Penulis Ideologis dan Aktivis Dakwah
Judul yang menggelitik. Buku “Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto mengamalkan Ajaran Islam," menimbulkan kontroversi. Sebagian besar dipicu oleh judulnya yang dinilai provokatif dan multitafsir. Terlebih memicu diskusi mengenai peran ulama atau lembaga keagamaan dalam lingkaran kekuasaan.
Buku Islam ala Prabowo setebal 346 halaman. Disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas. Diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House dan kembali viral setelah diunggah oleh akun-akun media sosial.
Buku ini resmi diluncurkan oleh Ketua Umum MUI KH. Anwar Iskandar dan Ketua Baznas Prof. Dr. KH. Noor Achmad, pada Selasa, 26 Agustus 2025 di Ballroom Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara. Penggagasnya Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua MUI.
Menariknya, buku Islam ala Prabowo merupakan kumpulan tulisan dan pandangan dari sejumlah tokoh agama, akademisi, dan politisi terhadap sisi keislaman Prabowo. Secara garis besar buku ini membahas bagaimana kehidupan pribadi, perjalanan karier militer, hingga kepemimpinan Prabowo sebagai Presiden. Buku ini juga menyoroti spiritualitas Prabowo terhadap isu umat Islam global seperti Palestina, serta perjuangannya untuk kesejahteraan rakyat. [Jawapos.com, 5/9/2026]
*BAHAYA: KETIKA ISLAM DIBERI LABEL*
Islam bukan milik seseorang, bukan milik ulama, pejabat atau presiden, juga bukan milik kelompok atau madzab tertentu.
Pertanyaannya: sejak kapan Islam punya versi penguasa? Sebab, sepanjang sejarah tidak ada brand penguasa menjadi standar Islam. Meskipun sekaliber Khalifah Umar bin Khattab, Sholahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih.
Sebab, Islam adalah agama Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. berupa risalah Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk mengatur kehidupan manusia di seluruh dunia, agar bahagia dan selamat di dunia dan di akhirat.
Jelas bahwa Islam untuk seluruh umat manusia. Bukan Islam punya "ala"? Bukan penguasa yang menjadi standar Islam. Tetapi penguasa yang harus diukur dengan Islam. Standarnya harus Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Pertanyaannya, apakah kebijakannya memimpin negeri ini dengan hukum Allah? Bagaimana upaya memerdekakan Palestina yang hanya berhenti di solusi dua negara dan keanggotaan BOP (Board of Protectors/Dewan Perdamaian)? Hasilnya nihil, hingga kini Palestina masih dijajah. Bagaimana pula dengan penguasaan SDA oleh segelintir orang, dan rakyat yang dicekik pajak? Padahal dalam Islam SDA milik umum dan tidak ada pajak kecuali darurat. Ironisnya ulama yang paham, justru diam.
*HILANGNYA FUNGSI ULAMA*
Dalam buku Islam ala Prabowo, tidak ditemukan satu pun kritik. Isinya bentuk apresiasi berupa pujian, sanjungan. Ini bukti kedekatan ulama pada penguasa. Apakah ulama tidak boleh dekat penguasa? Boleh, asal ada syaratnya. Dekat untuk menyampaikan kebenaran. Bukan dekat untuk mencari dunia.
Umat harus tahu. Para ulama terdahulu telah mengingatkan.
*Ada 3 Model Hubungan Ulama & Penguasa:*
*Model 1: Ulama Su'/ Ulama Jahat*
Cirinya: Ulama su' hanya mementingkan dunia untuk mendapatkan jabatan dan proyek. Menjadi stempel penguasa untuk melegalkan kebijakan batil dengan dalil. Menghalalkan yang haram. Fatwanya menyesatkan umat.
Dampaknya: Agama kehilangan wibawa. Umat bingung mana haq dan mana batil. Fatwa jadi alat kekuasaan, bukan alat kebenaran.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Seburuk-buruk manusia adalah ulama yang buruk, dan sebaik-baik penguasa adalah yang mendatangi ulama”
*Model 2: Ulama Kutub/Terpisah Total*
Cirinya: Sibuk ngaji di pesantren. "Saya nggak mau ikut politik, politik itu kotor."
Ulama model ini mencari aman, tanpa memedulikan umat. Membiarkan kebijakan zalim tetap jalan.
Dampaknya: umat dipimpin orang yang tidak paham halal-haram. Jadilah negeri diatur dengan hawa nafsu, bukan wahyu.
*Model 3: Ulama Robbani/Ulama Pewaris Nabi*
Ini yang dicontohkan para salaf.
Cirinya: Dekat penguasa untuk mengoreksi. Jauh kalau disuruh kompromi.
Fungsinya: Amar ma'ruf nahi munkar kepada penguasa. Menjadi rem dan setir. Dampaknya: Penguasa selamat dari neraka karena diingatkan. Umat selamat karena ada yang menjaga. Contohnya Imam Ahmad, dan ulama lainnya dipenjara karena menolak kebijakan zalim.
Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim” [HR. Abu Dawud]
Ulama model ke-3 inilah yang harusnya tampil sebagai "Al-Ulama Waratsatul Anbiya" (pewaris para nabi): melanjutkan tugas risalah nabi dalam menyebarkan ilmu agama, membimbing umat, beramar makruf nahi Munkar, dan menegakkan kebenaran.
*SEBAB RUSAKNYA ULAMA*
Nabi Muhammad saw. bersabda: “Dua serigala lapar tidak lebih merusak agama seseorang daripada cinta harta dan jabatan.” [HR. Tirmidzi]
Hadis tersebut dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali tentang kausalitas (sebab-akibat) kerusakan tersebut adalah: "Sesungguhnya kerusakan rakyat (umat) disebabkan oleh kerusakan penguasanya. Kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama. Dan kerusakan ulama disebabkan oleh kecintaan mereka terhadap harta dan kedudukan (cinta dunia).
Karena Cinta Dunia: Ulama tersebut terperdaya oleh materi, jabatan, serta takut kehilangan kedudukan. Siapa pun yang terperdaya terhadap dunia tidak akan kuasa. Dampaknya rusaknya penguasa dan rusaknya rakyat. Inilah yang terjadi di negeri ini.
*SEKULARISME ALAT PENJAJAHAN BARAT*
Akar masalah kerusakan ini akibat negara menganut sistem demokrasi kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sejatinya, sekularisme inilah alat penjajahan imperialis di negeri-negeri muslim termasuk di Indonesia.
Inilah fakta. Pelabelan Islam dikategorikan sebagai devide et impera (taktik pecah belah) merupakan agenda politik Barat untuk menciptakan polarisasi, konflik internal, dan ketidakpercayaan antar-kelompok.
Contoh kasus paling nyata adalah laporan dari lembaga pemikir (think tank) global seperti Rand Corporation pada era 2000-an. Laporan mereka memetakan umat Islam ke dalam kategori Islam Fundamentalis, Islam Tradisionalis, Islam Modernis/Demokrat, dan Islam Sekuler,
Selanjutnya diadu domba. Rekomendasinya secara eksplisit menyarankan membangun aliansi dan kompromi kelompok
"Islam Moderat/demoktat" dengan demokrasi sekuler untuk mengadang "Islam Fundamentalis." Kelompok ini menurut mereka Islam yang menuntut syariat kafah, menolak demokrasi sekuler, dan Barat. Oleh karena itu dicap radikal menjadi musuh bersama.
Dampak Adu Domba: Ketika suatu kelompok diberi cap "radikal" secara serampangan, dan kelompok lain dicap "paling toleran", ruang dialog akan tertutup.
Umat dan ulama digiring memilih zona aman atau jadi musuh bersama. Inilah cara menjinakkan umat dan ulama kritis.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin: "Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang."
*PENUTUP: KEMBALIKAN ULAMA PADA FUNGSINYA*
Masalah umat hari ini, banyak ulama model 1 (ulama su'/jahat) dan ulama kutub. Kita butuh ulama model ke-3 sebagai "Al-Ulama Waratsatul Anbiya" (pewaris para nabi): melanjutkan tugas risalah nabi dalam menyebarkan ilmu agama, membimbing umat, beramar makruf nahi mungkar, dan menegakkan kebenaran. Terpenting
berani menyeru penguasa "wajib berhukum dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah."
Itulah fungsi ulama seharusnya, menyelamatkan penguasa dari neraka.
Sebab, Islam mewajibkan penguasa (Khalifah), untuk memimpin negara dengan berhukum pada aturan Allah secara kaffah (menyeluruh). Karena itu, Islam tidak butuh "ala". Islam sudah sempurna, yakni Islam ala Nabi Muhammad saw. dan ulama tidak boleh lupa fungsinya sebagai ulama pewaris nabi.
Allah Swt. berfirman:
"Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh kalian yang sangat nyata." [QS. Al-Baqarah (2): 208]
Wallahua'lam bissawab.
