Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Paradoks Sikap Muslim di Perayaan Tahun Baru Masehi

Sunday, January 14, 2024 | January 14, 2024 WIB Last Updated 2024-01-14T04:20:32Z


Oleh: Kursiyah Azis 
( Pegiat Literasi)



Tahun 2023 Masehi baru saja berlalu. Hal tersebut di tandai dengan pesta kembang api yang memekakkan telinga sekaligus membuat mata terpana ketika melihat ke arah langit pada malam hari di detik-detik pergantian tahun baru.


Meskipun ia bukan bagian dari hari raya umat Islam, namun tetap saja yang paling tampak semangat turut memeriahkan pesta kembang api sebagian besar adalah mereka yang mengaku muslim, padahal di berbagai belahan bumi, begitu banyak saudara muslim lainnya yang tengah di rundung duka akibat ulah para penjajah kafir yang tak punya hati.


Di antara mereka ada yang di bom, di bantai, hingga di usir dari negeri mereka sendiri disertai segala macam kriminalisasi dari berbagai pihak.


Namun mirisnya, di berbagai negara yang berpenduduk mayoritas Muslim justru hanyut dalam pesta pora pada malam pergantian tahun baru. 


*Toleransi kebablasan*


Nyaris setiap menjelang perayaan tahun baru Masehi yang di awali dengan hari natal.Kata Toleransi kerapkali menjadi alasan utama yang di sodorkan khususnya terhadap umat Islam.

Seolah Narasi tersebut merupakan tolak ukur seberapa jauh sikap toleran umat Islam terhadap kaum kafir.


Padahal toleransi yang sesungguhnya adalah sikap membiarkan agama lain melakukan ritual agamanya tanpa campur tangan kita sebagai kaum muslim. Bukan justru memberikan ucapan selamat apalagi sampai turut memeriahkannya hingga larut dalam pesta dan hura-hura semalaman.


*Terjebak ide pluralisme*


Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman suku, budaya dan agama. Sehingga ide pluralisme begitu mudah menyusup ke dalam hati sebagian besar kaum muslim, di tambah pula sistem yang di terapkan untuk mengatur kehidupan manusia mengharuskan  pemisahan agama dari kehidupan itu sendiri, dan negara pun mendukung sekaligus memfasilitasi berkembangnya ide tersebut.


Walhasil setiap perayaan hari besar kaum kafir, sebagian Muslim dengan mudahnya ikut serta memeriahkan berlangsung perayaan tersebut yang sesungguhnya justru semakin menjauhkan dirinya dari fitrahnya sebagai seorang muslim.


*Antisipasi penjajahan gaya baru*


Penjajah kafir tidak pernah kehabisan akal dalam melakukan penjajahan atas kaum muslim seluruh dunia. Di Indonesia yang notabenenya berpenduduk mayoritas Muslim pun tak luput dari incaran para penjajah. Namun tak seperti yang menimpa muslim palestina, suriah dan Rohingya. Muslim Indonesia justru sedang mengalami penjajahan gaya baru.

Pluralisme agama adalah salah satunya, yakni paham yang menganggap bahwa semua agama adalah sama.


Pluralisme agama merupakan pandangan yang mengakui dan menghargai keberagaman dan keyakinan agama di dalam suatu masyarakat. Sehingga dengan demikian, paham tersebut mengajak seluruh masyarakat tampa terkecual, agar mengakui bahwa ada berbagai macam agama dan keyakinan yang bisa diakui dan dihormati tanpa mengklaim satu agama sebagai yang paling benar.


Padahal telah jelas di dalam Al-Qur'an Surah Al-Imran (3:19) Allah SWT Berfirman, bahwa agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam. Itu artinya Agama yang benar dan di terima oleh sang pencipta memang hanya agama Islam, sehingga dengan begitu, maka agama selain Islam jelas tertolak.


*Islam Agama Sempurna*


 

Para pengusung ide pluralisme sejatinya adalah mereka yang secara terang-terangan menjadi penjajah tak kasat mata. Sehingga tidak berlebihan jika penjajahan gaya baru ini pun tak kalah berbahayanya dengan penjajahan kafir Yahudi atas tanah Palestina dan beberapa negeri berpenduduk mayoritas Muslim lainnya.


Oleh karena itu, maka sudah sepatutnya kaum muslim berbangga atas kebenaran agama yang di anutnya, yakni Islam. Sebab hanya Agama Islamlah satu-satunya agama yang sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT.


Adapun cara menyikapi perayaan agama lain. Islam telah menetapkan batas-batas toleransi yang mesti diperhatikan, sehingga tidak terjadi toleransi yang kebablasan. Namun hal tersebut tentu tidak mudah di lakukan secara individu, di butuhkan peran negara dalam rangka mengimplementasikan  makna toleransi yang sesungguhnya.


Sehingga, dengan demikian maka keberadaan Khalifah sebagai pemimpin dalam sistem Islam sungguh sangat di butuhkan saat ini, agar manusia mampu kembali pada fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Wallahu A'lam Bissawwab.

×
Berita Terbaru Update