Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Masa Depan Gen Z Dipertaruhkan : Tekanan Ekonomi, Hedonisme, dan Hilangnya Arah Hidup

Wednesday, August 26, 2026 | August 26, 2026 WIB Last Updated 2026-08-26T13:35:56Z


Oleh : Wanti (Penulis Opini)

Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. sebuah angka yang membuktikan betapa beratnya beban yang kini dipikul oleh mereka yang baru memasuki dunia kerja. Di tengah biaya hidup yang terus menanjak sementara pendapatan stagnan, tekanan yang menghimpit dada Gen Z makin berat setiap harinya.

Fenomena meningkatnya tekanan terhadap psikologis Gen Z tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi persoalan pemuda global. Berbagai tantangan harus dihadapi Gen Z seperti sulitnya pekerjaan yang layak, tingginya biaya hidup, serta persaingan semakin ketat membuat banyak pemuda cemas dan skeptis dengan masa depannya. Di sisi lain, tidak sedikit Gen Z yang mulai merasakan ketidakadilan sistem yang selama ini dijalankan karena dinilai belum mampu memberikan rasa aman dan harapan bagi masa depan mereka. 

Gangguan mental dan kecemasan Generasi Z meningkat drastis tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan individu atau lemahnya daya tahan mental. Fenomena ini merupakan bagian dari krisis multidimensi yang sedang melanda dunia. Di tengah kondisi yang serba tidak pasti, tidak sedikit dari mereka merasa kehilangan rasa aman, optimisme, bahkan tujuan hidup. Fenomena ini semakin diperparah oleh peradaban sekuler-kapitalis yang lebih menekankan keberhasilan materi sebagai ukuran utama kesuksesan.

Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Di satu sisi, mereka sadar pentingnya tabungan dan manajemen keuangan. Namun di sisi lain, mereka juga percaya bahwa kebahagiaan kecil di masa kini sama pentingnya untuk menjaga semangat kerja dan kesehatan mental. “In this economy”, self-reward bukan hanya gaya hidup, melainkan bentuk survival emosional yang membantu mereka bertahan.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi di kalangan Gen Z. Self-reward dan healing bergeser dari aktivitas yang bersifat sesekali menjadi bagian dari gaya hidup, bahkan ketika kondisi finansial belum sepenuhnya stabil. Media sosial turut memperkuat tren tersebut melalui normalisasi gaya hidup konsumtif dan dorongan untuk mengikuti pengalaman yang sedang populer.

Sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z di mana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendir. Dalam sistem kapitalisme, kebutuhan dasar seperti pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan transportasi semakin banyak dibebankan kepada individu. Ketika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak mengalami kenaikan yang sebanding, generasi muda menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Kondisi ini membuat banyak Gen Z harus menunda kemandirian, menekan pengeluaran, mencari pekerjaan tambahan, bahkan terus bergantung pada keluarga.

Di sisi lain, negara cenderung berperan sebagai regulator, bukan sebagai penanggung utama pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Akibatnya, kesejahteraan sangat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi masing-masing individu. Yang memiliki daya beli kuat memperoleh akses lebih baik, sedangkan mereka yang berpenghasilan rendah harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan yang sama.

Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup Sekuler-Liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi" pelarian. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif dan mendorong pola pikir bahwa kebahagiaan bisa dibeli dengan uang. Kebiasaan self-reward yang awalnya hanya cara meredakan lelah, perlahan berubah menjadi gaya hidup yang sulit dilepaskan.

Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam. Gen Z kehilangan pemahaman tentang hakikat hidup yang sejati. Kebahagiaan diukur dari kepuasan materi sesaat, bukan dari ridha Allah ﷻ Pencipta alam semesta. Ketika seseorang tidak mengetahui untuk apa ia hidup, ia akan mencari makna di mana saja, termasuk di dalam barang-barang yang bisa dibeli dengan uang.

Negara Khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri. Dalam konsep Khilafah, sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum dikelola oleh negara untuk kemaslahatan rakyat. Hasil pengelolaannya tidak boleh dikuasai segelintir individu atau korporasi, tetapi digunakan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Dengan demikian, kekayaan alam dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan pelayanan dan kesejahteraan rakyat.

Islam juga mendorong negara menciptakan kondisi agar setiap laki-laki yang memiliki kewajiban menafkahi keluarganya dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Negara tidak sekadar meminta rakyat bekerja keras, tetapi juga memastikan tersedia kesempatan dan sarana yang memungkinkan mereka memperoleh penghidupan.

Dengan konsep tersebut, Gen Z tidak diposisikan sebagai generasi yang harus menghadapi tekanan ekonomi seorang diri. Negara hadir untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, mengelola kekayaan alam secara amanah, serta menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan rakyat hidup sejahtera.

Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Dalam pandangan Islam, penyelamatan generasi dari kerusakan ruang digital bukan sekadar seruan moral, tetapi kewajiban negara sebagai râ‘in dan junnah. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas urusan mereka.” Karena itu, negara tidak boleh absen ketika konten digital merusak akidah, akhlak, dan pola pikir generasi muda. Syariat justru memerintahkan negara menutup semua pintu kerusakan (dar’ul mafsadah), menggunakan teknologi terbaik untuk memblokir pornografi, judi online, eksploitasi, dan seluruh bentuk konten yang mengikis moral serta identitas keislaman. Kebijakan ini bukan sensor sempit, tetapi langkah wajib untuk menjaga kehormatan dan keselamatan masyarakat.

Islam juga tidak hanya mencegah keburukan, tetapi mengarahkan ruang digital menjadi sarana pendidikan dan pembinaan umat. Negara memastikan ruang maya dipenuhi konten edukatif yang sahih, memperkuat akidah, tsaqafah Islam, dan identitas generasi Muslim. Prinsip ini selaras dengan firman Allah Swt., “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Maka ruang digital, dalam sistem Islam, bukan lahan bebas nilai, tetapi wahana dakwah dan penguatan karakter.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yiatu untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. Ayat ini menjadi landasan utama bahwa seluruh aktivitas hidup manusia seharusnya berorientasi kepada ibadah kepada Allah. Ibadah tidak hanya terbatas pada ritual-ritual keagamaan seperti shalat dan puasa, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah.


Paradigma tersebut menjadi landasan penting dalam membentuk kepribadian generasi muda. Dengan akidah yang kokoh, seorang Muslim memahami bahwa ilmu, pekerjaan, harta, dan berbagai aktivitas kehidupan harus diarahkan untuk meraih rida Allah. Kesuksesan tidak diukur hanya dari seberapa banyak materi yang dimiliki, tetapi dari seberapa jauh kehidupan dijalankan sesuai dengan ketentuan-Nya.

Generasi yang memiliki visi seperti ini tidak mudah terjebak dalam budaya konsumtif, FOMO, maupun pencarian validasi melalui media sosial. Mereka memiliki tujuan hidup yang lebih besar daripada sekadar memenuhi keinginan pribadi, yaitu menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, produktif, dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam.

Dengan demikian, Islam tidak hanya menawarkan solusi terhadap tekanan ekonomi atau gaya hidup hedonis, tetapi juga memberikan jawaban mendasar atas krisis tujuan hidup. Ketika generasi memahami untuk apa mereka hidup, mereka memiliki arah yang kuat dalam menentukan pilihan, menghadapi tantangan, dan menggunakan potensi yang dimiliki untuk kemaslahatan umat.


×
Berita Terbaru Update