Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Karhutla Berulang, Rakyat Jadi Korban, Hutan Dikuasai untuk Kepentingan Bisnis

Saturday, August 29, 2026 | August 29, 2026 WIB Last Updated 2026-08-29T04:51:39Z

Oleh : ADAWIYAH

Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru Provinsi Riau mendeteksi kondisi terkini kabut asap menyelimuti daerah setempat dengan jarak pandang di Kota Pekanbaru sekitar 2,5 kilometer dengan kualitas udara sangat tidak sehat. Sejak dini hari hanya beberapa jam terpantau kualitas udara baik yakni dari pukul 04.00-06.00 WIB dan dan pukul 11.00-13.00 WIB. Selain dari waktu tersebut, kualitas udara di Pekanbaru terpantau tidak sehat. Bahkan pada pukul 17.00 WIB dan 18.00 WIB kualitas udara sudah sangat tidak sehat dengan PM 2,5 sebesar 170 mikrogram meter kubik

Pertama adalah 35 buah korek api. Ini sebagai alat yang digunakan untuk membakar. Tentunya ini bukti bahwa memang terjadi kesengajaan untuk melakukan pembakaran, bukan disebabkan faktor alam atau dampak dari panas El Nino, petugas menyita dua jeriken kapasitas 10 liter yang berisi BBM jenis solar, dua botol plastik BBM jenis Pertalite, satu botol plastik minyak tanah, 21 parang, dua kapak, satu cangkul, 39 batang kayu bekas terbakar, lima buah plastik sampel tanah terbakar, dua unit chainsaw (senso), 13 plastik bekas polybag, enam batang bibit sawit, serta sepasang sepatu bot. 

Tercatat 47 kejadian dengan luas mencapai 369,88 hektare. Selanjutnya Kutai Barat 71 kejadian dengan luas 337,17 hektare, Paser 105 kejadian dengan luas 268,68 hektare, Samarinda 69 kejadian dengan luas 90 hektare, dan Berau 38 kejadian dengan luas 86,44 hektare. Karhutla juga terjadi diwilayah lain di Indonesia yaitu Papua, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 1.923 titik panas atau hotspot yang tersebar di wilayah Papua Tengah sepanjang periode 10-22 Agustus 2026. Dari total keseluruhan, Kabupaten Nabire menjadi area terparah dengan sumbangan 1.069 titik panas.

Pembakaran lahan tidak terkendali akan memberikan dampak akibat hutan gundul. Pembakaran lahan yang tidak terkendali sehingga merembet meluas ke lahan hutan merupakan penyebab kebakaran hutan yang terjadi akibat kesengajaan manusia. Konflik antara perusahaan dan masyarakat pemilik lahan. Perusahaan yang ingin mengambil alih lahan dari masyarakat pemilik lahan biasanya melakukan pembakaran terhadap lahan yang disengketakan. Protes oleh penduduk lokal. Penduduk lokal yang merasa lahannya direbut juga sering melakukan pembakaran lahan sebagai bentuk protes karena perusahaan perkebunan merebut lahan milik mereka. Kurangnya penegakan hukum. Meskipun aturan mengenai pembakaran hutan jelas-jelas dilarang, namun karena hukum yang diberikan bagi yang melanggar masih sangat lemah, akibatnya banyak juga oknum yang melanggar aturan dan membakar hutan secara besar-besaran untuk membuka lahan. Hal tersebut biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar.

Ironisnya, kesadaran untuk menjaga hutan sebenarnya bukanlah hal baru. Jauh sebelum dunia mengenal konferensi iklim, dokumen PBB, atau target emisi nol, Islam telah mengenal konsep konservasi lingkungan melalui sistem hima. Sebuah sistem yang lahir lebih dari 1.400 tahun lalu, namun terasa sangat relevan di abad krisis iklim ini. Dalam hadis Nabi Muhammad saw Nabi bersabda;
إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: لَا حِمَى إِلَّا لِلهِ وَلِرَسُولِهِ
Artinya; “Tidak ada hima kecuali milik Allah dan Rasul-Nya.”
Secara sederhana, hima adalah kawasan yang dilindungi, wilayah yang tidak boleh dieksploitasi sembarangan. Dalam bahasa hari ini, kita menyebutnya hutan lindung atau kawasan konservasi. Di dalam Islam, hutan termasuk kepemilikan umum .Rasulullah saw pernah bersabda:
اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّار
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.”
(HR Abu Dawud dan Ahmad)

Negara berkewajiban menjaga kelestarian hutan dan air yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan makhluk di bumi. Negara juga wajib memberikan sanksi tegas kepada para pembakar hutan dengan memberikan efek jera. Namun dengan sistem yang saat ini diterapkan mustahil pembakaran hutan akan menemukan solusi yang benar- benar mampu menghentikan praktik pembakaran hutan. Sistem sekuler kapitalis akan berpihak kepada pemilik kapital bukan berpihak kepada rakyat.

Oleh karena itu, hanya dengan diterapkannya Islam secara sempurna, semua permasalahan dapat dislesaikan, karena semua aturan dan hukum-hukum yang diterapkan berasal dari Allah Swt, Pencipta dunia seisinya. Untuk mengatasi semua persoalan umat saat ini adalah dengan menerapkan seluruh aturan islam yang berasal dari Allah Swt dalam segala aspek kehidupan. Wallahu a’lam bish-showab
×
Berita Terbaru Update