Kegiatan yang terselenggara dari Bantuan Pemerintah (Banpem) Fasilitasi dan Apresiasi Komunitas Literasi Tahun 2026 tersebut memadukan kegiatan literasi dengan pembelajaran di luar kelas serta pengenalan sejarah dan budaya Banua.
Rangkaian kegiatan dipusatkan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten HSS dan sejumlah masjid bersejarah. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan minat baca dan menulis sekaligus memperkenalkan pembelajaran numerasi melalui pengalaman langsung.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten HSS, H. Akhmad Supian dan dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten HSS, Agus Rianto. Dalam sambutannya, Kadispersip menyampaikan dukungan terhadap kegiatan literasi yang dikolaborasikan dengan wisata sejarah.
Asah Kemampuan Menulis Bersama Eva Liana
Usai pembukaan, peserta mengikuti sesi kepenulisan bersama novelis HSS, Eva Liana.
Dalam sesi tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diajak langsung mempraktikkan penulisan puisi. Suasana kegiatan berlangsung interaktif dengan berbagai ide kreatif yang dituangkan peserta melalui tulisan.
Menariknya, sebagian besar peserta mengaku telah memiliki hobi menulis. Bahkan, beberapa di antaranya telah mempublikasikan karya melalui platform digital maupun menerbitkannya dalam bentuk buku.
Eva Liana mengatakan bahwa ini merupakan potensi yang harus dikembangkan.
“Ini adalah potensi luar biasa yang harus terus kita kembangkan. Anak-anak HSS ternyata punya bakat menulis yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Belajar Numerasi dan Sains di Masjid Suada Wasah
Jelajah literasi kemudian berlanjut ke Masjid Suada Wasah, salah satu masjid bersejarah di Kabupaten HSS yang menjadi Pos 1 dalam kegiatan tersebut.
Di lokasi ini, peserta mengerjakan lembar kerja yang berkaitan dengan numerasi geometri, trigonometri, dan sains.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah praktik menghitung sudut elevasi untuk memperkirakan ketinggian tiang tanpa harus memanjatnya.
Pembelajaran tersebut membuat konsep matematika dan sains yang selama ini dipelajari di kelas dapat diterapkan secara langsung dalam situasi nyata. Peserta pun terlihat antusias mengikuti setiap tahapan praktik.
Mengenal Jam Matahari di Masjid Al-Abrar Gambah
Dari Masjid Suada Wasah, perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Al-Abrar
Di lokasi tersebut, peserta mendapat penjelasan mengenai jam matahari dari sesepuh masjid, H. Yusri Fauzie.
Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis jam matahari, yakni jam jidar, jam nisf, dan jam rubu. Masjid Al-Abrar Gambah memiliki dua di antaranya, yaitu jam jidar dan jam nisf.
Peserta juga diperkenalkan dengan prinsip kerja jam matahari yang memanfaatkan gerak semu harian matahari. Penjelasan tersebut kemudian dikaitkan dengan Surah Yasin ayat 38.
Tidak hanya mendengarkan penjelasan, peserta juga diajak mengamati langsung jam matahari yang terdapat di masjid tersebut. Dalam praktiknya, jarum pada jam nisf menunjukkan pukul 14.00, yang disebut sesuai dengan waktu pada jam digital saat pengamatan.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran menarik bagi peserta untuk mengenal hubungan antara ilmu pengetahuan, ilmu falak, sejarah, dan kearifan lokal yang terdapat di lingkungan sekitar.
Pengalaman Jelajah Literasi Dituangkan dalam Cerpen
Setelah menyelesaikan perjalanan ke masjid-masjid bersejarah, peserta kembali mengikuti sesi penutup bersama Eva Liana.
Kali ini, peserta ditantang menulis cerpen berdasarkan pengalaman mereka selama mengikuti Jelajah Literasi. Berbagai pengalaman yang diperoleh sepanjang kegiatan menjadi bahan bagi peserta untuk mengembangkan ide cerita.
Kegiatan ditutup setelah seluruh peserta menyelesaikan dan mengumpulkan tulisan masing-masing.
Karya yang dihasilkan peserta diharapkan tidak berhenti sebagai tugas kegiatan, tetapi dapat dikembangkan dan dibukukan sebagai dokumentasi sekaligus karya literasi para pelajar HSS.
Dengan memadukan kegiatan membaca, menulis, numerasi, sains, sejarah, dan budaya, Jelajah Literasi menjadi ruang bagi pelajar untuk belajar secara lebih kontekstual sekaligus mengenal potensi budaya dan sejarah yang ada di daerahnya.
Editor: Sri Purwanti
