Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Bandang, teguran Alam atas Rakusnya Manusia

Wednesday, October 01, 2025 | Wednesday, October 01, 2025 WIB

 



Oleh: Kursiyah Azis (Penulis dan Aktivis Muslimah)



Banjir bandang bukan semata peristiwa alamiah. Ia adalah cermin telanjang dari kerakusan manusia . Seolah tak pernah puas atas apa yang sudah di genggaman tangan, perilaku serakah manusia hari ini benar-benar sudah melewati batas. Mulai dari menjarah hutan, lalu merusak sungai, hingga mengabaikan keseimbangan ekosistem. Pada akhirnya alam yang selama ini diam, kini bersuara lantang melalui murkanya air yang meluap tanpa kendali.


Melansir dari KOMPAS.Co.id, kamis ,11/9/2025. Banjir bandang melanda sejumlah kawasan di Bali . Banjir tersebut menjadi pengingat agar Bali segera berbenah. Selama ini pembangunan di Bali tidak berorientasi pada antisipasi bencana, banyak mengabaikan aturan tata ruang, dan mengalami kelebihan SDM yang tidak memiliki visi melindungi kelestarian lingkungan.

Sejumlah Kawasan di daerah Bali dilanda banjir mulai Selasa (9/9/2025). 


Banjir ini menyebar di 123 titik, di Denpasar, Gianyar, Tabanan, Karangasem, Jembrana, dan Badung. Akibat banjir ini menyebabkan 14 orang meninggal dan kerusakan infrastruktur bangunan serta jembatan.


*Banjir Bandang, antara Fenomena Alam dan Keserakahan Manusia*


Banjir bandang yang sudah sering terjadi bukan hanya sekadar fenomena alam biasa, melainkan teguran keras atas kerakusan manusia dalam memperlakukan bumi. Alam sejatinya diciptakan dengan keseimbangan, yakni hutan sebagai penyerap air,dan tanah sebagai penyangga, lalu sungai sebagai jalur alirannya. Namun akibat kerakusan manusia dalam mengejar keuntungan jangka pendek dengan cara menebang hutan tanpa kendali, mengalihfungsikan lahan resapan menjadi bangunan, menambang gunung hingga gundul, bahkan membuang sampah sembarangan ke sungai akhirnya secara otomatis telah merusak keseimbangan itu, lalu terjadilah banjir bandang.


Banjir bandang adalah “jawaban alam” terhadap pengkhianatan manusia pada amanah menjaga bumi. Air yang semestinya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi bencana mematikan karena jalurnya disumbat dan penyerapannya hilang. Teguran ini begitu nyata. Bukan hanya sekali, banjir bandang sudah terjadi ratusan kali tanpa menyisakan kesadaran sedikitpun. Padahal dampaknya sungguh nyata di alami manusia itu sendiri. Rumah yang notabenenya sebagai tempat ternyaman akhirnya hanyut terseret arus air, nyawa melayang, dan ekonomi lumpuh seketika.


Olehnya itu maka terjadinya banjir bandang seyogianya menyadarkan manusia agar segera berbenah. Bukan hanya membenahi soal kerakusannya, akan tetapi membuang sistem yang selama ini menyuburkan perilaku serakah, yakni sistem sekuler buatan manusia itu sendiri. Karena kerakusan akan selalu berujung pada kehancuran. Ketika manusia menolak aturan Sang Pencipta dalam mengelola alam, yakni dengan prinsip keseimbangan, keberlanjutan, dan tanggung jawab, maka bencana hanyalah masalah waktu.


Dengan demikian, banjir bandang tidak cukup ditangani dengan sekadar proyek teknis seperti normalisasi sungai atau pembangunan tanggul. Akar masalahnya adalah Sistem yang senantiasa membuka peluang bagi pola pikir serakah yang tak pernah puas. 


*Islam menjaga Alam*


Banjir bandang akan selalu terjadi, dimanapun dan kapanpun. Selama sistem demokrasi sekuler masih menjadi sistem yang mengatur kehidupan manusia. Maka banjir bandang dan aneka jenis bencana alam akan selalu berdatangan. Sudah saatnya kita kembali pada pengelolaan alam yang berbasis amanah, berpihak pada kelestarian, dan menolak eksploitasi rakus atas nama keuntungan.

Namun pengelolaan alam yang berbasis amanah hanya ada dalam sistem Islam. Islam bukan hanya sekadar agama yang mengatur cara ibadah, namun juga memiliki mekanisme tersendiri dalam menjaga alam. Ketika terjadi banjir bandang, Islam tidak hanya fokus pada aspek teknis penanggulangan bencana, tetapi juga menyentuh akar masalah yang lebih dalam, yakni menumbuhkan hubungan manusia dengan Allah, alam, dan sesamanya. Islam memandang bencana bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga sebagai peringatan, ujian, atau teguran.

beberapa solusi Islam terkait banjir bandang diantaranya adalah; 


pertama: Tata Kelola Alam Berdasarkan Syariat. Islam mengajarkan bahwa alam adalah amanah dari Allah (QS. Al-Baqarah: 29). Sehingga dengan demikian maka menjaganya dengan baik merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim .Eksploitasi berlebihan seperti penebangan hutan, alih fungsi lahan tanpa memperhatikan keseimbangan ekologis, dan kerakusan kapitalistik harus dihentikan. Syariat Islam menekankan konsep himā (kawasan lindung) dan harim (daerah penyangga) untuk menjaga hutan, sungai, dan sumber daya air.


Ke dua : Keadilan dalam Pengelolaan Sumber Daya. Banyak banjir bandang terjadi karena pembangunan hanya berpihak pada kepentingan segelintir elit, sementara rakyat jadi korban. Dalam Islam, negara wajib mengelola sumber daya (air, hutan, tanah) untuk kepentingan seluruh umat, bukan untuk keuntungan investor.


Ketiga:. Pencegahan dengan Ilmu dan Perencanaan yang Islami. Rasulullah ﷺ mencontohkan pentingnya perencanaan tata ruang. Sebagaimana saat membangun Madinah, beliau menata pasar, masjid, dan pemukiman dengan memperhatikan lingkungan. Negara dalam Islam wajib menyediakan infrastruktur tangguh bencana, menata daerah aliran sungai, serta melarang pembangunan di kawasan rawan bencana.



Ke empat: Spirit Iman dan Taqwa. Banjir bandang bisa menjadi teguran agar manusia kembali taat kepada Allah. Dengan memperbaiki hubungan dengan Allah seperti meninggalkan kemaksiatan, menjaga keadilan, dan menegakkan hukum-Nya di muka bumi. Allah berjanji, jika penduduk beriman dan bertakwa, Dia akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi (QS. Al-A’raf: 96).


Namun semua itu hanya bisa berjalan jika sistem Islam yang menjadi pengatur kehidupan. Karena ia akan menjadi tanggung Jawab Negara Khilafah. Dalam sistem Islam, khalifah wajib melindungi rakyat dari bahaya bencana, dengan mengelola dana baitul mal untuk penanggulangan, evakuasi, dan pemulihan pasca-bencana, Khalifah juga akan mengarahkan pembangunan sesuai syariat agar tidak merusak alam.


Sehingga dengan demikian maka menghentikan banjir bandang tidak bisa hanya sekadar normalisasi sungai atau tanggul beton, tetapi perubahan paradigma. Mulai dari rakus mengeksploitasi alam ke pengelolaan amanah sesuai syariat. Dengan itu, bencana bisa diminimalisir, dan keberkahan hidup tercapai. Wallahu alam.

1 comment:

  1. Subhanallah trimaksih pencerahannya ibu Kurniyah Aziz

    ReplyDelete

×
Berita Terbaru Update