Penulis Ideologis dan Aktivis Dakwah
Generasi Z (Gen Z), adalah generasi yang lahir pada tahun 1997-2012, berusia sekitar (14 -29) tahun. Mereka adalah generasi pertama yang tumbuh besar bersama internet, ponsel pintar, dan media sosial. Sejak kecil informasi dan tren dunia masuk ke genggaman mereka.
Namun ironisnya, hari ini Gen Z berada dipersimpangan yang berat. Di satu sisi mereka dituntut produktif, mandiri, dan "sukses" di usia muda.
Di sisi lain, berbagai survey menyebut Gen Z sebagai generasi paling cemas, paling depresi, dan paling kehilangan arah. Mereka merasa terimpit dari segala arah.
Data Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey menyebut sebanyak 48% Gen Z menyatakan merasa tidak aman secara finansial. Rasa tidak aman itu muncul akibat
tekanan ekonomi dan biaya hidup tinggi. Sementara gaji dan peluang kerja tidak sebanding. [deloitte.com, 14/5/2025]
Ironisnya di tengah tekanan itu, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, nongkrong, dan gaya hidup justru terus meningkat.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Faktanya, banyak Gen Z memiliki pola "gajian lalu belanja". Setelah menerima gaji, kewajiban perama adalah membayar kos, TDL, Wi-Fi, cicilan. Setelah itu, sisa uang dipakai untuk "menyelamatkan kewarasan".
Healing ke kafe, beli skincare, nonton konser, beli barang lucu di e-commerce ini dianggap bukan kemewahan, tapi "kebutuhan emosional" agar waras menghadapi tekanan hidup. [kompas.com,12/8/2026]
Fenomena ini memunculkan dua kutub penilaian. Kutub pertama menyebut Gen Z boros, bergaya hidup konsumtif, dan krisis arah hidup. Kutub kedua, Pengamat Sosial dan Kemasyarakatan menilai fenomena itu sebuah pelarian emosional. Gen Z butuh cara untuk bertahan secara psikologis.
*Sistem Kapitalis Sekuler: Akar Masalahnya*
Menurut analisis para ahli, ada 3 penyebab utama:
*Pertama: Kapitalisme Menciptakan Tekanan Struktural*
Dalam sistem kapitalis, negara mengambil posisi lepas tangan dari urusan rakyat. Kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan lapangan kerja diserahkan pada mekanisme pasar.
Akibatnya biaya hidup terus naik karena mengikuti inflasi dan kepentingan korporasi. Sementara gaji UMR stagnan. Gen Z dipaksa bersaing dalam kondisi tidak sehat, gaji rendah bahkan magang tidak dibayar, kerja kontrak, obyek kerja ke sana-sini. Wajar jika muncul rasa cemas dan tidak aman secara finansial.
*Kedua: Sekularisme-Liberalisme Menawarkan Pelarian Hedonis*
Ketika tekanan ekonomi dan mental sudah di ujung, apa solusinya? Sistem hari ini menawarkan: "Nikmati hidupmu. Healing. Reward yourself. Kamu berhak bahagia."
Gaya hidup sekuler-liberal mengagungkan kebebasan sebagai jalan kebahagiaan. Ketika sedih, belanja, lelah nongkrong, stres liburan. Akibatnya muncul lingkaran setan: kerja - gajian - belanja - stres - kerja lagi.
Media sosial ikut memperparah. Setiap hari Gen Z dicekoki tren, gaya hidup selebgram, dan budaya FOMO. Algoritma membuat mereka merasa "semua orang sudah punya, masa aku tidak?" Akhirnya muncul rasa kosong dang frustasi.
*Ketiga: Krisis Tujuan Hidup*
Ini akar terdalam. Banyak Gen Z tidak diajarkan untuk apa sebenarnya mereka hidup. Pendidikan sekuler memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya urusan ritual, bukan solusi masalah ekonomi dan sosial.
Karena tidak paham tujuan hidup, tolok ukur bahagia bergeser ke materi. Punya gadget baru, followers banyak, bisa traveling katanya ini sukses.
Padahal setelah semua itu didapat, hati tetap kosong. Muncul pertanyaan: "Kok begini saja hidupku? Kerja _ gajian _ belanja _ terus ngulang lagi?" Inilah krisis makna yang membuat Gen Z mudah burnout, cemas, bahkan depresi.
*Solusi Islam: Menjamin, Melindungi, dan Menyelamatkan*
Islam bukan hanya agama ritual. Tetapi sebuah mabda' (ideologi) yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam menawarkan solusi sistemik.
*1. Negara Menjamin Kebutuhan Dasar Rakyat*
Dalam Islam, negara wajib menjamin kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Caranya melalui pengelolaan SDA hasilnya untuk rakyat, menciptakan lapangan kerja layak, karena setiap laki-laki wajib bekerja dan menafkahi. Melalui Baitul mal menyantuni fakir miskin dan yang lemah.
Di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Baitulmal surplus. Pengumuman dikumandangkan: "Siapa yang butuh menikah, kami biayai. Siapa yang punya utang, kami lunaskan." Rakyat hidup tanpa rasa cemas.
Dengan sistem ini, Gen Z tidak berjuang sendirian. Pendidikan dan kesehatan gratis. Lapangan kerja tersedia. Harga stabil. Rasa aman akan terbangun karena negara hadir.
Rasulullah saw. bersabda:
"Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya." [HR. Bukhari]
*2. Islam Menutup Pintu Hedonisme*
Islam memiliki seperangkat aturan yang menjaga generasi. Dalam muamalah melarang riba. Dalam pergaulan menutup celah zina. Dalam media melarang konten yang merusak akidah.
Dalam Khilafah, media fungsinya untuk edukasi, mencerdaskan, dan meningkatkan ketakwaan umat. Bukan menebar hedonisme. Generasi tidak akan dicekoki gaya hidup konsumtif karena sistemnya memang tidak mengizinkan.
*3. Islam Meluruskan Tujuan Hidup*
Allah Swt. berfirman:
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." [QS. Adz-Dzariyat: 56]
Ibadah maknanya luas. Bekerja, belajar, berumah tangga, berdakwah — semua bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.
*Contoh nyata Gen Z Hijrah*
Di zaman now:
ada almarhum Roker Hari Murti. Dulu beliau berada di puncak ketenaran dunia hiburan. Honor fantastis, nama besar, fasilitas mewah... Semua ia tinggalkan setelah
mengenal Islam ideologi. Panggung gemerlap ditukar dengan mimbar dakwah yang tidak menjanjikan materi. Justru malah berkorban untuk kebangkitan Islam.
Sebagaimana Mus'ab bin Umair, adalah sahabat Nabi saw. dikenal sebagai duta Islam pertama, dan pemuda kaya dari keluarga bangsawan terhormat yang rela meninggalkan kemewahan demi mempertahankan keimanannya dan dakwah Islam. Gugur waktu perang Uhud. Demi mempertahankan bendera Islam kedua tangannya putus, akhirnya syahid. Saat wafat, kain kafan tidak menutupi tubuhnya. Kontras dengan masa sebelum masuk Islam hidup dalam limpahan kemewahan. Allahu Akbar.
Mereka hijrah melalui proses berpikir, dari mana dia datang -- untuk apa hidup -- kemana setelah mati? Jawaban inilah yang melahirkan akidah sahih. Akidah yang menjadikan seseorang hanya takut kepada Allah saja, merasa diawasi, dan menyadari semua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Dengan akidah sahih, mereka memahami hakikat hidup, sehingga memiliki visi besar. Mereka tidak akan mengukur sukses dan bahagia dari berapa banyak harta yang dimiliki. Namun, kebahagiaan sejati adalah mendapatkan rida Allah Swt.
*Penutup*
Jadi jelas, Gen Z terimpit pusaran masalah korban sistemik kapitalis sekuler yang mencampakkan agama dari kehidupan.
Saatnya tinggalkan sistem rusak dan merusak, kembali kepada sistem Islam, yaitu Khilafah yang menerapkan syariat secara kaffah (menyeluruh). Hanya Khilafah yang mampu menjamin, menjaga, melindungi, meluruskan, dan menyelamatkan akidah generasi agar tidak menjadi korban, tetapi menjadi pemimpin peradaban.
Wallahua'lam bissawwab.
