Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

SISTEM OPLOSAN, AKANKAH SEGERA HENGKANG?

Tuesday, March 18, 2025 | March 18, 2025 WIB Last Updated 2025-03-18T03:43:22Z

SISTEM OPLOSAN, AKANKAH SEGERA HENGKANG?


Teringat akan lagu yang berjudul "Oplosan".

Opo ora eman duite? Gawe tuku banyu setan

Oplosan 3x


Dahulu, oplosan selalu identik dengan minuman keras yang dioplos. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman dan tehnologi, bukannya negeri ini tambah maju dan beradab,seperti bunyi sila Pancasila ketiga yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.Sebaliknya,ulah manusia hari ini terutama para pejabatnya makin keblinger.Betapa tidak, rakyat dengan berbagai problematika kehidupan yang semakin menumpuk dan semakin turun daya pikirnya, terus menerus dikibulin dengan berbagai intrik busuk dibungkus dengan populisme yang senantiasa ditampilkan di ruang publik. Misalnya kasus pejabat pertamina,yang mengoplos pertamax dengan pertalite,disusul adanya minyakita oplosan dengan minyak curah  hingga takaran yang tidak sesuai dengan yang dijual di pasaran menunjukkan gagalnya negara mengatasi kecurangan para korporat yang berorientasi untung. Ini membuktikan bahwa distribusi kebutuhan pangan ada di tangan korporasi. Sedangkan, negara hanya hadir untuk menjamin bisnis yang kondusif bagi para kapital. Bahkan tidak ada sanksi menjerakan jika mendapati perusahaan melakukan kecurangan.


JAKARTA - Setelah adanya dugaan praktik Pertamax 'oplosan' yang membuat heboh publik, kini produk minyak goreng kemasan Minyakita tengah menjadi sorotan. Produk Minyakita menyita perhatian setelah ditemukannya dugaan kecurangan pada takaran minyak goreng dalam kemasan yang tidak sesuai takaran pada label kemasan. Setelah sempat ramai di media sosial, temuan kecurangan takaran Minyakita dikuatkan dengan pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Andi Amran Sulaiman menemukan minyak goreng kemasan MinyaKita yang tidak sesuai dengan takaran di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan.


KBRN, Mataram: Dinas Perdagangan Kota Mataram menemukan indikasi minyak curah yang dikemas ulang dengan merek MinyaKita di pasar tradisional. Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, Jumat (14/3/2025) mengungkapkan bahwa minyak kemasan umumnya lebih jernih dan bersih dibandingkan minyak curah. Namun, dalam pemantauan di sejumlah pasar, ditemukan adanya minyak curah yang diduga dikemas menggunakan merek MinyaKita. 


Kapitalisme melahirkan kecurangan secara sistematis


Ternyata kalau kita telisik lebih dalam, negri ini tidak hanya melakukan oplosan dalam masalah perdagangan, akan tetapi sistem kehidupan yang dipakai  saat ini merupakan hasil dari adopsi dari berbagai ideologi.Mulai dari yakni ideologi  kapitalisme, sosialisme dan sedikit mengambil ideologi Islam dari aspek ibadah ritual. Maka,layak negri ini punya sebutan sebagai negeri oplosan. 

Maka tidak heran, banyaknya permasalahan yang menimpa negeri ini adalah hasil dari penerapan sistem ekonomi Kapitalisme dengan asas liebralismenya, para korporat mendapat karpet merah untuk menguasai rantai distribusi pangan (hulu hingga hilir). Apalagi proyek DANANTARA juga menjadi angin segar bagi korporasi untuk dapat kucuran investasi untuk mengelola kekayaan alam hulu hingga hilir.Jadi lengkap sudah penderitaan rakyat bawah.Mirisnya,Negara hanya bertindak sebagai regulator dan fasilitator. Paradigma kapitalisme menjadikan negara abai terhadap tanggung jawabnya sebagai pengurus dan pelayan umat.


Sistem Islam sebagai penjaga


Islam menetapkan pengaturan hajat hidup rakyat berada di bawah kendali penguasa. Sebab pemimpin adalah raa’in atau pengurus umat.seperti sabda Rasulullah SAW;

Imam (Khalifah/kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya atas rakyat yang diurusnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).


Adapun dalam sistem Islam,paradigma dalam mengurus rakyat adalah pelayanan, bukan bisnis atau keuntungan. Pemenuhan kebutuhan pokok salah satunya adalah pangan(yang memenuhi standar gizi seimbang) menjadi tanggung jawab negara dengan berbagai mekanisme sesuai syariat. Tidak boleh diserahkan kepada korporasi, hulu hingga hilir.

Selain menjaga pasokan produk pangan seperti minyakita, negara wajib mengawasi rantai distribusi dan menghilangkan segala penyebab distorsi pasar. Qadhi hisbah akan melakukan inspeksi pasar. Jika ditemui ada kecurangan seperti kasus minyakita oplosan, negara akan memberikan sanksi tegas, bahkan pelaku bisa dilarang melakukan usaha produksi hingga perdagangan.


Kesimpulan


Hanya dengan mencampakkan seluruh sistem kehidupan yang dibuat oleh manusia karena sifatnya lemah dan terbatas, dan mengganti sistem kapitalisme sosialisme yang sudah rapuh dari akarnya,maka negri ini akan kembali kepada kemuliaannya,menjadikan sistem Islam sebagai satu-satunya solusi kongkrit untuk keluar dari keterpurukan dan ketidakadilan yang terus terjadi.

Dengan demikian,sudah saatnya umat segera menyadari kesalahannya, dan bersegera mengambil ideologi Islam sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan. 


WaAllahu a'lam bi-Ashowwab. 


Penulis;Miratul Hasanah (Pemerhati masalah kebijakan publik)

×
Berita Terbaru Update