Oleh: Ani Hayati, S.Hi
Menyambut Rabiulawal 1448 H, Kementerian Agama mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat melalui Blissful Mawlid 1448 H. Salah satu agendanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, sebagai gerakan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. (SINDOnews, 23 Agustus 2026).
Namun ada satu pertanyaan yang mungkin membuat kita sedikit garuk-garuk kepala:
Kalau cinta kepada Nabi ﷺ hanya berhenti di panggung, spanduk, pawai, dan selawat… lalu kapan cinta itu masuk ke kehidupan kita?
Sebab mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar tahu kapan beliau lahir. Bukan pula hanya mampu berselawat dengan suara merdu.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ seharusnya membuat kita ingin mengikuti beliau.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali Imran: 31).
Maulid Jangan Berhenti pada Seremonial
Setiap tahun kita menyaksikan Maulid dengan berbagai bentuk: pembacaan selawat, ceramah, tabligh akbar hingga pawai.
Semua itu bisa menjadi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Namun jangan sampai acara selesai, konsumsi habis, foto sudah diunggah… lalu keteladanan Nabi ikut selesai.
Justru pertanyaan pentingnya adalah:
Apa yang berubah dalam diri kita setelah Maulid?
Apakah hanya semakin hafal kisah kelahiran Nabi ﷺ?
Ataukah semakin kuat pula keinginan untuk mengikuti risalah dan perjuangan beliau?
Ittiba' Bukan Sekadar “Meniru Akhlak”
Meneladani Nabi ﷺ tentu mencakup akhlak: jujur, amanah, sabar, penyayang dan menjaga lisan.
Tetapi Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang pribadi yang memiliki akhlak mulia.
Beliau adalah Rasul yang membawa risalah Islam dan memperjuangkannya hingga Islam menjadi pedoman kehidupan.
Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ semestinya melahirkan keterikatan kepada risalah yang beliau bawa.
Allah tidak mengatakan:
“Jika kalian mencintai Rasul, cukup kagumi beliau.”
Tetapi Allah memerintahkan: “Ikutilah aku.”
Inilah makna ittiba’ yang perlu terus kita hidupkan. Ketika Sistem Kehidupan Tidak Lagi Berpusat pada Allah
Hari ini umat Islam menghadapi berbagai persoalan:
kemiskinan, ketimpangan, kerusakan moral, pendidikan yang mahal, ekonomi yang menekan, hingga berbagai persoalan sosial.
Di tengah kondisi tersebut, perubahan tentu dibutuhkan.
Namun perubahan bukan sekadar mengganti orang, mengganti slogan, atau ramai di media sosial. Perubahan membutuhkan pemikiran yang benar sekaligus metode yang benar.
Rasulullah ﷺ telah memberikan contoh bagaimana membangun perubahan masyarakat.
Beliau tidak membangun perubahan dengan jalan pintas.
Dakwah dilakukan dengan pembinaan umat, interaksi dengan masyarakat, kemudian menuju penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam.
Lalu, Bagaimana Metode Rasulullah ﷺ?
Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah ﷺ melalui tahapan-tahapan perjuangan yang dikenal sebagai:
1. Tatsqif — pembinaan. Membentuk individu dengan pemahaman Islam yang kokoh.
2. Tafa'ul ma'al ummah — berinteraksi dengan umat. Menyampaikan Islam kepada masyarakat dan membangun kesadaran mereka terhadap perubahan.
3. Istilamul hukmi — penerimaan kekuasaan. Menerima kekuasaan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Jadi, kalau kita benar-benar ingin menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana Nabi ﷺ tersenyum?”
Tapi juga perlu memahami:
“Bagaimana Nabi ﷺ membangun perubahan masyarakat?”
Sebab kalau hanya meniru senyumnya, kita bisa tersenyum.
Kalau hanya meniru pakaiannya, kita bisa berpakaian.
Tetapi kalau ingin benar-benar mengikuti perjuangannya, kita harus memahami risalah dan metode dakwah beliau.
Maulid Harus Menghasilkan Kesadaran
Momentum Maulid semestinya tidak berhenti pada rasa haru.
Ia harus menjadi momentum muhasabah dan perubahan.
Sudahkah kita benar-benar mengikuti Rasulullah ﷺ?
Sudahkah Islam menjadi pedoman dalam kehidupan kita?
Sudahkah kita berusaha mengenal risalah yang beliau bawa?
Dan yang paling penting:
Sudahkah kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ melahirkan kesungguhan untuk mengikuti jejak perjuangannya?
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Maka, mari jadikan Maulid bukan sekadar momentum mengenang Nabi ﷺ, tetapi momentum untuk semakin mengenal risalahnya, mencintainya, mengikuti petunjuknya, dan meneladani perjuangannya.
Karena cinta yang benar bukan hanya pandai berkata “aku cinta Nabi ﷺ”.
Cinta yang benar akan bertanya:
“Apa yang bisa aku lakukan agar hidupku semakin sesuai dengan apa yang beliau ajarkan?”
Selamat menyambut Rabiulawal 1448 H.
Semoga selawat yang kita lantunkan tidak hanya sampai di lisan, tetapi juga mengetuk hati, menggerakkan amal, dan menumbuhkan kesungguhan untuk mengikuti Rasulullah ﷺ. Wallahu a'lam bissawab.
