Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Wednesday, August 26, 2026 | August 26, 2026 WIB Last Updated 2026-08-26T13:56:32Z




Oleh Ummi Nissa
(Pegiat Literasi) 

Gen Z sering digambarkan sebagai generasi yang dekat dengan teknologi, kreatif, dan cepat mengikuti perubahan zaman. Namun, di balik kemudahan teknologi dan derasnya informasi, ada persoalan yang tidak kalah serius, terkait tekanan ekonomi dan krisis makna hidup. 

Lebih dari 48% Gen Z menyatakan dirinya tidak merasa aman secara finansial. Hal ini disebabkan  kondisi ekonomi saat ini  sulit, sementara, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Semua itu dianggap sebagai kebutuhan emosional untuk menjaga kebahagiaan, bukan sekadar kemewahan. (kompas.com) 

Gen Z di Tengah Tekanan Ekonomi

Kondisi yang dialami Gen Z saat ini menunjukkan, bahwa persoalannya bukan hanya  kurang pandai mengatur uang. Namun, ada masalah yang lebih besar dalam sistem kehidupan yang dijalani.  Apalagi, kebutuhan hidup saat ini terasa terus meningkat, sementara kemampuan ekonomi masyarakat tidak selalu mengikuti. Harga berbagai kebutuhan semakin mahal, sedangkan pendapatan banyak anak muda masih terbatas. Akibatnya, generasi muda dituntut untuk mandiri dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, sementara negara belum sepenuhnya hadir menjamin kehidupan mereka.

Tekanan ekonomi tersebut kemudian bertemu dengan gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan kebahagiaan identik dengan kesenangan dan kepuasan pribadi. Ketika lelah menghadapi kuliah, pekerjaan, masalah ekonomi, atau tekanan kehidupan, healing dan self-reward kerap  menjadi pelepas kepenatan tekanan hidup. Sehingga aktivitas embeli makanan kesukaan, berbelanja, jalan-jalan, atau mengikuti tren dianggap sebagai cara untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri.

Ketika Healing Berubah Menjadi Pelarian

Jika aktivitas hiburan itu tidak dikendalikan, maka kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi pola konsumsi yang sulit dihentikan. Media sosial semakin memperkuat keadaan ini. Setiap hari Gen Z disuguhi berbagai tren, gaya hidup, tempat nongkrong, barang bermerek, hingga pengalaman yang tampak menyenangkan. Akhirnya muncul rasa takut tertinggal atau FOMO (fear of missing out). Karena ingin mengikuti lingkungan, seseorang bisa terdorong membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena tidak ingin merasa berbeda dari orang lain.

Ironisnya, setelah mendapatkan barang atau pengalaman yang diinginkan, rasa bahagia itu sering hanya bertahan sebentar alias sementara. Setelahnya muncul kebutuhan baru untuk mendapatkan kesenangan berikutnya. Siklusnya terus berulang: merasa lelah, mencari kesenangan, mengeluarkan uang, merasa bahagia sesaat, kemudian kembali menghadapi tekanan.

Krisis yang Lebih Dalam adalah Kehilangan Arah Hidup

Di sinilah persoalan yang lebih dalam perlu diperhatikan. Gen Z bukan hanya sedang menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga krisis tujuan hidup. Semua ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh  kapitalisme yang materialistis. Memandang segala sesuatu hanya dari sudut pandang materi.

Ketika manusia tidak memahami untuk apa ia hidup, kebahagiaan akhirnya mudah diukur dari materi. Hidup dianggap berhasil dan sukses ketika mampu membeli sesuatu, bepergian ke tempat tertentu, memiliki barang yang sedang tren, atau mendapatkan pengakuan di media sosial. Kebahagiaan yang bersifat duniawi menjadi arah tujuan kehidupan. Hal ini tentu berbeda dengan cara pandang Islam. 

Islam Solusi Kehidupan Manusia

Islam menawarkan pandangan yang berbeda. Kehidupan manusia bukanlah sekadar mengejar kesenangan dunia. Allah Swt. telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56: " Tidaklah jin dan manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. " 
Ini artinya, kebahagiaan sejati tidak semata-mata berasal dari banyaknya harta atau kenikmatan yang diperoleh, tetapi dari kehidupan yang sesuai dengan tujuan penciptaan dan mendapatkan ridha Allah.

Karena itu, solusi terhadap persoalan Gen Z tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara mengatur keuangan. Diperlukan perubahan sistem dan paradigma kehidupan. Dalam konsep Khilafah, negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat. Pengelolaan sumber daya alam dilakukan untuk kemaslahatan rakyat, bukan sekadar berorientasi pada keuntungan. Negara juga memastikan tersedianya lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap laki-laki yang mampu bekerja, sehingga generasi muda tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kebutuhan hidup.

Islam juga membangun masyarakat dengan nilai yang berbeda dari budaya hedonis. Media tidak diarahkan untuk terus mendorong masyarakat mengejar konsumsi dan kesenangan, tetapi menjadi sarana pendidikan, informasi, dan penguatan ketakwaan. Generasi pun dibekali akidah yang kokoh sehingga mampu memilah mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan.

Dengan paradigma Islam, Gen Z tidak hanya diarahkan menjadi generasi yang sibuk mengejar kesuksesan pribadi. Mereka memiliki visi yang lebih besar: menjadi generasi yang bertakwa, produktif, dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam. Dengan demikian, tekanan ekonomi, budaya konsumtif, dan krisis tujuan hidup tidak dipandang sebagai persoalan individu semata, tetapi sebagai persoalan yang membutuhkan perubahan mendasar.

Pada akhirnya, Gen Z tidak cukup hanya diberi nasihat untuk “menikmati hidup” atau “jangan lupa healing”. Mereka membutuhkan kehidupan yang menjamin kebutuhan dasarnya sekaligus memberikan arah yang jelas tentang tujuan hidup. Sebab, sebanyak apa pun kenikmatan materi yang dikejar, jika manusia kehilangan tujuan hidupnya, kebahagiaan akan selalu terasa kurang. Islam memberikan keduanya: jaminan kehidupan yang layak sekaligus tujuan hidup yang benar, yaitu meraih ridha Allah dan membangun kehidupan yang sesuai dengan syariat-Nya.

Wallahua,'lam bissawab.
×
Berita Terbaru Update