Oleh Rizka Adiatmadja
(Praktisi Homeschooling)
Palestina tak pernah berhenti dari nestapa. Penjajahan yang sadis seharusnya sudah menggerakkan pembelaan dunia. Mengapa hingga detik ini Palestina sendirian tanpa perlindungan? Setiap kedipan mata korban jiwa terus bertambah. Tanpa perisai dan mati secara keji di tangan penjajah.
Kalimat “All Eyes on Rafah” tak berhenti diunggah. Slogan yang akhir-akhir ini viral, belum mampu menghentikan kekejian sang penjagal. Entitas penjajah Yahudi yang bengis, tak pernah sedikit pun beranjak dari hegemoninya menguasai Palestina menancapkan sejarah demi sejarah genosida yang tragis.
Masyarakat dunia memang tidak diam. Suara protes begitu membahana, mengutuk kebiadaban entitas penjajah Yahudi yang kejam. Namun, semua upaya besar tersebut tak sedikit pun bisa mengerahkan pasukan tentara setiap negara untuk membela Palestina. Ada apa di balik semua?
Dikutip dari bbc.com – Insiden yang melahirkan korban jiwa yang tak sedikit, terjadi di Rafah awal pekan ini yang membuat orang-orang mengunggah rekaman video Richard Peeperkorn, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia di wilayah Palestina yang diduduki entitas penjajah Yahudi.
Richard Peeperkorn mengatakan kepada wartawan di bulan Februari. “Semua mata tertuju pada Rafah” semua mengacu pada pasukan tentara entitas penjajah Yahudi.
Dari markas besar PBB di Jenewa, Peeperkorn mengaku khawatir “bencana yang tak terbayangkan” jika tentara entitas penjajah Yahudi melakukan serangan besar-besaran ke kota tersebut. (31 Mei 2024)
Ya, serangan entitas penjajah Yahudi pada Ahad 26 Mei 2024, yang mengakibatkan kebakaran 14 tenda pengungsi di distrik Tel Al-Sultan, Kota Rafah. Serangan tersebut menewaskan 45 orang dan 249 yang terluka. Dua hari kemudian, tentara penjajah melakukan penembakan ke kamp pengungsi Al Mawasi, di sebelah barat Rafah, korban tewas setidaknya ada 21 orang, termasuk 12 perempuan.
Gelombang protes masyarakat dunia tak membuat entitas penjajah Yahudi yang keji berhenti, serangan tetap dilakukan pada Kamis, 30 Mei 2024 dan menewaskan 12 orang. Dari sejak 30 Oktober 2023, Gaza dibombardir. 36.171 warga Palestina tewas dan 81.420 lainnya terluka.
Kota Rafah adalah persinggahan terakhir bagi rakyat Palestina untuk mengungsi. Kota yang sempat diklaim sebagai kawasan paling aman dari militer entitas penjajah Yahudi. Kini, kota tersebut tidak lagi aman. Rusak dan hanya berupa reruntuhan bangunan yang menyisakan kenangan. Gaza menjadi kawasan yang mati, tak ada tempat yang bisa menjadikan anak-anak dan perempuan terlindungi.
Penjajah bengis yang kerap berdalih menyerang ganas karena ingin menghancurkan Hamas. Ternyata semua dusta. Seyogianya keruntuhan wilayah Gaza adalah tujuan utama mereka.
Pro Palestina membahana dari berbagai negara, tak terkecuali AS, Australia, Inggris, Prancis, India, dan Kanada. Nestapa yang dialami Palestina adalah derita kita semua. Bagi kaum muslim, membela Palestina adalah kewajiban. Bahkan pembelaan dari nonmuslim bukan serta-merta tanpa makna. Namun, sisi kemanusiaan yang bergerak nyata karena entitas penjajah Yahudi benar-benar keji dan tidak manusiawi.
Kesadaran yang terbentuk dari berbagai belahan dunia memberikan gelombang positif bahwa kondisi Palestina adalah masalah global yang harus diselesaikan secara masif. Akidah Islam yang kuat mampu membentuk persatuan dan memberikan spirit kebangkitan yang nyata bahwa Palestina telah menjadi sebuah tolok ukur, betapa pentingnya umat Islam punya perisai hakiki dan menyeluruh yang bisa mempersatukan muslim dunia.
Sekat negara bangsa telah menguatkan penjajahan berpuluh tahun lamanya yang dilakukan entitas penjajah Yahudi terhadap Palestina. Tembok yang begitu tinggi dan membatasi para pemimpin negeri-negeri muslim untuk mengirimkan bala tentara adalah negara yang tersekat-sekat.
Hendaknya kita tak melupakan sejarah, bagaimana sekat negara bangsa telah menghancurkan sistem Islam/Daulah Utsmaniah. Umat Islam terpisah-pisah hingga menjadi 50 negara muslim. Terpecah belah akibat pengaruh sukuisme hingga akhirnya Mustafa Kemal Ataturk sebagai agen Inggris berhasil membentuk negara Turki yang sekuler hingga perisai besar umat Islam dunia itu hancur pada tahun 1924.
Malapetaka mengerikan yang terjadi di Palestina diakibatkan oleh hancurnya sistem Islam. Entitas penjajah Yahudi akhirnya bisa bermigrasi secara masif. Dari mengambil sedikit lahan, kemudian menjadi penguasaan di beberapa wilayah, hingga akhirnya mampu menjajah.
Solusi untuk penjajahan dan genosida yang terjadi di Palestina hanyalah dengan jihad fi sabilillah. Jihad tentu butuh penopang yang tangguh yakni tegaknya sistem Islam yang kompatibel dengan syariat Islam. Pembebasan Palestina tidak bisa kita harapkan dari PBB, terlebih hanya perundingan demi perundingan yang berbungkus kelicikan.
Umat Islam harus bersatu dalam naungan sistem Islam. Palestina butuh kekuatan dan hari ini militer tidak bisa dikerahkan, selama kapitalisme dan sekularisme menjajah keberlangsungan kehidupan di dunia. Seperti buih yang begitu banyak di lautan, begitulah keberadaan negeri-negeri muslim. Terjerat tipu daya penjajah adidaya yang mengharuskan setiap negara masuk organisasi yang diciptakan mereka.
Pengusung HAM dan konon katanya memperjuangkan perdamaian dunia, seperti PBB. Jeratan kolonialisme tersebut sangat melumpuhkan. Hingga para pemimpin negeri-negeri muslim hanya mampu merutuk dan mengecam. Bahkan masyarakat dibuat geram dengan ketidakberdayaan tersebut. Gelombang boikot dilakukan meskipun semua tahu jika itu bukan solusi mendasar.
Kepemimpinan dunia yang sudah berhasil dicontohkan Rasulullah saw., khulafaurasyidin, para khalifah setelahnya–yang terbukti mampu memberi keadilan dan kesejahteraan–seharusnya itu yang kita lanjutkan. Sejatinya, bahasa yang paling dipahami oleh penjajah entitas Yahudi adalah perang. Berkali-kali melakukan perundingan, tetapi pengkhianatan terus-menerus dan susah dihentikan.
“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitulmaqdis) yang telah Allah tentukan bagimu dan janganlah berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah: 21)
Jika berkata tentang persatuan umat Islam, kerap kali kita sebagai umat Islam sendiri sering meragukan tegaknya sistem Islam secara menyeluruh, ada juga yang mengatakan, jika tegaknya sistem Islam itu urusan Allah, kita tidak perlu memperjuangkannya. Banyak lagi mengatakan, jika kembalinya sistem Islam adalah mimpi di siang bolong atau ekspektasi utopis.
Jika bukan kita yang berjuang membela Palestina, siapa lagi? Pembelaan untuk Palestina yang sesungguhnya hanya bisa diwujudkan dengan sistem Islam kafah yang mampu menjaga kehormatan dan nyawa umat Islam.
Wallahualam bissawab.