akhlak kita dalam kehidupan sehari-hari (rri.co.id). 

Berbagai wejangan yang disampaikan pada agenda-agenda peringatan Maulid Nabi tersebut menggambarkan bagaimana ajakan untuk meneladani Rasulullah saw. sebenarnya telah ada di kalangan umat Islam, namun keteladanan yang dihimbau masih bersifat parsial. Pembahasan ittiba' kepada Nabi saw. pada momentum Maulid saat ini masih sebatas pada keteladanan akhlak, belum menyentuh keteladanan secara menyeluruh sebagaimana Nabi saw. mengubah sistem jahiliyah–yang tidak menegakkan syariat Islam–menuju sistem Islam yang hukumnya berlandaskan pada aturan Allah swt. dan telah dicontohkan oleh Nabi saw. 

Keteladanan yang Belum Menyeluruh

Pesan-pesan dalam peringatan Maulid Nabi kini tereduksi menjadi ekspresi kecintaan dengan tanpa konsekuensi ideologis. Padahal, cinta kepada Rasulullah saw. harus melahirkan keterikatan pada risalah yang beliau bawa dan keterikatan pada perjuangan beliau dalam menerapkan risalah berupa seperangkat aturan dari Allah swt. Inilah makna ittiba’ atau makna dari mengikuti Rasulullah saw. yang sesungguhnya, yakni meneladani Rasul bukan hanya dalam aspek akhlaknya saja, akan tetapi mengikuti Rasulullah saw. dalam beramal semaksimal mungkin sesuai aturan Allah swt. dan memperjuangkan aturan Allah swt. untuk diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Demikianlah perubahan yang diperjuangkan Rasulullah saw. sejatinya adalah perubahan yang sistemik, bukan perubahan yang bersifat parsial dalam aspek akhlak saja.

Sayangnya, saat ini kebanyakan umat muslim belum menyadari bahwa perubahan yang diperjuangkannya masih bersifat parsial dan penghambaan dirinya kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik. Maksudnya, umat muslim banyak memperjuangkan perubahan yang bersifat parsial, entah itu melalui perubahan pada aspek akhlak, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, dan sebagainya, akan tetapi dalam aspek yang sistemik, umat muslim masih mengambil demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme sebagai landasan.

Kondisi tersebut diperparah dengan karakter sistem Kapitalisme sebagai salah satu ideologi, yakni ia akan terus berusaha menghalangi kebangkitan sistem yang berbeda darinya, yaitu adalah sistem Islam. Alhasil, suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem terus-menerus diredam. Padahal, perubahan sistem dari sistem Kapitalisme menuju sistem Islam akan melahirkan perubahan yang hakiki dan menjadi solusi hakiki atas segala problematika umat saat ini.

Kembali Mengikuti Syariat dan Metode Rasulullah saw. 

Agar tidak terkungkung pada perubahan parsial yang tidak menuntaskan masalah, sudah saatnya kita memperjuangkan perubahan sistemik dengan dimulai dari mengembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi ﷺ, bukan sekadar ritual semata. Sudah saatnya kita berusaha semaksimal mungkin mengikuti ajaran yang dibawa Rasulullah saw. dan perjuangan yang beliau lakukan. Allah swt. berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 31:
قُلۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوۡنِىۡ يُحۡبِبۡكُمُ اللّٰهُ وَيَغۡفِرۡ لَـكُمۡ ذُنُوۡبَكُمۡؕ​ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ‏ 
“Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Melakukan perubahan yang sistemik dengan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam setiap aspek kehidupan, sebagaimana yang Rasulullah saw lakukan, adalah kewajiban umat Islam. Penerapan aturan Islam secara menyeluruh ini hanya bisa dilakukan melalui kepemimpinan Islam (Khilafah), sebagaimana yang telah dicontohkan pada perjalanan perjuangan dakwah Rasulullah saw.

Metode perjuangan Rasulullah saw. untuk mencapai penerapan syariat Islam secara menyeluruh ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah), yaitu: (1) tatsqif, yaitu tahapan pembinaan atau pengkaderan yang ditujukan untuk membentuk muslim yang berkepribadian Islam, yakni berpikir yang sesuai dengan ajaran Islam dan bertindak sesuai dengan syariat Islam; (2) tafa'ul ma'al ummah, yaitu berinteraksi dengan masyarakat untuk membangun kesadaran bersama agar masyarakat paham perlunya penerapan Islam kaffah; dan (3) istilamul hukmi, yaitu tahap penerimaan kekuasaan untuk kemudian diterapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam satu institusi negara. Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bishshawwab.
×
Berita Terbaru Update