Nusantaranews.net, Lima Puluh Kota — Bencana tidak pernah memilih waktu. Ketika banjir datang, longsor bergerak, angin kencang menerjang atau kebakaran hutan dan lahan terjadi, kecepatan bertindak dapat menjadi penentu keselamatan masyarakat.
Kesadaran itulah yang menjadi pesan utama dalam Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026 di GOR Singa Harau, Selasa (15/9/2026).
Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Apel tersebut menjadi momentum untuk memastikan personel, sarana prasarana, peralatan, komunikasi dan koordinasi benar-benar siap digunakan ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Kabupaten Lima Puluh Kota sendiri memiliki sejumlah potensi bencana, di antaranya banjir, tanah longsor, angin kencang, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem serta berbagai bencana hidrometeorologi lainnya.
Karena itu, menurut Ahlul, kewaspadaan harus dibangun sebelum bencana terjadi.
"Dalam menghadapi bencana, kecepatan dan ketepatan tindakan sangat diperlukan. Karena itu, kita harus mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi, bukan menunggu setelah bencana datang," pesannya.
Ada satu pesan penting yang ditekankan dalam apel tersebut: menghadapi bencana bukan pekerjaan satu lembaga.
Ahlul menyebut penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah, TNI, Polri, OPD, kecamatan, nagari, relawan dan masyarakat harus mampu bekerja secara terpadu.
Artinya, kesiapan menghadapi bencana tidak hanya dibangun ketika sirene berbunyi atau ketika laporan kejadian masuk. Kesiapsiagaan juga harus tumbuh di tengah masyarakat melalui pengetahuan, komunikasi dan koordinasi yang baik.
Kepada para camat dan wali nagari, Ahlul mengajak agar edukasi dan kesadaran masyarakat terus ditingkatkan. Masyarakat perlu mengetahui potensi bencana di lingkungannya sekaligus memahami langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
"Mari kita bangun budaya sadar dan tangguh bencana di seluruh wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota," ajaknya.
Pesan tersebut menjadi penting karena penanganan bencana membutuhkan gerak cepat. Personel diminta menjaga disiplin dan profesionalitas, sekaligus memastikan kesiapan fisik dan peralatan.
Koordinasi dan komunikasi antarinstansi juga harus terus diperkuat agar setiap unsur mengetahui peran masing-masing ketika menghadapi situasi darurat.
Pada akhir sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkomitmen dalam penanggulangan bencana.
Ia berharap kesiapsiagaan semakin kuat dan koordinasi seluruh unsur semakin baik, sehingga pemerintah bersama seluruh elemen terkait dapat memberikan perlindungan dan pelayanan terbaik kepada masyarakat apabila bencana terjadi.
Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026 tersebut diikuti unsur pemerintah daerah dan pemangku kepentingan penanggulangan bencana, termasuk TNI, Polri, perangkat daerah serta unsur lainnya.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan tentang seberapa sering apel digelar. Lebih dari itu, kesiapsiagaan adalah tentang seberapa cepat dan tepat semua pihak mampu bergerak ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. (R.Sitepu)
