Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Refleksi Momen Muharam, Awal Perwujudan Islam Rahmat Bagi Seluruh Alam

Tuesday, July 21, 2026 | Tuesday, July 21, 2026 WIB


Oleh : Ummu Shabira

Momen Muharam ( yang lebih dikenal dengan awal Tahun Hijriyah), merupakan momen awal kehidupan Islam yang secara nyata ditegakkan oleh Rasulullah Saw. di Madinah, semenjak Rasulullah dan para Sahabat hijrah dari Makkah ke kota Madinah. Setelah Beliau meninggal, kehidupan Islam dilanjutkan oleh para sahabat di bawah pimpinan Khulafaur Rasyidin, di antaranya Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.                               

Tidak sampai berhenti di situ, Kepemimpinan Islam berlanjut di Masa Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Bani Utsmaniyah, yang di masa ini kekhilafan berakhir, yaitu ketika Daulah Khilafah Islamiyah yang berpusat di Turki pada 3 Maret 1924, secara resmi diganti dengan sistem Republik Demokrasi oleh Kemal Attaturk, dalam bentuk negara bangsa (nation state). Setelah itu tidak ada lagi kehidupan Islam hingga saat ini, yang lamanya sudah sekitar 102 tahun. Kehidupan umat Islam saat ini hanya menerapkan aturan Islam yang sekular, dan meninggalkan penerapan aturan Islam kaffah (komprehensif ). 

Sejak runtuhnya Kepemimpinan Islam (khilafah), umat Islam di seluruh penjuru dunia, ditimpa berbagai permasalahan yang tiada habisnya. Kekuasaan Islam yang sebelumnya terbentang luas, dimulai dari Jazirah Arab, Syam ( Palestina), Irak, Turki, Asia tengah, Afrika bagian Utara, Eropa bagian Barat, Asia tengah hingga Asia selatan, menjadi wilayah jajahan negara- negara Eropa Barat pemenang perang dunia pertama, yakni Inggris dan Perancis. Selama bertahun-tahun dalam jajahan, negeri-negeri Islam semakin terpecah - belah ketika "merdeka' terbebas dari penjajahan Barat secara fisik, tetapi pengaruh penjajah tetap saja bercokol di wilayah-wilayah tersebut dalam bentuk penjajahan gaya baru, yaitu dalam bentuk penerapan sistem (ideologi) kapitalisme sekularisme demokrasi.                     

Kaum muslim pun akhirnya hidup dalam keterpecah-belahan lebih dari 55 negara dalam bentuk negara bangsa (nation state) yang dibatasi oleh nasionalisme serta batas teritorial. Sekalipun kaum muslim masih memiliki perasaan ukhuwah Islamiyah,tetapi perasaan tersebut hanya berhenti sebatas perasaan, sikap persaudaraan yang di ikat dengan iman (akidah) Islam tersebut tidak dapat terealisasi oleh kaum muslim keseluruhan di seluruh penjuru negeri, karena terhalang oleh sikap politik dan kepentingan negaranya masing masing. Allah Swt, berfirman: " " Sesungguhnya kaum muslim itu bersaudara". [ QS.Al Hujurat (49)-10]                            

Keterpecah-belahan kaum muslimin di seluruh dunia sejak saat itu hingga kini melemahkan kaum muslimin dalam seluruh lini kehidupan. Kaum muslimin diterpa berbagai problematika kehidupan, seperti : penindasan oleh penguasa, kezhaliman, kemaksiatan , kemiskinan,kebodohan, kerusakan moral di berbagai lapisan masyarakat, hingga kerusakan alam.

Bukan hanya itu saja, sumber daya alam (SDA) yang melimpah yang ada di negeri-negeri muslim jadi objek jarahan dan eksploitasi para kapitalis dan negara-negara kapitalis dunia. Di bidang ekonomi, kaum muslim dipungut dengan berbagai pajak yg memberatkan, kebutuhan hidup yg mahal, angka pengangguran yang tinggi berdampak pada semakin naiknnya angka kemiskinan, dan meningkatkan angka kriminalitas. Dalam bidang pendidikan,kaum muslim dididik dengan pendidikan sekuler dan materialistik, yang melahirkan output pendidikan yang jauh dari kesalihan dan ketakwaan , karena berorientasi hanya kepada mencapai materi dan kebahagiaan jasadiah sebanyak - banyaknya. Sehingga kalaupun mereka cerdas secara imu dan teknologi, tapi mereka minim karakter kepribadian Islam. 

Dalam ranah politik,kaum muslim di berbagai belahan dunia dikekang akidahnya dalam menjalankan ketaatan kepada Tuhannya, yaitu Allah SWT, dengan keharusan menerapkan demokrasi, sekularisme- kapitalisme, yang notabene merupakan sistem (aturan) buatan manusia, yang diprakarsai oleh Amerika sebagai kampium kapitalisme demokrasi dunia.

Dalam hal kemanusiaan, kaum muslimin sering menjadi korban, apalagi jika mereka minoritas, seperti kaum muslimin Palestina yang dijajah hampir 80 tahun oleh zionis Israel, Uighur di China, Rohingya di Myanmar, atau muslim Sudan yang menderita akibat keserakahan para penguasa boneka, dan di seluruh belahan bumi yang lain, kaum muslimin khususnya dan umat manusia pada umumnya, menderita akibat penerapan sistem kapitalisme sekularisme, tanpa ada yang melakukan pembelaan secara benar, padahal jumlah kaum muslimin sedunia sangatlah besar. Namun, tidak adanya institusi negara yang menjadi pelindung dan penjaga, kaum muslimin seperti anak ayam kehilangan induknya. Umat Islam yang jumlahnya kurang lebih dua milyar tidak ubahnya bagaikan buih di lautan yang tidak memiliki kekuatan apa apa. Realitasnya sangat bertolak belakang dengan kondisi saat kepemimpinan Islam ( Daulah Islam ) pernah menjadi Mercusuar Dunia selama 1400 tahun lamanya, ketika Islam diterapkan secara komprehensif (kaffah ) oleh institusi negara (Khilafah ), mewujudkan Islam rahmatan lil 'alamiin (QS Al Anbiya;107)

Sudah saatnya kaum muslimin mewujudkan kembali hal tersebut, semata-mata sebagai konsekuensi keimanan kita kepada Islam, dan kewajiban syariat dari Allah Sang Pencipta, yang harus diperjuangkan dan menjadi agenda utama mereka. Melalui peneladanan terhadap aktivitas perjuangan (dakwah) yang dilakukan oleh Rasulullah saw.  
                      
Wallahu a'lam Bisawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update