Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Penderitaan Perempuan Dibalik Kenaikan Indeks Pembangunan Gender

Sunday, January 14, 2024 | January 14, 2024 WIB Last Updated 2024-01-14T04:37:12Z


Oleh : Wa Ode Vivin 
(aktivis muslimah)


Narasi-narasi pemberdyaan perempuan melalui pembangunan gender telah berhasil menciptakan ilusi bagi kaum perempuan. Berbagai istilah pun dimanipulasi, seperti pemberdayaan perempuan agar menjadi mandiri sehingga para kaum perempuan tidak merasa sedang dieksploitasi.


Dilansir dari Jakarta ANTARA, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyatakan bahwa selama 2023, perempuan semakin berdaya yang ditunjukkan dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Gender. Pembangunan yg dimaksud ialah, "mampu memberikan sumbangan pendapatan signifikan bagi keluarga, menduduki posisi strategis di tempat kerja, dan terlibat dalam politik pembangunan dengan meningkatnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. kata Deputi Bidang Kesetaraan Gender KemenPPPA Lenny N Rosalin dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.


Perempuan dianggap semakin berdaya dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Gender. Padahal sejatinya perempuan makin banyak mendapatkan permasalahan dalam hidupnya. 


Tingginya angka perceraian, KDRT, kekerasan seksual pembunuhan menjadi bukti perempuan makin menderita. 


Mirisnya, dari maraknya kekerasan yg dialami oleh kaum perempuan, selalunya solusi yang ditawarkan oleh pegiat gender adalah kesetaraan gender. Berbagai kekerasan kerap kali dikaitkan dengan isu gender. Penyelesaian berbasis gender pun disodorkan demi menuntaskan problem tersebut. 


Jika ditelisik lebih mendalam, kesetaraan gender merupakan perwujudan cara pandang liberal yang terlahir dari doktrin sekuler Barat. Ide ini muncul akibat penderitaan kaum perempuan yang mengalami ketidakadilan dan perampasan hak-haknya di negara-negara Barat dan Eropa di bawah buruknya sistem sekuler. Cara pandang liberal dalam sistem sekuler yang mengedepankan kebebasan berperilaku, dan memisahkan agama dari kehidupan. 


Perjuangan perempuan telah membentur dinding utopis. Karena secara fakta historis, selama peradaban sekuler kapitalisme, sepanjang sejarah bangsa-bangsa Barat tidak pernah ditemukan kemuliaan kaum perempuan di dalamnya, saat itu perempuan tidak lebih sekadar objek sensualitas bagi mereka. 


Oleh karena itu, meningkatnya indeks pembangunan gender sebagai bentuk kesetaraan bagi kaum perempuan, bukan  solusi merdekanya perempuan dari segala macam penindasan.


Dalam sistem kehidupan hari ini, terdapat kesalahan paradigma dalam melihat perempuan dan solusinya.


Nilai individualisme dan kebebasan begitu dijunjung tinggi hingga mengesampingkan baik dan buruk. Ini jelas menyebabkan kerusakan perilaku pada masyarakat. Kapitalisme sekuler tentu lebih mengutamakan kesenangan individu dibanding maslahat masyarakat. Buktinya, dalam sistem ini banyak bermunculan industri hiburan yang mana menjadikan wanita sebagai komoditi yang diperjualbelikan. Hingga kini hukum dalam kapitalisme tidak mampu membasmi problem tersebut. Bahkan, industri hiburan prostitusi dan seks justru salah satu industri yang meraup keuntungan tertinggi. 


Dalam sistem saat ini, Menjadi perempuan berdaya akan selalu mendapatkan apresiasi dari sistem kapitalis sekuler, sehingga menjauhkan peran utamanya sebagai perempuan. Perempuan yang mampu dan berdaya justru merasa terhormat dan berharga. Ketika mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah dan berkarir di bidangnya, bahkan menempati jabatan tertinggi di negeri ini. Yah, bagi perempuan yang menjunjung tinggi sistem ini, sudah pasti mereka akan terus mengekspos dirinya menjadi garda terdepan. Apakah ini akan memberikan kesetaraan bagi perempuan secara hakiki?. Bagaimana islam menyelesaikan problematika kesetaraan bagi perempuan?


Islam menjadikan perempuan mulia dan kehormatan yang harus dijaga. Bekerja bagi perempuan adalah mubah, maka hal tersebut adalah pilihan, bukan sebuah kewajiban yang dibebankan kepadanya. Kalaupun perempuan bekerja semata-mata untuk menyalurkan ilmu atau ketrampilan yang dimiliki nya, bukan sebagai tulang punggung. Sangat berbeda jauh dengan wajah perempuan dalam sistem kapitalis sekuler saat ini.


Islam memiliki berbagai mekanisme untuk menjadikan  perempuan sejahtera dan tetap terjaga fitrahnya. 


Dalam skala individu, Islam memuliakan perempuan melalui perintah menutup aurat dengan sempurna sesuai syariat dan juga larangan bertabaruj. Islam mewajibkan negara untuk membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya untuk kaum laki-laki. Hal tersebut demi memfasilitasi mereka menjalankan kewajiban yang dibebankan syariat, yaitu mencari nafkah.


Islam juga tidak akan mengekploitasi tenaga perempuan demi mencari keuntungan. Sebab, hakikatnya tugas utama wanita adalah di ranah domestik. Yaitu melayani suaminya, mengurus dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan mengelola rumah tangga.


Sudah saatnya kita kembali kepada Islam, kembali kepada sistem yang haq. Tidak menjadi umat pembebek yang selalu mengikuti Barat. Selalu menomorsatukan Barat, seolah-olah peradaban Barat adalah yang terbaik dan patut untuk ditiru. Padahal Barat sendiri yang membuat berbagai problematika terjadi di muka bumi ini. Mari kembali pada Islam, kembali terapkan sistem Khilafah Islamiyyah sebagai solusi dari masalah ummat.


Wallahu a'lam bishshawab.

×
Berita Terbaru Update