Oleh: Zahwa Asma Fathiyyah
(Mahasiswi STIU Darul Hikmah)
Terinspirasi dari aksi sebagian supir truk yang mengibarkan bendera One Piece di truk yang dikendarainya, kini ramai masyarakat ikut mengibarkannya, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Salah satunya pak Rahmat, seorang supir truk di kawasan Kranji, Bekasi Barat, Kota Bekasi. Sebagaimana dikutip dari Bekasi24Jam.com, ia mengatakan bahwa hal itu dilakukan dalam rangka menyuarakan keresahan mereka terhadap situasi ekonomi dengan cara unik yakni memasang bendera bajak laut dari serial One Piece di belakang kendaraan.
Menurutnya, tindakan yang dilakukan bukan sekadar hiasan. Bendera bergambar Jolly Roger itu mewakili suara hati para pekerja kecil yang mulai kesulitan bertahan hidup. Ia pun mengatakan bahwa dirinya dan kawan-kawannya yang juga melakukan hal yang serupa, tetap hormat pada negara. Bendera Merah Putih dipasang lebih tinggi. Tapi ini (bendera One Piece) bentuk unek-unek kami soal kondisi sekarang. Bahwa perekonomian yang tak stabil telah membuat kehidupan sehari-hari makin berat. Harga kebutuhan pokok naik terus, sementara pendapatan tetap. Membuat hidup rasanya makin sulit.
Menko Polkam Budi Gunawan secara cepat merespon adanya aksi ini. Menurutnya, sebagai bangsa yang menghargai sejarah, sepatutnya menahan diri untuk tidak memprovokasi dengan simbol-simbol yang tidak relevan dengan perjuangan bangsa. Budi memastikan akan mengambil langkah tegas jika terdapat upaya kesengajaan dalam menyebarkan narasi ini.
Bahkan, sebagian kalangan ada yang menuding pengibaran bendera itu sebagai makar.
Namun, peneliti kebijakan publik Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP) Riko Niviantoro menganggap fenomena ini bukan termasuk upaya makar.
Ia berpendapat, anak-anak bangsa hanya ingin menyampaikan gagasannya dengan cara yang berbeda. Hal itu, menurut Riko, perlu diperhatikan dan didengar oleh pemerintah saat masyarakat melakukan kritik. ”Anak-anak bangsa kita ini ingin menyampaikan gagasan-gagasan baik dengan cara yang berbeda. Ini yang perlu kita dengar,” ucapnya.
Pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia Dr. Citra Wulandari menyebut, fenomena ini tidak bisa semata dilihat sebagai penghinaan simbol negara. Menurutnya, “Perlu dibedakan antara bentuk ekspresi simbolis dan tindakan merendahkan negara. Kalau tujuannya untuk menyampaikan kritik sosial secara damai, harusnya pemerintah bersikap lebih terbuka".
*Suara Ketakadilan*
Melihat tema besar HUT ke-80 RI pada tahun 2025 ini yaitu, "Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju". Maka rakyat Indonesia tentu berharap bisa terpenuhinya kebutuhan hidup dan bagi generasi muda, dapat bersekolah dan melanjutkan cita-cita dengan biaya yang murah dan tidak menyulitkan. Namun kenyataan saat ini, jauh panggang dari api. Boro-boro untuk bersekolah dan melanjutkan cita-cita, untuk kehidupan sehari-hari pun kian sulit. Ketakadilan terjadi dimana mana. Penguasa kian abai pada kesejahteraan rakyat, bahkan cenderung menindas. Maka masyarakat mulai mencari cara menyuarakan rasa ketakadilan ini melalui pemasangan bendera One Piece. Kenapa _One Pieces_?Hal itu lantaran yang tertulis dalam kisah anime One Piece mereka anggap relevan dengan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Bagi para sopir truk, ketakadilan itu adalah saat pemerintah menetapkan aturan ODOL (Over Dimension Over Loading) yang lebih menitikberatkan hukuman pada sopir dibandingkan kepada perusahaan muatan yang memerintahkan sopir membawa muatan berlebih. Peraturan ini menetapkan sanksi bagi pengemudi truk yang melanggar batas dimensi dan muatan. Sanksi itu bisa berupa denda, tilang, bahkan kurungan penjara.
Bagi masyarakat, abainya negara adalah dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka, baik pangan, sandang, dan papan, maupun kebutuhan akan pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Serta seringnya negara melakukan kezaliman. Contoh yang terbaru adalah pemblokiran 122 juta rekening dormant oleh PPATK yang telah menimbulkan banyak masalah bagi rakyat. Meski pemblokiran sudah dibuka kembali, tetap saja ini menunjukkan kezaliman penguasa.
Penegak hukum pun sering kali membuat keputusan yang bersifat tumpul ke atas tajam ke bawah. Lihatlah kasus Harvey Moeis yang telah merugikan negara hingga Rp300 triliun hanya dijatuhi vonis hukuman 6,5 tahun penjara, sedangkan Nenek Minah yang hanya memetik 3 buah kakao senilai Rp.6.000 di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan.
Ketakadilan seperti inilah yang dirasakan masyarakat sehingga mengidentikkan keadilan ala anime One Piece.
*Ketidakadilan Hanya Tuntas dengan Sistem Islam*
Menggunakan bendera One Pieces sesungguhnya bukan tindakan yang tepat. Pasalnya simbol kepala tengkorak dengan dua tulang bersilangan dan mengenakan topi jerami bermakna mengusung simbol melawan ketakadilan dan kebebasan mutlak. Padahal, kebebasan yang tidak memiliki batasan justru akan menimbulkan ketakadilan. Terlebih simbol itu lahir dari peradaban sekuler.
Peneliti balaghah Al-Qur’an dan Hadits Nabawi Irvan Abu Naveed, M.Pd.I. mengingatkan bahwa simbol One Piece bertentangan dengan Islam sehingga seharusnya tidak digunakan oleh seorang muslim. ”Penggunaan simbol-simbol yang berasal dari luar Islam dan membawa paradigma yang bertentangan adalah bagian dari at–tasyabuh bil kuffar (menyerupai orang-orang kafir) yang dilarang keras dalam Islam,” jelasnya.
IMaka solusi terbaik melawan ketidakadilan adalah dengan menerapkan sistem Islam. Islam diturunkan oleh Allah Swt. bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi sebagai sistem hidup yang menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik yang menegakkan keadilan dan menolak segala bentuk penindasan.
Dalam Islam, kedaulatan ada di tangan syariat Islam. Allah Swt satu-satunya pemilik otoritas untuk membuat hukum dan syariat, baik dalam perkara ibadah, makanan, pakaian, akhlak, muamalah, maupun sanksi. Ini sebagaimana firman Allah Swt.,
إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْفَٰصِلِينَ
”Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS Al-An’am [6]:57).
Maka, manusia tidak diperbolehkan membuat hukum dan menetapkan hukum bagi kehidupannya. Manusia hanya harus taat pada seluruh hukum yang dibuat Allah Swt.
Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Sistem Pemerintahan Islam hlm. 14 menjelaskan, ”Tidak ada peluang bagi siapa pun di dalam negara Islam untuk membuat hukum yang dipergunakan untuk mengatur seluruh hubungan manusia, termasuk di antaranya adalah membuat undang-undang dasar atau perundang-undangan lainnya. Begitu pula tidak ada peluang bagi penguasa untuk memaksa manusia atau memberikan alternatif kepada mereka agar mengikuti ketentuan serta hukum buatan manusia dalam mengatur interaksi mereka.”
Maka kaum muslimin jelas tidak boleh menghamba kepada sesama manusia. Dan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar tidak terkecuali kepada seorang penguasa. Umar bin Khaththab ra. berkata, “Barang siapa di antara kalian melihatku bengkok maka hendaklah dia meluruskannya.”
Demikianlah Islam mengatur keadilan yang menyeluruh bagi manusia. Maka hendaknya seluruh masyarakat menyuarakan tegaknya sistem Islam, sebuah sistem shahih yang akan melindungi dan menyejahterakan manusia secara merata. Sehingga ketidakadilan akan sirna.dari muka bumi ini. Wallahua'lam bishshawab

No comments:
Post a Comment