Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bagaimana Mewujudkan Cinta kepada Nabi?

Wednesday, September 09, 2026 | September 09, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T02:16:49Z




Oom Rohmawati 
Pegiat Literasi 

Rabiulawal adalah bulan sejarah kelahiran Nabi Muhammad saw. yang senantiasa dirayakan oleh sebagian umat Islam. Momen ini dijadikan sebagai wujud cinta dan kerinduan. Di antara pembuktian cinta ini, ada yang menyambutnya dengan membaca Barzanji bersama, mengadakan tablig akbar, pawai, lomba-lomba dan yang paling utama adalah dengan berselawat. Sebagaimana yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) yang mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat kepada Nabi. Kemenag, Muchlis M. Hanafi mengatakan, Gema Selawat Kebangsaan dirancang sebagai ruang bersama untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. (Sindonews.com, 23/8/2026)

Kelahiran dan kehadiran Rasulullah Muhammad saw. di dunia ini semestinya tidak hanya disikapi dengan peringatan yang bersifat seremonial semata. Sebab, beliau adalah pembawa  risalah yang menjadi panduan bagi umat dalam menjalani kehidupan, sekaligus merealisasikan kecintaan kepada Nabi. Allah Swt. mengutusnya untuk menjadi cahaya kebenaran dan membimbing manusia pada jalan keimanan yang hakiki. Maka dari itu, kecintaan kepada beliau tidak boleh sekadar ungkapan emosional, tetapi harus diwujudkan dengan menaati apa yang beliau bawa secara menyeluruh, tidak memilih-milih. Seperti, menjalankan sunahnya, menghormati dan menjadikan ajaran beliau sebagai pedoman hidup.

Namun jika diamati, maulid Nabi dari tahun ke tahun tidak membawa perubahan dan hanyalah ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Padahal masyarakat telah merasakan kebobrokan dari sistem ini. Mereka menuntut perubahan, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah saw. Selama yang berlaku masih aturan buatan manusia, maka perubahan itu hanya ilusi. Sehingga wujud cinta kepada Nabi tidak melahirkan keterikatan pada perjuangan yang telah dibawa oleh Rasulullah saw.

Bahkan mereka tidak menyadari bahwa dirinya masih menghamba kepada selain Allah Swt. tetapi aturan buatan manusia yaitu kapitalisme sekuler beserta turunannya yakni demokrasi liberal yang menjadikan hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Allah Swt. Berfirman, yang artinya:

"Katakanlah (Muhammad)! Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (TQS: Ali Imran ayat 31)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Al-Qur'an Al-Azhim menyatakan bahwa ayat yang mulia ini bermakna bahwa setiap orang yang mengakui dirinya cinta kepada Allah, sedangkan sepak terjangnya bukan pada jalan yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad saw., maka sesungguhnya dia adalah orang yang dusta dalam pengakuannya, sebelum ia mengikuti syariat Nabi saw., dan agama yang dibawanya dalam semua ucapan dan perbuatannya.

Berdasarkan penjelasan ini, ittiba' (mengikuti) kepada Nabi Muhammad saw. adalah bukti cinta kepada Allah. Sedangkan ittiba' kepada Nabi meniscayakan untuk meneladani beliau dalam seluruh aspek kehidupan beliau, termasuk di dalamnya berdakwah, dan memimpin umat untuk menerapkan syariat Islam. Dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus lebih diutamakan di atas kecintaan kepada keluarga, harta dan seluruh kenikmatan dunia.

Dalam sebuah hadis diungkapkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih kalian cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia. (HR. Al -Bukhari dan Muslim)

Dakwah Nabi tidak semata mengajarkan bagaimana bersabar, berakhlak mulia, dan istikamah tetapi beliau juga mencontohkan bagaimana Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan termasuk pemerintahan melalui dakwah politis. Sehingga Islam bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Oleh karenanya, merupakan kewajiban umat Islam untuk mengembalikan makna ittiba' yang sesungguhnya. Yaitu meneladani sikap dan perjuangan Rasulullah saw. untuk terikat pada hukum syarak (aturan Allah Swt.) secara sempurna. Selama 23 kerasulannya beliau tidak pernah memperjuangkan kepentingan pribadi, keluarga, suku ataupun kelompok, tetapi murni agar manusia menghamba pada Allah Swt. semata. Meneladani Rasulullah saw. berarti membangun komitmen untuk memperjuangkan Islam secara kafah dan istikamah. Tidak tunduk pada intimidasi, godaan maupun kompromi yang bertentangan dengan syariat terutama pada sistem sekularisme. 

Sekularisme adalah pemahaman memisahkan agama dari urusan publik. Akibatnya sebagian kaum muslimin hanya memandang Rasulullah saw. sebagai teladan dalam aspek ibadah ritual seperti, salat, puasa dan akhlaknya. Padahal beliau membangun masyarakat yang berkeadilan, menegakkan hukum Islam, memimpin musyawarah, mengangkat pejabat yang amanah dan berkompeten, menjaga keamanan dan menyejahterakan masyarakatnya. 

Dengan demikian, umat Islam wajib memperjuangkan penerapan syariat Islam secara sempurna dengan membangun Daulah Islam, al-Khilafah sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw. di Makkah. Adapun metode yang beliau contohkan untuk mewujudkan itu semua melalui tiga tahapan. Di antaranya melalui pertama, tasqif, atau mendidik, dan mencerdaskan umat secara intensif, sehingga memiliki pola sikap, dan pola pikir Islam. Dengan pembinaan yang terus-menerus akan lahir sumber daya manusia yang saleh salehah. Kedua, tafa'ul ummah, yaitu berinteraksi dan bergaul untuk menyatukan umat dan mendakwahkan Islam sampai ke penjuru dunia. Ketiga, Isti’lamul hukmi yaitu penerimaan kekuasaan atau penyerahan pemerintahan yang lama ke yang baru dan penguasa akan menerapkan aturan Allah Swt. 

Jika umat bersungguh-sungguh berittiba' kepada Rasulullah saw, harapan Islam bisa menjadi cahaya dan rahmat bagi seluruh alam akan segera terwujud. Untuk itu tunjukkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw. dengan berjuang untuk menyatukan umat Islam di seluruh dunia dengan apa yang beliau contohkan yaitu memahami dan mendakwahkan Islam secara kafah. 

Wallahu 'alam bish-shawwab
×
Berita Terbaru Update