Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z di sistem kapitalisme

Wednesday, August 26, 2026 | August 26, 2026 WIB Last Updated 2026-08-26T07:49:11Z

Oleh : Fina Fauziah ( Aktivis Muslimah )

Tanggal gajian tiba. Notifikasi transfer masuk ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya.

Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, sampai berburu tiket konser. Hal seperti itu kini menjadi hal yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan.

 Budaya hedonis: Media sosial menjual standar harus liburan, harus punya iPhone. FOMO jadi bahan bakar. Budaya self reward, flexing, dan YOLO (You Only Live Once) dinormalisasi. Hedonisme bukan lagi gaya hidup orang kaya, tapi semua seolah dituntut agar tampil kaya meskipun pura-pura saja.

Namun di balik semua itu, ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan jarang disadari: krisis makna dan tujuan hidup. Ketika pandangan hidup hanya berpusat pada dunia kesenangan, penampilan, pengakuan sesama manusia, maka ukuran kebahagiaan pun menjadi sempit. Kebahagiaan diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari ketenangan hati dan ridha Allah. Akibatnya, meski sudah memiliki pekerjaan, teman, dan gaya hidup yang cukup, hati tetap merasa kosong. Karena manusia diciptakan bukan sekadar untuk mencari nafkah dan bersenang-senang, melainkan untuk tujuan yang jauh lebih mulia: beribadah kepada Allah, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an Surah Adz-Dzariyat ayat 56. Tanpa memahami hakikat ini, hidup terasa seperti berjalan tanpa arah, cepat, namun entah ke mana. Haus akan validasi sehingga sibuk membangun citra diri. Sangat disayangkan jika hal ini terus berlangsung, karena mereka sebagai generasi muda memiliki potensi luar biasa untuk membangun sebuah peradaban, ditambah dengan adanya kemudahan melalui teknologi digital. Seharusnya generasi muda ini bisa “menguasai” dunia dengan pemikiran mereka bukan malah dikuasai oleh warna warni kehidupan duniawi yang serba semu dan melemahkan pemikiran dan gerak mereka.

Tekanan ekonomi, budaya pelarian, dan hilangnya makna hidup memang menjadi beban berat yang dipikul Gen Z saat ini. Namun semua itu muncul karena pandangan hidup yang keliru dan sistem yang tidak berpihak pada rakyat. 

Jika kembali kepada Islam sebagai pandangan hidup dan sistem kehidupan, maka tekanan akan tergantikan dengan jaminan kesejahteraan, pelarian sesaat akan tergantikan dengan ketenangan jiwa; dan kebingungan arah akan tergantikan dengan tujuan hidup yang jelas: beribadah kepada Allah dan membangun peradaban yang diridhoi-Nya. Di sanalah letak kebahagiaan sejati.
×
Berita Terbaru Update