Oleh: Nani, S.Pd.I (Pemerhati Remaja Andoolo)
Hari gajian tiba dan notifikasi transfer masuk di layar telepon genggam. Hanya dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung mengakses aplikasi perbankan digital untuk melunasi sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda. Begitu kewajiban tersebut tuntas, sebagian lainnya bergeser membuka keranjang belanja daring yang sudah mereka isi sejak beberapa hari sebelumnya.
Ada yang membeli kosmetik atau parfum baru, memesan kopi kekinian dan matcha, memperpanjang langganan musik digital, berburu kuliner di restoran yang sedang viral, menonton bioskop, hingga mengincar tiket konser. Aktivitas semacam ini telah dianggap sebagai hal yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal lewat berbagai istilah—mulai dari self-reward, little treat, sampai healing tipis-tipis. Meski begitu, bagi sebagian orang, pengeluaran semacam ini dinilai sebagai bentuk pemborosan (Kompas, 12/ 8 /2026).
Gempuran gaya hidup mewah yang terus menerus menerpa Gen-Z membuat standar hidup mereka ikut terkerek naik. Rasa takut tertinggal tren (fear of missing out) memaksa generasi muda membeli barang maupun jasa yang sebenarnya tidak mendesak, sekadar demi menghindari celaan dari lingkaran pergaulan.
Tekanan kerja atau kepenatan hidup kerap dialihkan pada aktivitas belanja, alih-alih mengambil waktu istirahat yang berkualitas. Bukannya mendapatkan kedamaian hati, uang justru amblas untuk kesenangan sementara hingga mengabaikan pentingnya tabungan dana darurat. Gen-Z menganggap belanja dapat meredakan stres seketika, padahal langkah tersebut justru berpotensi memicu stres baru ketika lembaran tagihan mulai berdatangan.
Di tengah himpitan ekonomi saat ini, porsi alokasi dana Gen-Z untuk self-reward, healing, dan pemenuhan gaya hidup justru terus membengkak. Hal itu dianggap sebagai sarana pemuas emosi yang wajib dipenuhi, bukan lagi sekadar kemewahan. Orientasi hidup yang berpusat pada kepuasan materi membuat sebagian Gen-Z kehilangan pegangan serta makna sejati dalam menjalani keseharian. Minimnya visi hidup yang jelas melahirkan kebingungan dalam merancang masa depan di tengah gempuran tren digital. Tekanan ekonomi tersebut diperparah oleh media sosial yang terus membombardir mereka dengan tren populer yang memicu sikap konsumtif dan belanja impulsif—hingga pada akhirnya mereka lebih menuruti hawa nafsu dibanding mengejar ridha Allah.
Dalam pandangan ideologi kapitalisme, lahir tekanan ekonomi yang menghimpit Gen-Z di mana biaya hidup terus melambung sementara kenaikan gaji cenderung stagnan. Dalam konsep kapitalisme, negara hanya bertindak sebagai regulator dan tidak mengambil peran nyata untuk menjamin kebutuhan dasar setiap warganya. Pada akhirnya, Gen-Z dibiarkan berjuang sendiri melintasi krisis.
Kondisi ini makin diperburuk oleh arus budaya sekuler yang meminggirkan peran agama dari kehidupan sehari-hari. Asas kebebasan yang menjadi landasan hidup memicu rasa cemas yang berkepanjangan serta perilaku konsumtif. Ketidakamanan finansial kian menyeret generasi muda pada pemburu kepuasan jangka pendek.
Interaksi di dunia virtual secara sadar maupun tidak mendesak seseorang untuk membandingkan realitas hidupnya dengan gambaran kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar kaca.
Dahaga akan validasi sosial berupa likes atau komentar menyuburkan budaya konsumtif serta dorongan untuk selalu mengekor tren demi mempertahankan relevansi diri.
Pada akhirnya, ukuran kebahagiaan bergeser pada apa yang dimiliki dan apa yang dapat dipamerkan. Ketika tidak mampu menyamai standar tersebut, seseorang akan dengan mudah merasa gagal, tertinggal, bahkan menganggap dirinya tidak berharga.
Permasalahan akut ini harus segera ditemukan solusinya dan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Pemecahan masalah Gen-Z tidak cukup sekadar mengandalkan seminar motivasi, kampanye kesehatan mental, atau imbauan agar lebih bijak mengelola uang. Semua itu memang memberi dampak pada level individu, tetapi akar persoalannya membutuhkan perubahan paradigma dan pemikiran secara mendasar.
Sistem yang mampu menyelesaikan persoalan ini secara tuntas adalah sistem Islam. Di bawah naungan Khilafah, negara menjamin pemenuhan kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) secara mandiri serta memastikan ketersediaan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat—termasuk Gen-Z tidak akan berjuang sendirian. Negara dalam konsep ini akan membatasi hingga menutup akses terhadap konten yang bertentangan dengan akidah Islam. Media massa diarahkan sepenuhnya untuk membangun ketakwaan, pendidikan moral, dan nilai-nilai keimanan, bukan sekadar mengejar profit komersial bebas.
Oleh sebab itu, negara bertugas menjauhkan Gen-Z dari pola hidup hedonis dan melindungi generasi muda dari paparan konten merusak berbasis sekularisme-kapitalisme beserta turunannya. Media dalam Khilafah ditujukan sebagai sarana edukasi dan peningkatan kualitas takwa masyarakat.
Pada akhirnya, Islam membangun paradigma yang lurus mengenai hakikat eksistensi manusia, yaitu murni untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Islam tidak melarang seseorang menikmati kesenangan, tetapi mengajarkan agar rasa senang tersebut tidak melampaui batas syariat. Kesenangan yang diperoleh dari hal-hal halal dan membawa manfaat justru sangat dianjurkan.
Kebahagiaan sejati dalam pandangan Islam diraih melalui penguatan iman, penataan ibadah, dan perbanyakan amal saleh. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Taha: 124)
Ayat ini menegaskan betapa pentingnya mengingat Allah sebagai satu-satunya sumber kedamaian. Dengan fondasi akidah yang kokoh, generasi muda akan memiliki visi jelas sebagai pembangun peradaban Islam. Wallahu a'lam bish-shawab.
