Oleh : Reshi Umi Hani
Meningkatnya prevalensi stunting di Bontang menjadi atensi tersendiri bagi pemerintah daerah. Sejumlah upaya pun bakal dilakukan. Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Bontang Dasuki mengatakan, penanganan stunting bakal dilakukan by data. Selanjutnya, pihaknya turut mengagas pemberian makanan tambahan (PMT) yang dilakukan oleh seluruh aparatur sipil negara (ASN).
Stunting adalah indikator tinggi badan menurut umur dan akhirnya berdampak pada rendahnya kemampuan anak untuk belajar, keterbelakangan mental, dan munculnya penyakit kronis yang lebih mudah masuk ke tubuh anak.
Stunting sendiri jelas-jelas merupakan indikator buruknya kuantitas dan kualitas pangan pada anak. Tingkat stunting semakin tinggi dan pencarian solusi pemerintah pun tidak kendur dan lintas sektor. Salah satunya dengan program pemberian makanan tambahan (PMT) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.
PMT yang dilakukan ASN sebenarnya bukan solusi tepat, karena banyak faktor penyebab stunting. PMT dapat dikatakan hanyalah solusi parsial dari permasalahan stunting, sebab tumbuh kembang dan pemenuhan gizi anak tentunya berkaitan dengan banyak aspek, yang membentuk suatu sistem yang saling terhubung dari hulu ke hilir.
Meskipun secara umum tergambar bahwa upaya dan program pemerintah—misalnya program Akses Pencarian Pengobatan Balita Sakit, Pemberian Makanan Tambahan Balita dan Ibu Hamil, Akses Sanitasi Layak, Ketahanan Pangan Balita dan Keluarga—ternyata memadai dan berhasil. Namun, jika ditelaah lebih dalam, sebenarnya ada yang mengkhawatirkan karena angka underweight (berat badan menurut umur) dan wasting (berat badan menurut tinggi badan) justru naik.
Setidaknya terdapat empat faktor penyebab stunting selain gizi buruk. Pertama, praktik pengasuhan kurang baik. Kedua, terbatasnya layanan kesehatan selama masa kehamilan ibu. Ketiga, kurangnya akses keluarga ke makanan bergizi. Keempat, terbatasnya akses ke air bersih dan sanitasi.
Oleh karena itu, sebelum bicara penurunan stunting, kita harus mencermati akar munculnya gizi buruk, sanitasi buruk, infrastruktur kesehatan yang kurang memadai, pendidikan atau literasi rendah, dan sebagainya.
Meski antara kemiskinan dan stunting tidak selalu berkorelasi, kondisi ekonomi keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan lebih rentan dan berisiko mengalami stunting. Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan pemenuhan gizi dan nutrisi seimbang bagi ibu dan bayi dengan harga terjangkau, akses dan layanan kesehatan, serta sanitasi yang layak dan air bersih.
Ditambah peran negara yang berjalan lambat dan kurang serius, apalagi jika program pencegahan stunting dibumbui dengan penyalahgunaan anggaran. Semisal, pemberian makanan tambahan yang mestinya mengandung sumber protein penting bagi pertumbuhan badan, hanya terwakili dengan pemberian biskuit dan susu dalam kegiatan posyandu.
Menyelesaikan stunting haruslah dilakukan secara fundamental dan menyeluruh. Stunting tidak akan selesai tuntas dengan menyolusi masalah-masalah cabangnya saja, semisal pemberian tambahan makanan, susu gratis, atau makan siang gratis. Stunting ada karena ada masalah utama yang mendasarinya sehingga harus ditangani dengan tepat dan benar.
Peran negara yang begitu minim terhadap distribusi pangan, sejatinya tidak bisa dilepaskan dari paradigma kapitalisme yang menjadi landasan tata kelola negeri ini. Sistem ini memang memosisikan negara sebatas regulator, sedangkan seluruh urusan rakyat diserahkan pada swasta. Urusan pangan pun, dari mulai hulu hingga hilir, sebagian besar diurus swasta.
Sistem demokrasi kapitalistik ini pun kemudian hubungan rakyat dan penguasa layaknya penjual dan pembeli. Rakyat membeli sejumlah kebutuhan hidup kepada penguasa melalui mekanisme pajak. Sebaliknya, penguasa menjual sejumlah fasilitas hidup, termasuk pangan melalui berbagai kebijakannya. Jadilah pemberian bantuan kepada rakyat miskin diserupakan beban yang harus dibayar setimpal.
ini berbeda dengan sistem Islam. “Ekonomi Islam memastikan pangan bergizi harus dapat diakses oleh setiap individu. Islam akan menjadikan seorang pemimpin menerapkan sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi ini akan melahirkan kebijakan yang benar dalam pengelolaan, pendapatan, sampai seluruh transaksi harus berdasarkan pada Islam. Tidak hanya penyelesain masalah stunting dari aspek ekonomi saja, namun islam akan menyelesaikan semua akar permasalahan yang ada baik dari segi pendidikan, kesehatan dan sebagainya.
Masalah stunting bukan hanya menjadi beban keluarga, melainkan merupakan tanggung jawab negara sebagai pelayan rakyat yang bertugas menjamin dan memenuhi kebutuhan mereka secara optimal. Stunting merupakan masalah sistemis yang multidimensi sehingga dibutuhkan solusi sistemis dan holistis.
Semua itu bisa terwujud dengan paradigma kepemimpinan dan sistem yang mengikuti aturan Maha Pencipta, yaitu Islam kafah. Jika masih menggunakan paradigma kapitalisme, pencegahan stunting tidak akan berjalan efektif sebab fungsi negara dalam kacamata kapitalisme hanya sebagai regulator kebijakan, bukan pelayanan.
Wallahualam bissawab.