Oleh: Rahma,Praktisi Pendidikan
Kita bisa melihat, Donald Trump yang dimotori Partai Republik, selama ini lebih menyukai perang daripada perdamaian.
Sehingga agak janggal apabila AS meminta Israel untuk menyetujui gencatan senjata. Terlebih, Perdana Menteri (PM) Israel Benyamin Netanyahu diketahui juga menolak gencatan senjata.
Dugaan adanya kesepakatan terselubung antara Donald Trump dan Netayanhu soal Gaza dan Palestina adalah sebuah niscaya.
Maka terkait gencatan senjata ini penting bagi umat Islam untuk mencermati tiga hal berikut. Pertama, pahami kembali bahwa inti persoalan Palestina adalah persoalan tanah kaum Muslim yang diokupasi dan dirampas Zionis Yahudi sejak tahun 1947 hingga sekarang.
Gencatan senjata bukan menghentikan penjajahan, tetapi cara yang selalu dilakukan Yahudi untuk menghela nafas atau menjeda perang yang telah memakan dana yang demikian besar, kerugian besar bagi mereka, konflik dan keamanan yang terus mencekam, rakyat mereka yang terus berada ketakutan dan situasi tidak aman.
Sama sekali bukan komitmen untuk menghentikan penjajah mereka, apalagi mereka harus keluar dari tanah Palestina, tidak sama sekali.
Kedua, tidak sekadar merampas tanah, Yahudi juga sudah tak terhitung melakukan berbagai tindakan biadab mengarah pada genosida terhadap kaum Muslim di Palestina. Dan penderitaan tersebut terjadi hingga sekarang. Maka gencatan senjata sekali lagi hanya menjeda perbuatan biadab mereka untuk beberapa saat. Setelah itu, entah kapan dan apa lagi momentumnya, mereka akan tetap pada sikapnya melakukan bumi hangus kepada kaum Muslim Palestina.
Ketiga, sudah banyak perjanjian, gencatan senjata, hingga resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang selalu dilanggar Yahudi, yang memang dikenal sebagai bangsa pengkhianat dan sering melanggar perjanjian. Maka 'kebahagiaan' sesaat kaum Muslim Palestina ketika ada gencatan senjata, sejatinya 'dimanfaatkan' untuk memperbaiki berbagai kondisi fisik dan psikis seraya merapatkan kembali barisan para mujahid, menyusun rencana-rencana perlawanan strategis (jihad) untuk sementara, sambil menunggu datangnya pasukan tentara Islam yang diutus oleh khalifah kelak (Insyaallah, dalam waktu dekat) untuk segera membebaskan kembali Palestina dan mengusir Zionis Yahudi la'natullah.
Maka gencatan senjata jangan sampai mengurangi kefokusan dalam perjuangan meraih pembebasan Palestina, seraya tetap mewaspadai tipu daya Yahudi baik bagi kaum Muslim di Palestina khususnya maupun secara umum di dunia.
Wilayah Palestina adalah wilayah yang diberkati yang dalam ketentuan syariah itu termasuk tanah kharajiyah. Tidak boleh seorang pun menyerahkan wilayah itu, apalagi kepada musuh.
Dengan jumlah dua miliar, sebut UIY, umat Muslim bisa menjadi entitas yang paling besar dan kuat jika berada dalam naungan khilafah melawan Israel yang jumlah penduduknya hanya tujuh juta.
"Dengan persatuan di bawah naungan daulah khilafah kita akan memiliki kekuatan luar biasa menghadapi siapa pun, termasuk mereka yang ini hari melindungi negara Zionis yang telah menghancurkan wilayah yang diberkati, menghina-dinakan saudara-saudara kita," tandasnya.[]
