Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Paradoks Sikap Muslim di Pergantian Tahun

Sunday, January 14, 2024 | January 14, 2024 WIB Last Updated 2024-01-14T02:19:43Z


Oleh : Dewi Putri, S.Pd


Perayaan malam tahun baru biasanya identik dengan pesta kembang api. Masyarakat berbondong-bondong untuk menyaksikan pesta kembang api yang diluncurkan pada detik-detik pergantian tahun. Jalanan pun akan macet pada malam pergantian tahun. Pesta kembang api jadi acara yang tidak ingin dilewatkan ketika malam Tahun Baru berlangsung. Malam Tahun Baru memang identik dengan pesta kembang api. Warga akan mengajak keluarga dan orang-orang terdekat untuk merayakan sambil menyaksikan keindahan dan kemeriahan pesta kembang api malam Tahun Baru. (cnnindonesiacom, 31/12/2023).


Sangat miris di pergantian tahun ini nampak nyata paradoks kaum muslim bersikap, pesta kembang api diadakan di setiap negeri kaum muslimin demi untuk menyambut pergantian tahu baru. Padahal di saat yang sama saudara seakidah kita di Gaza dibayang-bayangi oleh kekejian Etnis Yahudi. Ribuan hingga jutaan korban warga Gaza berpekan-pekan di bom dan dipaksa keluar dari rumahnya. 


Begitupula kekejaman yang dialami oleh saudara kita di Rohingya. Gelombang pengungsi semakin tinggi dan tidak bisa diselesaikan secara sektoral. Masalah pengungsian sebenarnya adalah masalah turunan, pangkal persoalannya adalah penjajahan. Muslim Rohingya dan Palestina diusir di tanahnya sendiri. Kekayaaan mereka dirampas, rumah mereka dibakar. 


Ini sama halnya menunjukkan suatu bentuk abainya negara terhadap kaum muslim. Sikap umat mulai kendor dalam menyuarakan pembelaan terhadap Palestina serta aksi pemboikotan produk dari zionis Yahudi.


Umat Islam mulai terpecah menyikapi muslim Rohingya. Ditambah lagi makin kuatnya pembungkaman pada akun yang menunjukkan pembelaan terhadap Palestina. Inilah sekat-sekat nasionalisme, yang tertancap kuat dalam benak kaum muslim. Adanya ikatan ini ialah lahir dari pemikiran barat. Sengaja pemahaman ini disebar pada negeri-negeri kaum muslim agar mereka mencintai hanya pada wilayah masing-masing. 


Ikatan ini semakin diperkuat dengan adanya pemecahan kaum muslimin dalam bentuk nation state.

Dalam nasionalisme, perasaan akan aman karena tidak ada ancaman dan merasa menjadi pahlawan ketika gangguan datang. Sehingga tidak heran bagi kita ketika ada pembelaan kepada kaum muslim Palestina hanya temporer saja. Adanya pembelaan karena muncul dari rasa peduli dan empati. Ketika informasi terkait Palestina tidak lagi masif pembelaaan pun terhenti.


Sebagai umat muslim, harus menyadari bahwa umat muslim Palestina, Rohingya dan lain-lain adalah saudara kita, ibarat satu tubuh yang apabila satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lain pun akan terasa sakit.  Perasaan ini harus muncul karena adanya dorongan akidah Islam, bukan karena adanya rasa empati dan peduli.


Ikatan ukhuwah islamiyyah yang lahir dari keimanan, maka ketika kaum muslim yang lain merasa terluka dan terdzalimi maka kita kaum muslimbpun merasa terluka karena tubuh kaum muslim yang lain terluka. Realisasi rasa sakit mengantarkan sikap pembelaan, pertolongan dan sikap yang nyata kepada saudara yang tertindas dan terdzalimi. Pembelaan dan pertolongan bisa dilakukan dengan aktivitas -aktivitas personal. Salah satunya mengirim bantuan kemanusiaan,  bantuan dan pertolongan ini tidak akan cukup dan bukan solusi hakiki, bukan bencana kemanusiaan namun penjajahan. Yang mereka butuhkan ialah hanya bantuan tentara. 


Kaum muslimin wajib berjihad membela sudara di Palestina, organisir pasukan tidak akan mungkin terjadi tanpa ada yang mengaturnya.

Mereka butuh dibantu, diberi perlindungan, diedukasi dan diberi suara serta keamanan.


Tindakan tersebut tidak bisa di lakukan oleh personal saja melainkan adanya peran sebuah negara. Negara yang bisa menyelamatkan kaum muslimin hanya satu yakni Daulah Islamiyah.  Daulah islamiyyah yakni menjadi pelindung dan perisai. Perisai bermakna pelindung bagi orang - orang di belakangnya. Seorang imam menjadi sebuah perisai melindungi warga negaranya. 


Negara memerintahkan kepada seluruh pasukan militer untuk mengorganisasi tentara,  menjaga perbatasan, serta menyerukan jihad fi sabilillah. Umat Islam sangat membutuhkan khilafah untuk menjaga institusi negara yakni warisan dari Rasulullah Saw pembela dan pelindung kaum muslimin dimana pun.


Sehingga hanya negara Islamlah yang mampu mengorganisir pasukan untuk dikirimkan ke Palestina untuk mengusir Yahudi. Mengirimkan pasukan untuk berjihad pada  Myanmar sebagai balasan kebiadaban mereka terhadap muslim Rohingnya. Dengan demikian, kaum muslim akan selamat, bebas dari penindasan.


Wallahu'alam.

×
Berita Terbaru Update