Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perlawanan Iran Jadi Pelajaran, Umat Islam Bersatu adalah Kemenangan

Thursday, April 23, 2026 | Thursday, April 23, 2026 WIB Last Updated 2026-04-23T13:37:31Z
               

                Oleh Nur Hasanah, SKom 
                 (Aktivis Dakwah Islam)


Perang dan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam beberapa waktu terakhir memberikan pelajaran besar bagi dunia, khususnya bagi negeri-negeri Muslim. Konflik ini bukan sekadar pertarungan militer, melainkan juga pertarungan pengaruh, ideologi, dan kekuatan global. Dari dinamika yang terjadi, tampak jelas bahwa hegemoni global yang selama ini dianggap tak tergoyahkan ternyata memiliki celah. Bahkan, satu negeri Muslim seperti Iran mampu menunjukkan perlawanan yang signifikan terhadap tekanan besar dari kekuatan adidaya dunia.

Fakta pertama yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa AS bersama sekutunya, termasuk Israel, tidak mudah mengalahkan Iran. Meski Iran hanya satu negara, kemampuan militernya, strategi geopolitiknya, dan ketahanan internalnya mampu membuat AS berpikir ulang untuk melakukan konfrontasi terbuka dalam skala penuh. Ini membuktikan bahwa dominasi militer global tidak selalu berarti kemenangan mutlak di lapangan.

Fakta kedua, AS juga tidak mampu secara penuh memaksa negara-negara sekutunya untuk terlibat langsung dalam perang melawan Iran. Banyak negara sekutu yang memilih bersikap hati-hati, bahkan cenderung menjaga jarak dari konflik terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa aliansi internasional tidaklah bersifat permanen, melainkan sangat bergantung pada kepentingan masing-masing negara. Ketika risiko dianggap terlalu besar, loyalitas pun bisa goyah.

Namun, fakta ketiga justru menjadi ironi yang menyakitkan bagi umat Islam. Di tengah konflik tersebut, masih terdapat penguasa negeri Muslim yang justru bersekutu dengan AS. Alih-alih membangun solidaritas umat, mereka lebih memilih berpihak pada kepentingan asing. Sikap ini secara langsung melemahkan potensi kekuatan kolektif dunia Islam dan memperpanjang dominasi kekuatan global atas negeri-negeri Muslim.

Fakta keempat adalah munculnya berbagai syarat yang diajukan Iran dalam upaya gencatan senjata dengan AS. Ini menunjukkan bahwa Iran tidak berada dalam posisi yang sepenuhnya lemah. Sebaliknya, Iran mampu menempatkan dirinya sebagai pihak yang memiliki daya tawar dalam konflik tersebut. Dalam konteks itu, putra dari Ali Khamenei menyampaikan bahwa keteguhan Iran menghadapi tekanan global telah menjadikan Teheran sebagai contoh yang menginspirasi banyak bangsa di berbagai belahan dunia, (mediaindonesia.com 10/4/2026). 

Dari fakta-fakta tersebut, ada beberapa analisis penting yang perlu direnungkan. Pertama, AS dan Israel tidaklah sekuat yang dibayangkan oleh dunia. Selama ini, citra kekuatan adidaya sering dibangun melalui dominasi media dan narasi global. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kekuatan tersebut tetap memiliki keterbatasan. Iran, dengan segala keterbatasannya, mampu menunjukkan keberanian untuk melawan tekanan besar tersebut.

Kedua, tidak ada negara yang memiliki sekutu permanen. Dalam politik internasional, kepentingan adalah segalanya. Hari ini bisa menjadi kawan, besok bisa menjadi lawan. Oleh karena itu, menggantungkan harapan pada aliansi dengan negara besar bukanlah strategi yang kokoh bagi negeri-negeri Muslim. Justru, kemandirian dan persatuan internal menjadi kunci utama kekuatan.

Ketiga, pengkhianatan sebagian penguasa Muslim menjadi faktor utama yang melemahkan umat. Ketika para pemimpin lebih memilih menjaga kekuasaan pribadi daripada memperjuangkan kepentingan umat, maka potensi besar yang dimiliki dunia Islam menjadi sia-sia. Padahal, jika negeri-negeri Muslim bersatu, mereka memiliki sumber daya alam, jumlah penduduk, dan posisi strategis yang sangat besar.

Keempat, potensi kesatuan negeri-negeri Muslim sesungguhnya dapat menjadi kekuatan global baru yang mampu menandingi bahkan mengalahkan hegemoni negara adidaya. Dengan persatuan yang kuat, dunia Islam tidak hanya mampu mempertahankan diri, tetapi juga mampu menentukan arah peradaban dunia.

Dari sini, menjadi sangat penting untuk membangun kesadaran umat bahwa persatuan negeri-negeri Muslim adalah kebutuhan yang mendesak. Umat Islam tidak boleh terus terpecah oleh batas-batas nasionalisme yang diwariskan oleh penjajah. Sebaliknya, umat harus kembali melihat dirinya sebagai satu kesatuan yang memiliki tujuan dan kepentingan yang sama.

Kesatuan tersebut tidak cukup hanya dalam bentuk solidaritas emosional, tetapi harus diwujudkan dalam sebuah institusi politik yang kuat. Dalam perspektif Islam, institusi tersebut adalah Khilafah Islam. Sebuah sistem pemerintahan yang menyatukan negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan yang berlandaskan syariat Islam.

Dengan adanya Khilafah, potensi besar umat Islam dapat dikelola secara optimal. Kekuatan militer dapat disatukan, sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara adil, dan kebijakan luar negeri dapat diarahkan untuk melindungi kepentingan umat secara keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, hegemoni negara adidaya tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan.

Lebih dari itu, Khilafah Islam diyakini mampu membebaskan penderitaan negeri-negeri Muslim yang saat ini masih terjajah, baik secara fisik maupun ekonomi. Konflik-konflik yang terjadi di berbagai wilayah dunia Islam tidak akan dibiarkan berlarut-larut, karena ada kekuatan besar yang siap melindungi dan membela umat.

Selain itu, Khilafah juga membawa misi dakwah dan jihad sebagai sarana untuk menyebarkan rahmat Islam ke seluruh dunia. Dakwah dilakukan dengan hikmah dan argumentasi yang kuat, sementara jihad menjadi instrumen untuk melindungi umat dari penindasan dan kezaliman.

Dengan dua pendekatan ini, Islam tidak hanya menjadi kekuatan politik, tetapi juga menjadi solusi bagi peradaban manusia.
Sebagai penguat, Allah SWT berfirman:
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan dalam Islam. Perpecahan hanya akan melemahkan, sementara persatuan akan melahirkan kekuatan yang besar.

Pelajaran dari konflik AS–Iran seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk bangkit dan menyadari potensi besar yang dimiliki. Jika satu negeri saja mampu memberikan perlawanan, maka bagaimana jika seluruh negeri Muslim bersatu? Inilah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh umat Islam hari ini.

Kesadaran ini tidak boleh berhenti pada tataran wacana, tetapi harus diwujudkan dalam perjuangan nyata untuk menegakkan persatuan umat. Hanya dengan persatuan yang kuat, umat Islam dapat keluar dari belenggu dominasi global dan kembali menjadi kekuatan yang membawa rahmat bagi seluruh alam. []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update