Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perlucutan Senjata Hamas: Jalan Damai atau Siasat Melemahkan Palestina?

Wednesday, August 12, 2026 | August 12, 2026 WIB Last Updated 2026-08-13T03:09:03Z





Oleh: Tresna Mustikasari, Pegiat Literasi

Kabar mengejutkan datang dari Trump pada akhir Juli 2026 kemarin. Dilansir oleh kantor berita AFP (Agence France-Presse), Trump mengumumkan bahwa Board of Peace (Dewan Perdamaian) berhasil mencapai kesepakatan perlucutan senjata lengkap untuk Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza. Dia mengklaim bahwa hal itu dilakukan sebagai langkah monumental menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng untuk ke dua belah pihak.

Tahapan yang direncanakan adalah perlucutan senjata dan hal itu akan dilakukan secara bertahap. Setelah selesai, pasukan tentara Zionis Israel diminta mundur dari Jalur Gaza. Langkah terakhir pasca  konflik adalah Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force) bersama kepolisian baru Palestina akan mengambil alih tanggung jawab keamanan di Gaza.

Namun ironisnya, beberapa hari setelah pengumuman tersebut, IDN Times melaporkan bahwa Israel kembali melakukan serangan udara di Gaza pada 1–2 Agustus 2026. Serangan tersebut dilakukan di Kota Gaza, Deir el-Balah dan Khan Younis, dan sedikitnya menewaskan 8 warga Palestina. Tidak hanya itu, rudal Israel merusak dua gudang obat Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah serta meratakan sekitar 50–60 tenda pengungsian di sekitarnya.

Dengan demikian pasukan Israel saat ini menguasai lebih dari 60% wilayah Gaza dan melumpuhkan 50% kapasitas fasilitas kesehatan, dengan total korban tewas sejak Oktober 2023 melampaui 73 ribu jiwa.

Perlucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata di Gaza sejatinya merupakan siasat AS dan Zionis Israel melalui BoP untuk melemahkan perjuangan rakyat Palestina. Sejak awal pendirian BoP banyak pengamat politik baik nasionalis maupun agamis yang sudah memprediksi dan mengingatkan bahwa tentu ada udang di balik batu. Tidak mungkin Trump tanpa maksud dan tujuan tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan membela rakyat Palestina setelah sebelumnya paling gencar dan keras permusuhannya terhadap Islam. 

Namun sayangnya umat terlebih penguasa negeri-negeri kaum muslim kian lupa dan penolakan terhadap keikutsertaan negara mereka di BoP kian meredup dan menghilang. Padahal menjadi bagian dari BoP sama dengan menyerahkan Gaza pada mulut harimau (Zionis Israel dan AS), sementara Hamas sebagai perisai terakhir di tengah rakyat harus dilemahkan dengan melucuti senjata mereka.

Jadi jelaslah, perlucutan senjata bukan solusi bagi perdamaian, keamanan dan pembebasan Gaza. Namun sebaliknya, itu adalah titik awal kemenangan Zionis Israel dan AS untuk terus melakukan penjajahan, perampasan tanah dan genosida atas Gaza dengan tanpa perlawanan. Inilah New Gaza sesungguhnya, Gaza baru yang dibangun berdasarkan standar AS bukan berdasarkan keinginan rakyat Gaza sebagai pemilik tanah sesungguhnya. 

Melihat apa yang terjadi di Gaza, umat harus kembali merujuk pada Al-Quran dan As-sunah. Berapa kali Allah dan Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan kepada kita bahwa musuh-musuh Islam, termasuk di dalamnya Zionis, tidak akan pernah ridho dengan kita sampai kita mengikuti millah mereka. Mereka adalah musuh yang nyata, maka sungguh tidak layak kita memberikan kepercayaan keamanan umat muslim di tangan mereka.

Umat Islam tidak boleh mudah terlena oleh narasi “perdamaian” yang ditawarkan Amerika Serikat dan Zionis Israel. Di balik berbagai skema, termasuk Board of Peace (BoP) dan agenda perlucutan senjata Hamas, umat perlu melihat adanya kepentingan politik yang lebih besar: bagaimana kekuatan perlawanan Palestina dilemahkan, sementara dominasi dan kepentingan Zionis tetap terjaga. 

Karena itu, umat harus semakin sadar bahwa selama penjajahan masih berlangsung, berbagai siasat dan wajah baru akan terus bermunculan. Pergantian istilah—dari “gencatan senjata”, “rekonstruksi”, “stabilisasi”, hingga “perlucutan senjata”—tidak boleh membuat umat kehilangan kesadaran terhadap akar persoalan, yakni penjajahan atas Palestina.

Dalam kondisi demikian, umat juga harus terus melakukan kritik dan koreksi terhadap para pemimpin negeri-negeri Muslim yang justru bersekutu dengan Amerika Serikat dan terlibat dalam berbagai skema yang dibangun melalui BoP. Kekayaan, wilayah, dan kekuatan militer negeri-negeri Muslim semestinya menjadi kekuatan untuk membela umat dan membebaskan Palestina, bukan menjadi alat untuk mendukung agenda kekuatan asing. 

Umat tidak boleh berhenti menuntut para penguasa Muslim agar melepaskan ketergantungan kepada AS dan menghentikan segala bentuk dukungan terhadap agenda yang merugikan Palestina. Sebaliknya, umat Islam di seluruh dunia harus terus membangun kesadaran bahwa persoalan Palestina bukan persoalan bangsa Palestina semata, melainkan persoalan seluruh umat Islam.

Oleh sebab itu, upaya pembebasan Palestina membutuhkan perubahan yang fundamental, yakni membangun persatuan dan kekuatan politik umat Islam secara global dalam satu kepemimpinan Khilafah. Dalam kerangka tersebut, nasib Palestina tidak semestinya hanya bergantung pada jalur diplomasi, keputusan lembaga internasional, maupun berbagai kesepakatan yang dirancang oleh negara-negara adidaya. Palestina membutuhkan kekuatan nyata yang mampu melindungi rakyatnya dan mengakhiri pendudukan Zionis. 

Umat Islam harus meyakini bahwa pembebasan Palestina membutuhkan kekuatan militer kaum Muslimin yang terorganisasi dan berada di bawah kepemimpinan politik yang satu. Dengan demikian, perjuangan membebaskan Palestina bukan sekadar menunggu belas kasihan dunia, tetapi membangun kekuatan umat hingga mampu menghadapi dan mengakhiri penjajahan Zionis atas Palestina. Wallohu’alam bishowab.
×
Berita Terbaru Update