Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z Terhimpit: Ketika Hidup Makin Mahal, Healing Jadi Pelarian

Monday, September 07, 2026 | September 07, 2026 WIB Last Updated 2026-09-07T09:16:30Z

Oleh: N. Vera Khairunnisa

Generasi muda hari ini banyak yang tumbuh dengan kecemasan yang tidak tampak. Mereka terlihat aktif di media sosial: tertawa, membuat konten, nongkrong, mengikuti tren, membeli barang yang sedang viral. Dari luar, hidup mereka tampak baik-baik saja.

Tetapi di balik layar, ada yang sedang menghitung biaya kos. Ada yang bingung membayar kuliah. Ada yang menunda menikah karena merasa belum mampu. Ada yang bekerja lebih dari satu pekerjaan demi menambah penghasilan. Ada pula yang terus bertanya dalam hati, “Sebenarnya saya hidup untuk apa?”

Ini bukan sekadar asumsi. Data menunjukkan tekanan itu nyata.

Survei Deloitte Global 2025 terhadap 23.482 Gen Z dan milenial di 44 negara menemukan 48% Gen Z tidak merasa aman secara finansial, meningkat dari 30% pada survei 2024. Deloitte juga menemukan lebih dari separuh Gen Z dan milenial hidup dari gaji ke gaji, sementara lebih dari sepertiga kesulitan membayar biaya hidup setiap bulan.

Tekanan itu bahkan ikut mengubah rencana hidup. Dalam survei Deloitte Global 2026, 55% Gen Z mengatakan mereka menunda keputusan besar karena kondisi finansial, seperti menikah, memulai keluarga atau bisnis, maupun melanjutkan pendidikan. Sementara itu, 69% Gen Z mengatakan keterjangkauan atau ketersediaan rumah memengaruhi keputusan karier dan tempat mereka bekerja.

Jadi, ketika hari ini kita mendengar anak muda berkata, “Nanti dulu menikah, belum siap  secara finansial,” atau “Saya belum bisa punya rumah,” kita tidak boleh buru-buru menuduh mereka tidak mau dewasa. Bisa jadi mereka memang sedang hidup dalam sistem yang membuat kedewasaan semakin mahal.

Ketika Hidup Mahal, Mengapa Justru Disuruh Menikmati Hidup?

Di satu sisi, Gen Z dihimpit tekanan ekonomi. Namun di sisi lain, industri justru terus menawarkan konsumsi sebagai jalan menuju kebahagiaan: “Kamu pantas bahagia,” “jangan lupa self-reward,” “healing dulu,” atau “kamu sudah bekerja keras, belilah sesuatu untuk dirimu.”

Beristirahat dan menikmati sesuatu yang halal tentu bukan masalah. Islam tidak mengajarkan manusia hidup sengsara. Allah SWT berfirman:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

*“Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik? *(QS. Al-A'raf: 32) 

Persoalannya muncul ketika konsumsi dijadikan pelarian dari tekanan hidup dan kebahagiaan seolah-olah harus selalu dibeli.

Saat lelah mendera, pergi belanja. Saat sedih, memilih jalan-jalan. Saat stres, mencari tempat healing. Saat tidak percaya diri, sibuk memperbaiki penampilan. Akhirnya, kebahagiaan menjadi sesuatu yang harus dibeli.

Dan di sinilah kapitalisme menunjukkan wajahnya: sistem yang membuat manusia tertekan sekaligus menyediakan konsumsi sebagai pelarian dari tekanan tersebut.

Pendapatan terbatas, kebutuhan semakin banyak, iklan semakin agresif, keinginan terus diciptakan. Lalu ketika seseorang tertekan karena kondisi finansial, ia justru ditawarkan lebih banyak konsumsi sebagai cara untuk merasa bahagia.

Maka tidak mengherankan jika seseorang bisa berkata, “Aku sedang tidak punya uang,” tetapi beberapa saat kemudian memutuskan, “Ya sudah, aku healing dulu.” Ini bukan semata-mata karena Gen Z tidak mampu mengendalikan diri. Mereka hidup dalam sistem yang sangat piawai membaca keresahan, menciptakan keinginan, lalu menawarkan konsumsi sebagai jawaban atas rasa lelah dan tidak bahagia. Yang dijual bukan hanya barang, tetapi juga janji kebahagiaan.

Media Sosial Membuat Kita Terus Merasa Kurang

Dulu, seseorang membandingkan dirinya dengan tetangga. Sekarang, ia bisa membandingkan dirinya dengan jutaan orang setiap hari. Bangun tidur melihat orang liburan. Siang melihat orang membeli mobil. Sore melihat orang menikah. Malam melihat orang memamerkan penghasilan.

Setiap hari, media sosial menghadirkan standar baru tentang seperti apa kehidupan yang dianggap sukses dan layak dijalani. Akibatnya, seseorang perlahan berhenti bertanya, “Apakah aku benar-benar membutuhkan ini?” dan mulai bertanya, “Mengapa orang lain punya, sementara aku tidak?” Dari sinilah muncul FOMO (fear of missing out), rasa takut tertinggal dari tren, pengalaman, atau gaya hidup yang sedang ramai diikuti orang lain. Akhirnya, manusia membeli bukan karena membutuhkan barang tersebut, tetapi karena membutuhkan pengakuan.

Di sinilah budaya sekuler-liberal bekerja. Manusia diarahkan menjadi individu yang bebas menentukan kebahagiaannya sendiri. Tidak ada standar yang tetap tentang benar dan salah selain apa yang dianggap menyenangkan dan tidak merugikan menurut manusia.

Akibatnya, nafsu menjadi kompas: apa yang saya suka, saya lakukan; apa yang membuat saya senang, saya kejar; apa yang membuat saya tidak nyaman, saya tinggalkan. Hidup pun berubah menjadi proyek mencari kenyamanan.

Padahal kehidupan memang tidak diciptakan untuk selalu nyaman.

Persoalan yang Lebih Dalam

Kalau persoalannya hanya uang, mungkin solusinya cukup dengan menaikkan gaji. Kalau persoalannya hanya konsumtif, mungkin solusinya cukup dengan mengajarkan literasi keuangan. Tetapi ternyata tidak sesederhana itu.

Ada kekosongan yang lebih dalam: krisis makna.

Survei Deloitte 2025 menunjukkan bahwa 89% Gen Z menganggap rasa memiliki tujuan penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka. Bahkan 44% Gen Z mengatakan pernah meninggalkan pekerjaan karena merasa pekerjaan tersebut tidak memiliki tujuan.

Artinya, generasi ini tidak hanya mencari uang. Mereka juga mencari makna.

Dan di sinilah kita perlu bertanya: siapa yang memberikan jawaban tentang makna hidup itu?

Ketika agama disingkirkan dari kehidupan, manusia kehilangan pijakan untuk menjawab pertanyaan paling mendasar: untuk apa kita hidup? Kekosongan itu kemudian diisi oleh industri, media, influencer, dan budaya populer yang menawarkan berbagai definisi kebahagiaan: menikmati masa muda, mengumpulkan pengalaman, mengejar kesuksesan, atau menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Semua terdengar indah. Tetapi semuanya berhenti pada dunia. Lalu, ketika kesenangan diraih, kesuksesan dicapai, dan berbagai pengalaman sudah didapatkan, tetap muncul satu pertanyaan yang tak terelakkan:

Setelah itu, apa?

Islam memberikan jawaban yang tidak berubah sejak 14 abad lalu:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) *

Inilah titik yang sering hilang dari pembicaraan tentang Gen Z. Mereka tidak hanya membutuhkan pekerjaan, tetapi juga tujuan hidup. Tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga ketenangan. Tidak hanya membutuhkan hiburan, tetapi juga makna.

Dan semua itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan ekonomi kapitalistik.

Islam Tidak Menyuruh Anak Muda Kabur dari Dunia

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta, rumah yang baik, menggunakan teknologi, ataupun meraih kesuksesan. Islam justru mendorong umatnya menjadi pribadi yang kuat dan produktif. Yang diubah bukan keinginan untuk maju, melainkan orientasi hidupnya: harta bukan tujuan, kesuksesan bukan sekadar prestise, dan teknologi bukan alat untuk mengejar kesenangan tanpa batas. Semua itu harus menjadi sarana untuk beribadah kepada Allah, memberi manfaat, dan membangun kehidupan yang mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

*“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”.   ***(HR. Muslim) 

Islam membentuk generasi yang kuat: kuat iman dan ilmunya, kokoh mental dan fisiknya, mandiri secara ekonomi, serta mampu menguasai sains dan teknologi. Islam tidak mematikan semangat anak muda untuk maju dan bercita-cita tinggi, tetapi mengarahkan orientasinya. Kesuksesan tidak berhenti pada menjadi kaya atau terkenal, melainkan menjadi sarana memberi manfaat dan mengabdi kepada Allah.

Karena itu, seorang pemuda bisa bercita-cita menjadi dokter untuk menyelamatkan manusia, ilmuwan untuk mengembangkan ilmu, programmer untuk menguasai teknologi, pengusaha untuk membuka lapangan kerja, guru untuk mencetak generasi berkepribadian Islam, atau pemimpin untuk mengurus rakyat dengan amanah. Bekerja bukan sekadar mengejar karier dan penghasilan, tetapi menjadi bagian dari ibadah dan kontribusi bagi umat.

Di Sinilah Negara Islam Dibutuhkan

Persoalan Gen Z tidak bisa diselesaikan hanya dengan nasihat, “Anak muda harus lebih hemat.” Sebab, bagaimana mungkin kita terus menyuruh mereka berhemat ketika kebutuhan dasar semakin sulit dijangkau? Bagaimana meminta mereka menabung ketika harga rumah membuat memiliki tempat tinggal terasa seperti mimpi yang semakin jauh? Dan bagaimana mendorong mereka segera menikah ketika biaya hidup menjadi salah satu pertimbangan terbesar dalam membangun keluarga?

Kita tidak cukup hanya menuntut generasi muda pandai bertahan; kita perlu mempertanyakan sistem yang membuat mereka harus berjuang sedemikian keras untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar.

Sebab generasi yang kuat tidak mungkin lahir dari masyarakat yang terus-menerus dipaksa berjuang sendirian memenuhi kebutuhan dasarnya.

Islam memiliki pandangan yang berbeda tentang negara. Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

*“Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” *(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, negara bukan sekadar penguasa yang membuat aturan. Negara adalah pengurus rakyat.

Dalam sistem Islam, negara mengelola harta milik umum untuk kepentingan rakyat. Sumber daya alam yang menjadi milik umum tidak boleh dikuasai segelintir orang untuk memperkaya diri. Hasil pengelolaannya digunakan untuk menjalankan kewajiban negara dan memenuhi kemaslahatan rakyat.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap kebutuhan dasar. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi hak orang kaya. Kesehatan tidak boleh menjadi kemewahan. Keamanan adalah tanggung jawab negara. Lapangan pekerjaan harus tersedia dengan kondisi yang memungkinkan rakyat memperoleh nafkah secara layak.

Dengan demikian, penyelesaian masalah Gen Z tidak berhenti pada, “Ayo belajar mengatur uang.” Negara juga harus memperbaiki sumber persoalannya.

Lalu Seperti Apa Gen Z dalam Negara Islam?

Generasi muda dalam negara yang menjadikan Islam sebagai dasar pengaturan kehidupan tetap hidup di era AI. Mereka menggunakan smartphone dan internet, membuat konten, serta menekuni berbagai profesi modern seperti programmer, dokter, arsitek, pengusaha, ilmuwan, dan desainer. Kemajuan teknologi tetap diraih, tetapi tidak menggeser nilai dan tujuan hidup mereka.

Sejak kecil, generasi ini dibentuk dengan satu kesadaran mendasar: “Aku adalah hamba Allah.” Karena itu, ia tidak mengukur keberhasilan dari jumlah followers, barang bermerek, atau seberapa jauh ia bisa bepergian. Ia tidak merasa rendah diri karena hidup sederhana dan tidak menjadikan healing sebagai pelarian setiap kali hidup terasa berat. Ketika menghadapi masalah, ia tahu kepada siapa harus kembali: Allah. Ketika gagal, ia belajar bersabar; ketika berhasil, ia bersyukur.

Harta yang dimiliki tidak membuatnya lupa bahwa di dalamnya ada hak orang lain. Ilmu dipandang sebagai amanah, dan teknologi digunakan dengan kesadaran: untuk apa semua ini? Bahkan ketika memiliki kesempatan dan kemampuan, pertanyaan yang muncul bukan sekadar, “Apa yang bisa kudapat?”, tetapi “Apa yang bisa kuberikan untuk umat?”

Inilah generasi yang berbeda: bukan generasi miskin yang dipaksa bersabar, dan bukan pula generasi kaya yang diperbudak kesenangan. Inilah generasi yang sejahtera secara materi, kuat dalam ilmu dan teknologi, kokoh imannya, serta tinggi cita-citanya—karena hidupnya tidak sekadar mengejar dunia, tetapi mencari ridha Allah dan memberi manfaat bagi umat.

Media Tidak Lagi Sekadar Menjual Mimpi

Dalam sistem kapitalisme, media mudah menjadi bagian dari mesin ekonomi. Semakin banyak orang melihat iklan, semakin besar peluang barang terjual. Bahkan rasa kurang pun dapat diubah menjadi pasar: merasa tidak cantik ditawari produk kecantikan, merasa tertinggal ditawari tren terbaru, merasa lelah ditawari paket healing. Anak muda akhirnya bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi target pasar yang terus didorong untuk membeli.

Islam memandang media secara berbeda. Media semestinya menjadi sarana membentuk pemikiran dan kepribadian masyarakat, bukan terus-menerus membombardir generasi dengan gaya hidup hedonis. Feed anak muda dapat dipenuhi dengan ilmu dan inspirasi: ilmuwan Muslim yang mengembangkan teknologi, pemuda yang membangun usaha dan membuka lapangan kerja, ulama yang membahas persoalan kehidupan, sejarah kejayaan peradaban Islam, hingga diskusi tentang AI, ekonomi, politik, sains, kesehatan, dan pendidikan dalam perspektif Islam. Hiburan pun tetap ada, tetapi berada dalam koridor halal dan haram.

Dengan demikian, teknologi tidak dimatikan, tetapi diarahkan. Internet tetap digunakan, AI tetap dikembangkan, media sosial tetap menjadi ruang kreativitas, tetapi semuanya berada dalam kendali nilai Islam. Generasi muda tidak dibiarkan menjadi budak teknologi dan konsumen yang terus mengejar tren, melainkan diarahkan menjadi pengguna sekaligus pencipta yang memberi manfaat.

Dari Generasi Konsumen Menjadi Generasi Peradaban

Di sinilah perbedaan mendasarnya. Kapitalisme membutuhkan manusia sebagai konsumen yang terus membeli dan mengejar kepemilikan. Islam membentuk manusia sebagai hamba Allah sekaligus pengemban risalah. Jika kapitalisme terus mendorong manusia bertanya, “Apa yang bisa kamu beli?”, Islam mengajarkan pertanyaan yang jauh lebih mulia: “Apa yang bisa kamu berikan?” Sebab kesuksesan dalam Islam tidak diukur dari sebanyak apa yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar ketakwaan dan manfaat yang diberikan bagi kehidupan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) 

Maka solusi terhadap persoalan Gen Z tidak cukup dengan mengubah kebiasaan belanja, mengikuti seminar literasi finansial, atau sekadar melakukan detoks media sosial. Semua itu mungkin membantu pada level individu, tetapi tidak menyentuh akar persoalan. Sebab yang membentuk perilaku generasi bukan hanya pilihan pribadi, melainkan juga sistem kehidupan yang melingkupinya. Karena itu, dibutuhkan perubahan yang lebih mendasar: akidah Islam menjadi landasan kehidupan dan syariat menjadi standar dalam mengatur seluruh urusan manusia.

Perubahan itu harus dimulai dari keluarga dan pendidikan. Keluarga harus menjadi tempat pertama pembentukan kepribadian Islam, sementara pendidikan tidak cukup hanya mencetak generasi pintar dan siap kerja, tetapi juga melahirkan manusia yang berilmu, bertakwa, dan memiliki visi kehidupan yang benar. Media pun harus diarahkan untuk membangun pemikiran dan kepribadian masyarakat, bukan sekadar mengejar keuntungan dengan menjadikan manusia sebagai pasar.

Di sisi lain, negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjalankan fungsi riayah, yaitu mengurus dan melindungi rakyat. Negara harus menjamin kebutuhan dasar, menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan rakyat hidup layak, mengelola kekayaan umat sesuai syariat, serta menjaga masyarakat dari berbagai hal yang merusak pemikiran dan kepribadian. Dengan demikian, generasi muda tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi sekaligus serbuan budaya konsumtif.

Inilah generasi yang kita inginkan: generasi yang tidak rapuh hanya karena gagal mengikuti tren, tidak merasa rendah diri karena tidak memiliki barang mahal, dan tidak menjadikan dunia sebagai satu-satunya tujuan. Generasi yang mampu menguasai AI tanpa diperbudak AI, menguasai teknologi tanpa kehilangan iman, menghasilkan kekayaan tanpa menjadi budak harta, serta menikmati dunia tanpa menjadikannya tujuan hidup.

Sebab persoalan Gen Z sebenarnya bukan sekadar tentang healing, self-reward, atau kemampuan mengatur keuangan. Jauh di balik semua itu ada pertanyaan yang lebih mendasar: sistem seperti apa yang sedang membentuk mereka? Apakah sistem yang melihat manusia terutama sebagai pasar dan konsumen, atau sistem yang memandang manusia sebagai hamba Allah yang harus dijaga agama, akal, kehormatan, harta, dan kehidupannya?

Jika kita sungguh ingin menyelamatkan Gen Z, jangan hanya mengajari mereka bagaimana bertahan hidup di tengah sistem yang menekan. Berikan mereka visi kehidupan yang benar. Bangun keluarga yang kokoh, pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, media yang menjaga pemikiran, masyarakat yang saling menopang, dan ekonomi yang menjamin kebutuhan rakyat. Semua itu membutuhkan sistem kehidupan yang menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai landasan pengaturan masyarakat dan negara.

Anak-anak muda kita tidak seharusnya menghabiskan masa mudanya hanya untuk bertanya, “Bagaimana aku bisa bertahan hidup?” Mereka layak memiliki kesempatan untuk bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan agar hidupku berarti di hadapan Allah?”

Dari pertanyaan itulah, insyaallah, lahir generasi yang tidak sekadar mampu bertahan menghadapi zaman, tetapi memiliki ilmu, iman, keberanian, dan visi untuk membangun peradaban.
×
Berita Terbaru Update