Oleh. Putri Ayu Wulandari (Freelance Writer)
Tanggal gajian telah tiba. Notifikasi transfer masuk ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya.
Hal seperti itu kini menjadi hal yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan. Namun, bagi banyak Gen Z, membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh. Lalu muncul pertanyaan, apakah kebiasaan self-reward benar-benar mencerminkan gaya hidup konsumtif, atau justru menjadi cara generasi muda bertahan menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis?
Jebakan Hedonisme
"Lebih besar pasak daripada Tiang" adalah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehidupan para Gen Z saat ini. Hal ini bukan tanpa alasan sebab kehidupan di masa sekarang memaksa seseorang untuk mengeluarkan biaya lebih demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, baik itu kebutuhan sekunder, kebutuhan primer, hingga kebutuhan tersier. Biaya hidup yang semakin hari semakin mahal membuat para Gen Z terhimpit oleh tekanan ekonomi yang begitu berat, yang mana harga-harga naik sementara gaji mereka stagnan tanpa ada kenaikan.
Upah minimum menunjukkan disparitas yang cukup lebar—sekitar Rp 5,4 juta di Jakarta dan Rp 2,1 juta di Jawa Tengah. Angka ini jauh dari kata cukup jika melihat biaya hidup yang harus dikeluarkan setiap bulannya seperti di kota besar seperti Jakarta, kebutuhan dasar individu sudah mendekati Rp 7 juta per bulan, bahkan sebelum menyentuh komponen biaya tempat tinggal. Dalam kondisi ini, kemandirian seseorang dalam hal finansial hanyalah hisapan jempol semata.
Hal ini diperparah dengan tidak adanya upaya pemerintah dalam menekan biaya kebutuhan masyarakat, nilai rupiah yang semakin hari semakin anjlok membuat masyarakat gigit jari. Begitupula para Gen Z yang harus berjuang sendiri demi masa depan mereka. Kondisi ini bukan semata-mata karena para Gen Z tidak mampu hidup mandiri, tetapi dikarenakan himpitan ekonomi yang semakin besar membuat mereka berusaha bertahan di tengah badai ekonomi.
Di sisi lain, self-reward, little treat, hingga healing, seolah menjadi kebutuhan wajib yang harus mereka penuhi, sebab gaya hidup hedonis seperti ini dianggap sebagai solusi untuk membahagiakan diri sendiri. Hal ini diperparah dengan adanya tren populer di media sosial yang memicu "Fomo" hingga belanja impulsif bagi para Gen Z menjadi sebuah kewajiban. Mereka terjebak hedonisme sehingga melakukan hal-hal yang justru menjebak diri mereka sendiri dalam kesulitan. Seperti mengikuti fomo tadi agar tidak ketinggalan tren yang ada sebab dengan mengikuti tren akan membuat mereka merasa keren dan populer sehingga mendapatkan banyak followers di media sosial, pamer kemewahan, flexing kiri kanan hanya untuk validasi.
Alhasil, pinjol dan payleter menjadi jalan ninja untuk menuntaskan semua itu. Gali lobang tutup lobang, inilah siklus kehidupan yang akan terus dijalani, sebab pandangan hidup dalam sistem sekuler-liberal ini membuat sebagian orang merasa puas apabila dapat memenuhi keinginan mereka juga mendapatkan pujian dari banyak orang, tanpa memikirkan kemudharatan yang akan terjadi, tetapi hal inilah yang mereka sebut sebagai kebahagiaan.
Mereka terjebak dengan aruh hedonisme, sehingga tanpa mereka sadari bahwa apa yang mereka tengah jalani bukan sekadar ikut-ikutan tren belaka, tetapi lebih dari itu yakni krisis mendalam yang sedang para Gen Z alami adalah mereka sedang dibutakan oleh dunia, sehingga tidak tahu arah tujuan hidup mereka. Mereka terbius dengan kenikmatan yang hanya sementara. Para Gen Z menilai kebahagiaan hanya diukur dari segi materi, seperti memiliki barang-barang mewah, mengunjungi tempat-tempat menarik, dipuji banyak orang, adalah hal yang mereka inginkan, semua membuat mereka lupa bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah ketika segala sesuatu yang kita lakukan mendapatkan keridhoan dari Allah SWT.
Ini bukan sekadar bagaimana para Gen Z mampu menggapai mimpi, tetapi lebih dari itu, ini adalah sebuah tugas besar bagi kepala negara dalam mensejahterakan rakyatnya. Masyarakat akan mampu hidup mandiri dan sejahtera apabila negara memberikan pelayanan publik dengan baik. Seperti memberikan lapangan pekerjaan untuk para lelaki, menstabilkan harga-harga, pelayanan kesehatan gratis, juga memberikan pemahaman Islam yang kuat kepada setiap anak agar mampu memahami dari mana manusia berasal dan untuk apa kita diciptakan? Hal ini sangat penting dilakukan agar para Gen Z tidak mudah terbawa arus dengan perkembangan zaman, ini bisa diterapkan melalui pendidikan gratis untuk para anak-anak diusia sekolah.
Dengan penerapan pendidikan berbasis Islam maka anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dari segi akademis juga keimanan. Seperti para Gen Z dimasa Islam. Kita sebut saja Usamah bin zaid diangkat Rasulullah sebagai panglima perang diusia 18 tahun, Muhammad Al-Fatih diusia 21 tahun mampu menaklukkan kota Konstantinopel. Itu hanya secuil kisah sahabat Rasul, masih banyak pemuda-pemuda muslim lainnya yang mampu menaklukkan dunia dengan kecerdasan, fisik yang kuat juga ketaqwaan kepada Allah SWT. Mereka semua mampu menjadi pahlawan berkat ketaqwaan yang diajarkan sejak dini, melalui pendidikan Islam yang dijamin oleh leh negara.
Begitu pula dengan jaminan kesejahteraan rakyat negara Islam juga wajib memberikan lapangan pekerjaan dan menjamin kebutuhan mereka, dan memastikan bahwa tidak ada satu rakyat pun yang kelaparan, seperti yang terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah yang mana rakyatnya begtu makmur hingga dana zakat menumpuk sebab sangat sulit untuk menemukan penerima zakat. Semua ini terjadi karena pengelolaan sumber daya alam yang baik dan tersalurkan hanya untuk kepentingan umat, sehingga masyarakat tercukupi kebutuhannya tanpa harus menggadaikan keimanannya hanya untuk sesuap nasi.
Juga memberikan ruang yang aman bagi setiap penggunaan media sosial, agar tren FOMO yang tidak berfaedah tidak bisa diakses oleh masyarakat luas, media sosial, televisi hanya akan menayangkan tayangan yang mengedukasi dan menambah ketakwaan kepada Allah SWT, bukan tayangan yang dapat merusak moral dan keimanan. Kembali kepada Islam adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan, sebab Islam mengajarkan kepada manusia mengenai apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita, seperti yang dijelaskan dalam surah Az-zariat (56) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
Bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT dan mencari keridhoan dari-NYA, bukan sekedar flexing dan FOMO. Dengan memahami tujuan hidup dan keimanan yang kuat, maka para Gen Z akan memiliki tujuan hidup yang jelas yakni menjadi pejuang dan mengembalikan kejayaan Islam. Wallahu alam Bisshawab.
