Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Simbolis Atau Islam Kaffah

Thursday, April 10, 2025 | April 10, 2025 WIB Last Updated 2025-04-10T00:24:01Z

 


Oleh: Nadia Salsabyla

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan mulia. Karena di dalamnya ada momentum diturunkannya Al Quran kepada baginda Rasulullah ﷺ. Momen ini tentu jadi pengingat bagi setiap muslim, bahwa Al Quran tidak hanya untuk dibaca namun juga diamalkan. Untuk itu di beberapa wilayah di Indonesia, pemerintah setempat menginisiasi peringatan nuzulul qur’an.

 

Kementerian Agama menggelar 350 ribu khataman Al-Qur'an pada 16 Ramadan 1446 Hijriah. Kakanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid menyampaikan, "Saat Nuzulul Quran ini kita membaca, menerjemahkan, sampai memahami  Al-Qur'an. Itu kita bumikan dalam kehidupan kita sehari-hari apa yang kita dapatkan dari  Al-Qur'an". -Metrotv 16/3/25-

 

Laksanakan arahan Bupati Bogor, Rudy Susmanto, Wakil Bupati Kabupaten, Jaro Ade lakukan Peringatan Nuzulul Qur'an yang diselenggarakan di Masjid Agung Nurul Faizin, Cibinong, dengan mengusung tema "Peran Al-Quran Dalam Membangun Masyarakat Berahlak Mulia". Jaro Ade juga menyampaikan, "Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendorong umat Islam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari”. -kabarindoraya 16/3/25-

 

Acara demikian memang diperlukan untuk mendekatkan kembali kaum muslimin dari berbagai elemen masyarakat kepada Al Qur’an. Sayangnya momen ‘mengingat Al Quran’ ini hanya terasa di bulan Ramadhan. Sebelum dan sesudahnya seakan tidak ada syariat yang melekat pada masyarakat muslim. Baik dalam ranah individu, keluarga, masyarakat maupun negara, banyak syariat yang ditinggalkan. Yang tertinggal hanya urusan individu dengan Tuhannya.

 

Aqidah Yang Rusak

Banyak yang mengaku beriman, namun faktanya minim pengamalan syariat-Nya. Padahal iman akan menuntut pembuktian pada seseorang yang mengaku mukmin. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Muzani  dalam kitab syarhus sunnah, “Iman itu perkataan dan perbuatan, bersama dengan keyakinan dalam hati, ucapan dalam lisan, dan amalan dengan anggota badan”.

 

Memang benar, bahwa kaum muslimin saat ini mengambil Islam sebagai aqidah mereka. Namun hal ini hanya sebatas aqidah ruhiyah atau terbatas pada syariat yang mengatur peribadatan saja. Sedang hubungan mereka dalam hal ekonomi, politik dan perkara duniawi lainnya diserahkan pada akal manusia untuk mengaturnya. Inilah kemudian yang disebut sistem demokrasi kapitalis. Dimana orientasi materi jadi tujuan utama tiap perbuatan dan akal manusia yang jadi sumber aturannya. Maka Al Qur’an tidak diperlukan lagi, terlebih jika sampai menghalangi tujuan perbuatan mereka.

 

Padahal manusia itu adalah makhluk yang lemah dan terbatas. Sehingga aturan yang lahir darinya akan berpotensi menyebabkan perselisihan, pertentangan dan bahkan melahirkan masalah yang baru. Hal ini nampak dari setiap kebijakan pemerintah yang belum pernah menuntaskan masalah sampai ke akarnya. Sebaliknya, kebijakan negeri ini semakin menambah beban masyarakat kecil. Janji - janji manis yang diumbar selama kampanye, nyatanya hanya bualan yang jauh dari realisasinya.

 

Demikian jadinya jika kita mengambil islam hanya sebatas perkara peribadatan. Padahal islam juga mengatur urusan keduniawian. Namun sayangnya, seseorang yang menginginkan taat dengan segala aturan-Nya akan di cap sebagai radikal, intoleran atau bahkan teroris. Lantas apakah setiap perayaan turunnya Al Quran ini hanya simbolis belaka, demi mendapat label pemimpin yang islami, atau masyarakat yang islami?.

 

Islam Kaffah

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. [QS. Al Baqarah : 208]

 

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara sempurna. Bukannya prasmanan apalagi suka - suka kita. Pengamalan syariat pun sudah ada tuntunannya, yakni dengan meneladani Rasulullah ﷺ . Rasulullah hijrah ke madinah bukan sekedar menghindari siksaan kafir Quaraisy, namun demi mendirikan institusi negara berlandas syariat Islam.

 

Bagaimana Rasulullah mengatur politik, ekonomi, sosial, dan urusan keduniawian lainnya bisa terlihat dengan jelas di madinah kala itu. Maka sungguh kita tidak layak dilabeli muslim bahkan mukmin jika yang kita teladani hanya perkara shalat, akhlaq atau rumah tangganya Rasul saja. Konsekuensi menjadi muslim adalah beriman dan taat syariat, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah yang artinya;

 

“Barang siapa yang tidak memutuskan perkara berdasarkan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Ma’idah: 44).

 

“Barang siapa tidak memutuskan perkara berdasarkan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Ma’idah: 45).

 

“Barang siapa tidak memutuskan perkara berdasarkan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Ma’idah: 47).

 

Mari buktikan keimanan kita dengan amalan sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ. Jangan biarkan diri kita berlama-lama dalam aqidah simbolis saja, namun segera upgrade diri kita agar berislam secara kaffah.

Wallahu a’lam bisshowab

 

×
Berita Terbaru Update