Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gaza Sambut Ramadan di Tengah Genosida yang Berkelanjutan

Thursday, March 20, 2025 | Thursday, March 20, 2025 WIB

 


Oleh : Asma Sulistiawati (Pegiat Literasi) 


Menjelang Ramadan, warga Gaza dilanda kesedihan yang mendalam. Dampak gencatan senjata tidak membawa kelegaan yang mereka harapkan. Meskipun bulan suci ini biasanya menjadi waktu kegembiraan dan pemenuhan spiritual bagi umat Islam, hati warga Gaza tetap diliputi kesedihan atas banyaknya anggota keluarga yang hilang akibat genosida. Bayang-bayang genosida yang dilakukan oleh pasukan Zionis tampak besar, merusak rasa perayaan apa pun.


Menambah kesedihan mereka, warga Gaza menghadapi pengkhianatan yang terus berlanjut. Meskipun kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan gencatan senjata, kenyataannya mereka terus dirusak oleh tindakan agresi. Sementara itu, ambisi mantan Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok wilayah Palestina yang signifikan dan merelokasi paksa 2,4 juta warga Palestina menghadirkan ancaman serius. Rencana jahat ini telah mendorong pertemuan di antara para pemimpin tujuh negara Arab di Arab Saudi, tempat mereka berkumpul untuk menyusun strategi melawan usulan Trump.  Seperti yang dicatat oleh pakar kebijakan luar negeri Saudi Umer Karim, pertemuan ini merupakan salah satu yang paling penting dalam beberapa dekade terakhir terkait dunia Arab dan masalah Palestina.(kompasid, 22/02/2025) 


Namun, terlepas dari diskusi mereka, para pemimpin Arab sering kali menggunakan retorika dan kecaman alih-alih tindakan nyata. Pertemuan mereka lebih tampak seperti upaya hubungan masyarakat daripada inisiatif serius, karena mereka sebagian besar tetap berpihak pada Amerika Serikat dan lembaga-lembaga yang telah diciptakannya. Kesetiaan ini membutakan mereka terhadap kenyataan bahwa AS memainkan peran penting dalam mendirikan negara Israel, sehingga melanggengkan kekacauan di dunia Islam.


Nasib warga Gaza merupakan lambang perjuangan yang lebih luas yang dihadapi oleh umat Islam di seluruh dunia. Menjelang keindahan Ramadan, banyak yang kehilangan kedamaian yang biasanya dihadirkan oleh ibadah, dibayangi oleh ancaman kekerasan yang terus-menerus. Di manakah para pemimpin Muslim yang seharusnya membela saudara-saudari seiman mereka? Apakah mereka puas dengan sekadar kata-kata kritik dan kecaman, tanpa keinginan untuk mengambil tindakan yang substansial?  Mereka harus mengingat ajaran Nabi Muhammad (saw): "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh mengkhianati, berbohong, atau mengabaikan saudaranya" (Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi).


Situasi ini muncul dari kurangnya kepemimpinan yang kuat di kalangan Muslim, karena banyak penguasa tetap diam atau terlibat dalam mendukung agenda Zionis. Sangat penting bagi umat Islam untuk mengakui perlunya kepemimpinan yang tegas untuk menghadapi dan akhirnya mengusir penjajah dari tanah Palestina. Mengakui ketiadaan kepemimpinan ini berarti menerima penderitaan yang terus berlanjut dari saudara-saudari kita di Gaza. Sebuah ketidakadilan yang tidak dapat diabaikan oleh setiap Muslim yang beriman.


Umat Islam terpecah-pecah atas dasar nasionalisme setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, hilangnya junnah yang selalu melindungi kaum muslim telah mengakibatkan umat Islam lemah, padahal jumlahnya sangatlah banyak namun bagaikan buih di lautan. Banyak umat Islam sekarang mengalami penindasan, menjadi pion dalam permainan geopolitik yang dimainkan oleh negara-negara Barat. Penderitaan ini tidak terbatas pada Palestina.  Hal ini meluas hingga Suriah, Uyghur di Cina, Irak, Afghanistan, dan Rohingya, yang semuanya menghadapi kesulitan yang mengerikan. Semua ini karena ketiadaan Khilafah, sang raa'in dan junnah bagi rakyatnya. Umat Islam pun Kehilangan kewibawaannya begitu pula para pemimpinnya.


Pembentukan Khilafah akan menandai era baru bagi umat Islam, yang memungkinkan mereka muncul sebagai "khairu ummah," atau umat terbaik. Dengan penerapan hukum Islam secara menyeluruh, negara-negara Muslim akan berkembang pesat, bebas dari rasa takut akan embargo ekonomi dan sanksi yang dijatuhkan oleh kekuatan eksternal seperti Amerika Serikat. Khilafah akan memastikan bahwa sumber daya alam dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, mencegah kendali asing, dan menjaganya dari orang-orang yang tidak beriman. Kekayaan yang dihasilkan akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduk, seperti menyediakan pendidikan gratis, layanan kesehatan, dan layanan penting lainnya.


Umat Islam harus bersatu dan membebaskan pikiran mereka dari ideologi asing yang telah masuk ke masyarakat. Penjajahan dan penindasan yang sedang berlangsung di Palestina harus dihadapi. Insiden seperti penderitaan yang dihadapi keluarga Yasir tidak boleh terulang kembali. Perjuangan yang sedang berlangsung ini menyoroti kebutuhan kritis akan kepemimpinan Islam. Umat Islam harus diingatkan untuk kembali kepada prinsip dan hukum Islam, karena melalui prinsip dan hukum inilah manfaat sejati dapat diwujudkan bagi seluruh umat manusia.


 Kini saatnya bagi umat Islam untuk bersatu dan merebut kembali kehormatan Islam dengan menegakkan kembali Khilafah ‘ala Minhaj an Nubuwwah. Ini adalah tugas suci bagi seluruh umat Islam, karena dukungan dan kemenangan sejati tidak dapat diraih tanpa memenuhi kewajiban agama mereka. Kebutuhan akan Khilafah sangatlah penting ia akan melindungi umat Islam dari berbagai ancaman, termasuk pembebasan rakyat Palestina dari penindasan. Mari kita berharap bahwa Ramadan ini adalah Ramadan terakhir yang kita jalani tanpa Khilafah.


Wallahu a'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update